Dipublikasikan: 17 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 23 Desember 2025
Dipublikasikan: 17 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 23 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Cinderella adalah salah satu folklor paling terkenal dan tersebar luas di dunia Barat maupun global, dengan ratusan varian lintas budaya yang telah terdokumentasi sejak berabad-abad lalu. Kisah ini dikenal sebagai cerita tentang penderitaan, ketabahan, dan keadilan moral yang pada akhirnya ditegakkan melalui keberuntungan dan bantuan magis. Dalam kajian folklor internasional, Cinderella dipahami sebagai narasi arketipal mengenai ketimpangan sosial, relasi keluarga yang timpang, serta harapan akan pemulihan martabat manusia melalui kebajikan dan kesabaran. Cerita ini hidup dalam tradisi lisan, manuskrip sastra Eropa, hingga adaptasi modern dalam sastra anak, film, dan budaya populer.
Daftar Isi
Folklor Cinderella mengisahkan seorang gadis muda yang kehilangan ibu kandungnya dan kemudian hidup bersama ayah, ibu tiri, serta dua saudara tiri yang kejam. Setelah ayahnya meninggal atau tidak berdaya, Cinderella diperlakukan sebagai pembantu rumah tangga, dipaksa bekerja keras, dan hidup dalam penghinaan. Julukan “Cinderella” sendiri merujuk pada kebiasaannya tidur di dekat perapian dan abu, simbol keterpurukan sosialnya.
Suatu hari, kerajaan mengadakan pesta besar untuk mencari pasangan bagi sang pangeran. Ibu tiri dan saudara-saudara tirinya menghadiri pesta tersebut, sementara Cinderella dilarang ikut. Dengan bantuan sosok magis, yang dalam banyak versi berupa peri pelindung, Cinderella diberikan pakaian indah, kereta, dan sepatu kaca dengan syarat bahwa semua keajaiban akan berakhir sebelum tengah malam.
Di pesta kerajaan, Cinderella menarik perhatian pangeran, namun harus melarikan diri sebelum waktu habis. Dalam pelariannya, ia meninggalkan satu sepatu kaca. Pangeran kemudian mencari pemilik sepatu tersebut ke seluruh negeri. Setelah melalui berbagai rintangan dan penipuan dari saudara tiri, sepatu itu akhirnya cocok pada kaki Cinderella. Identitas aslinya terungkap, ia menikah dengan pangeran, dan memperoleh kehidupan yang layak sebagai ganjaran atas ketabahan dan kebajikannya.
Folklor Cinderella termasuk dalam kategori dongeng rakyat, khususnya dongeng magis dengan struktur naratif yang kuat dan pola berulang lintas budaya. Dalam klasifikasi folklor internasional, cerita ini dikenal sebagai tipe ATU 510A menurut sistem Aarne–Thompson–Uther. Secara tematis, Cinderella dapat diklasifikasikan sebagai:
Kisah ini tidak dipercaya sebagai peristiwa historis, melainkan sebagai narasi simbolik yang menyampaikan nilai dan harapan kolektif masyarakat.
Folklor Cinderella berkembang dalam konteks masyarakat feodal Eropa, di mana struktur kelas sosial sangat kaku dan mobilitas sosial hampir mustahil tanpa pernikahan atau campur tangan kekuasaan. Cerita ini merefleksikan ketimpangan relasi keluarga, khususnya dalam rumah tangga dengan ibu tiri, serta posisi perempuan yang rentan secara sosial dan ekonomi.
Versi tertulis paling berpengaruh berasal dari Charles Perrault di Prancis pada abad ke-17 dan Grimm Bersaudara di Jerman pada abad ke-19, meskipun varian serupa telah ditemukan dalam cerita rakyat Tiongkok, Timur Tengah, dan Asia Tenggara. Hal ini menunjukkan bahwa Cinderella merupakan arketipe universal yang mengekspresikan harapan akan keadilan, pengakuan, dan pembebasan dari penindasan melalui kebajikan personal.
Folklor Cinderella memiliki berbagai makna dan fungsi penting dalam tradisi budaya dan pendidikan moral, antara lain:
Cinderella adalah tokoh utama dalam cerita rakyat yang berasal dari tradisi Eropa dan dikenal luas di berbagai budaya. Ia digambarkan sebagai seorang gadis baik hati yang diperlakukan tidak adil oleh ibu tiri dan saudara tirinya, namun akhirnya memperoleh kebahagiaan melalui keberanian, ketekunan, dan bantuan ajaib.
Tema utama cerita Cinderella adalah keadilan, harapan, dan kemenangan kebaikan atas kejahatan. Kisah ini menekankan bahwa kesabaran, kerendahan hati, dan moral yang baik pada akhirnya akan membawa perubahan nasib, meskipun seseorang mengalami penindasan.
Cerita Cinderella populer karena memiliki alur sederhana namun kuat secara emosional dan mudah dipahami oleh semua kalangan. Selain itu, cerita ini memiliki banyak versi di berbagai negara, sehingga dianggap sebagai cerita rakyat universal yang mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat lintas budaya.