Dipublikasikan: 17 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 5 Januari 2026
Dipublikasikan: 17 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 5 Januari 2026
Raymond Kelvin Nando — Claude Lévi-Strauss adalah antropolog dan pemikir Prancis abad ke-20 yang dikenal sebagai pendiri strukturalisme dalam antropologi dan salah satu figur intelektual paling berpengaruh dalam ilmu sosial dan humaniora modern. Pemikirannya merevolusi cara memahami kebudayaan, mitos, kekerabatan, dan simbol dengan menekankan adanya struktur-struktur tidak sadar yang mengorganisasi kehidupan sosial manusia. Dengan menggabungkan antropologi, linguistik, dan filsafat, Lévi-Strauss menawarkan visi ilmiah tentang kebudayaan yang menantang humanisme tradisional dan subjektivisme historis.
Daftar Isi
Claude Lévi-Strauss lahir pada tahun 1908 di Brussels dari keluarga Yahudi Prancis dan meninggal pada tahun 2009. Ia menempuh pendidikan filsafat di Paris dan awalnya tertarik pada pemikiran Marx, Freud, dan filsafat rasionalis Prancis. Pada awal kariernya, ia mengajar sosiologi di Brasil dan melakukan penelitian etnografis di wilayah Amazon, pengalaman yang sangat menentukan arah intelektualnya.
Selama Perang Dunia II, Lévi-Strauss mengungsi ke Amerika Serikat dan mengajar di New School for Social Research di New York. Di sana ia berinteraksi dengan tokoh-tokoh penting seperti Roman Jakobson, yang memperkenalkannya pada linguistik struktural. Setelah kembali ke Prancis, ia menempati posisi penting dalam dunia akademik, termasuk di Collège de France, dan menjadi figur sentral dalam perdebatan intelektual Prancis pascaperang.
Pemikiran Lévi-Strauss berangkat dari gagasan bahwa kebudayaan manusia, sebagaimana bahasa, diatur oleh struktur-struktur tidak sadar. Struktur ini bukan ciptaan sadar individu, melainkan sistem relasi yang mendasari praktik sosial, simbol, dan institusi. Antropologi, menurutnya, harus berusaha mengungkap struktur tersebut, bukan sekadar mendeskripsikan kebiasaan empiris suatu masyarakat.
Pendekatan ini menandai pergeseran dari antropologi historis dan evolusionis menuju analisis formal dan relasional.
Dalam kajian kekerabatan, Lévi-Strauss menafsirkan sistem perkawinan sebagai bentuk pertukaran simbolik, terutama pertukaran perempuan antar kelompok. Larangan inses dipahami bukan hanya sebagai norma moral, melainkan sebagai mekanisme struktural yang memungkinkan terbentuknya masyarakat melalui hubungan timbal balik.
Dengan demikian, kekerabatan dilihat sebagai sistem komunikasi yang tunduk pada hukum struktural.
Lévi-Strauss menolak pandangan bahwa masyarakat non-Barat berpikir secara irasional atau pra-logis. Dalam analisis mitos, ia menunjukkan bahwa apa yang disebut “pikiran liar” memiliki rasionalitasnya sendiri, meskipun berbeda dari rasionalitas ilmiah modern.
Mitos dipahami sebagai sistem simbolik yang berfungsi untuk memediasi kontradiksi fundamental dalam pengalaman manusia, seperti alam dan budaya, hidup dan mati, atau mentah dan matang.
Salah satu konsep kunci dalam strukturalisme Lévi-Strauss adalah oposisi biner. Ia berpendapat bahwa pikiran manusia cenderung mengorganisasi makna melalui pasangan berlawanan, yang kemudian dimediasi oleh simbol dan mitos.
Analisis oposisi biner memungkinkan pemahaman sistematis terhadap struktur makna di balik keragaman kebudayaan.
Lévi-Strauss sangat dipengaruhi oleh linguistik struktural Ferdinand de Saussure dan Roman Jakobson. Ia mengadopsi gagasan bahwa makna tidak terletak pada unsur individual, melainkan pada relasi antar unsur dalam suatu sistem.
Dengan mengaplikasikan prinsip linguistik ke dalam antropologi, ia memperkuat klaim bahwa kebudayaan dapat dianalisis secara ilmiah.
Lévi-Strauss bersikap kritis terhadap humanisme yang menempatkan manusia sebagai pusat dan sumber makna mutlak. Ia menekankan bahwa struktur kebudayaan bekerja di luar kesadaran individu dan membatasi kebebasan subjektif.
Pandangan ini sering dipahami sebagai anti-humanis, meskipun Lévi-Strauss melihatnya sebagai upaya untuk memahami manusia secara lebih objektif.
Berbeda dengan pendekatan historis, Lévi-Strauss memprioritaskan analisis sinkronis terhadap struktur. Ia tidak menolak sejarah, tetapi menganggap bahwa struktur memberikan kerangka yang lebih stabil untuk memahami kebudayaan.
Ketegangan antara sejarah dan struktur menjadi salah satu titik perdebatan utama dalam penerimaan karyanya.
Pemikiran Lévi-Strauss memengaruhi berbagai bidang, termasuk antropologi, sosiologi, filsafat, kritik sastra, dan studi budaya. Ia menjadi salah satu figur utama strukturalisme Prancis bersama tokoh-tokoh seperti Michel Foucault dan Roland Barthes.
Meskipun strukturalisme kemudian banyak dikritik, karya Lévi-Strauss tetap menjadi referensi klasik dalam ilmu sosial.
Claude Lévi-Strauss adalah seorang antropolog dan pemikir asal Prancis yang hidup pada abad ke-20. Ia dikenal sebagai tokoh utama strukturalisme dan berperan besar dalam mengembangkan pendekatan ilmiah untuk memahami kebudayaan, mitos, dan sistem kekerabatan manusia.
Kontribusi utama Claude Lévi-Strauss adalah penerapan konsep struktur dalam analisis kebudayaan. Ia berpendapat bahwa pola-pola berpikir manusia bersifat universal dan dapat ditemukan dalam mitos, ritual, serta hubungan sosial di berbagai masyarakat, termasuk masyarakat tradisional.
Pemikiran Claude Lévi-Strauss penting karena memberikan cara baru dalam memahami kebudayaan secara sistematis dan komparatif. Gagasannya memengaruhi antropologi, sosiologi, filsafat, hingga studi sastra, serta membantu menjembatani pemahaman antara masyarakat modern dan tradisional.