Dipublikasikan: 17 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 23 Desember 2025
Dipublikasikan: 17 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 23 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Garuda adalah figur folklor dan mitologis yang sangat penting dalam tradisi Hindu-Buddha serta budaya Nusantara, dikenal sebagai makhluk setengah manusia setengah burung yang melambangkan kekuatan, kesetiaan, dan kebebasan kosmis. Garuda hadir sebagai wahana Dewa Wisnu dalam mitologi Hindu dan berkembang luas dalam berbagai tradisi Asia Selatan dan Asia Tenggara. Dalam kajian folklor, Garuda dipahami sebagai makhluk mitologis pelindung tatanan kosmos yang merepresentasikan perjuangan melawan penindasan, pengabdian tanpa pamrih, serta legitimasi kekuasaan ilahi dan duniawi.
Daftar Isi
Folklor Garuda berakar dari mitologi Hindu yang mengisahkan kelahirannya sebagai putra Resi Kasyapa dan Dewi Winata. Garuda lahir dengan kekuatan luar biasa dan wujud bercahaya, menandakan perannya sebagai makhluk kosmis. Sejak awal, kehidupannya diwarnai konflik antara ibunya, Winata, dan saudara tirinya, Kadru, ibu para naga. Akibat sebuah pertaruhan, Winata menjadi budak Kadru, dan Garuda bertekad membebaskan ibunya dari perbudakan tersebut.
Untuk membebaskan Winata, Garuda harus memenuhi syarat berat dari para naga, yaitu memperoleh Tirta Amerta, air keabadian para dewa. Garuda kemudian menantang para dewa di kahyangan dan menunjukkan kekuatan serta kecerdasannya dalam merebut Amerta. Dewa Wisnu terkesan oleh keberanian dan bakti Garuda, lalu menjadikannya wahana sekaligus memberikan anugerah keabadian.
Dalam berbagai versi folklor Nusantara, Garuda digambarkan sebagai pelindung kebenaran dan musuh utama para naga, simbol penindasan dan kekacauan. Kisah Garuda menekankan nilai pengabdian kepada orang tua, keberanian melawan ketidakadilan, dan kesediaan berkorban demi kehormatan dan kebebasan.
Folklor Garuda termasuk dalam kategori mitos, karena berkaitan langsung dengan dewa-dewi, makhluk kosmis, dan asal-usul tatanan dunia. Dalam klasifikasi folklor, Garuda dapat dikelompokkan sebagai:
Sebagai mitos, Garuda memiliki fungsi sakral dan simbolik yang kuat dalam sistem kepercayaan dan kebudayaan.
Folklor Garuda berkembang dalam konteks kebudayaan Hindu-Buddha India kuno dan menyebar luas ke Asia Tenggara melalui proses indianisasi. Di Nusantara, Garuda mengalami lokalisasi makna dan fungsi, terlihat dari relief candi, naskah kakawin, serta seni pertunjukan tradisional. Garuda tidak hanya dipandang sebagai makhluk mitologis, tetapi juga sebagai lambang kekuasaan, perlindungan, dan legitimasi raja.
Dalam konteks Indonesia modern, Garuda memperoleh makna nasional sebagai lambang negara yang merepresentasikan kemerdekaan, persatuan, dan kekuatan bangsa. Hal ini menunjukkan bagaimana folklor Garuda bertransformasi dari mitos religius menjadi simbol identitas kolektif yang lintas zaman.
Folklor Garuda memiliki berbagai makna dan fungsi penting dalam kebudayaan religius dan sosial, antara lain:
Garuda adalah makhluk mitologis berbentuk burung raksasa yang dikenal luas dalam folklor dan mitologi Nusantara. Ia sering digambarkan sebagai simbol kekuatan, keberanian, dan kesetiaan, serta memiliki peran penting sebagai kendaraan Dewa Wisnu dalam tradisi Hindu.
Dalam berbagai kisah folklor, Garuda berperan sebagai makhluk suci yang melawan kejahatan dan menegakkan keadilan. Cerita tentang Garuda sering mengandung pesan moral mengenai pengorbanan, bakti kepada orang tua, dan perjuangan melawan penindasan.
Garuda menjadi simbol penting karena melambangkan persatuan, kekuatan, dan kebesaran. Nilai-nilai yang melekat pada figur Garuda menjadikannya ikon budaya yang kemudian diangkat sebagai lambang negara Indonesia, mencerminkan identitas dan semangat kebangsaan.