Dipublikasikan: 17 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 5 Januari 2026
Dipublikasikan: 17 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 5 Januari 2026
Raymond Kelvin Nando — Wilhelm Dilthey adalah filsuf Jerman abad ke-19 dan awal abad ke-20 yang memainkan peran fundamental dalam pembentukan filsafat ilmu-ilmu kemanusiaan (Geisteswissenschaften). Ia dikenal sebagai pemikir yang berupaya membedakan secara tegas metode dan tujuan ilmu kemanusiaan dari ilmu alam, serta mengembangkan hermeneutika sebagai dasar epistemologis bagi pemahaman sejarah, budaya, dan kehidupan manusia. Dilthey menempatkan pengalaman hidup (Erlebnis) sebagai pusat refleksi filosofis, menjadikannya salah satu pelopor pendekatan historis dan interpretatif dalam filsafat modern.
Daftar Isi
Wilhelm Dilthey lahir pada tahun 1833 di Biebrich, wilayah Hessen, Jerman, dan meninggal pada tahun 1911. Ia berasal dari keluarga pendeta Protestan, sebuah latar belakang yang membentuk ketertarikannya pada persoalan sejarah, agama, dan makna kehidupan. Dilthey menempuh studi teologi, sejarah, dan filsafat di berbagai universitas Jerman, termasuk Heidelberg dan Berlin.
Sepanjang karier akademiknya, Dilthey mengajar di Basel, Kiel, Breslau, dan Berlin. Ia hidup dalam konteks Jerman pasca-Kant dan pasca-Hegel, ketika filsafat berhadapan dengan dominasi ilmu alam dan positivisme. Dilthey menolak reduksi kehidupan manusia ke dalam model penjelasan kausal ala ilmu alam, dan sebaliknya memperjuangkan legitimasi metode interpretatif bagi ilmu kemanusiaan.
Salah satu kontribusi utama Dilthey adalah pembedaan metodologis antara ilmu alam (Naturwissenschaften) dan ilmu kemanusiaan (Geisteswissenschaften). Menurutnya, ilmu alam bertujuan menjelaskan fenomena melalui hukum kausal, sedangkan ilmu kemanusiaan bertujuan memahami ekspresi kehidupan manusia.
Pembedaan ini bukan sekadar teknis, melainkan mencerminkan perbedaan ontologis antara objek alam dan kehidupan manusia yang bermakna. Dengan demikian, metode interpretatif bukan kelemahan ilmiah, melainkan kebutuhan epistemologis.
Dilthey menempatkan konsep Erlebnis atau pengalaman hidup sebagai dasar bagi pemahaman manusia. Kehidupan tidak dapat dipahami melalui abstraksi rasional semata, melainkan melalui pengalaman konkret yang terjalin dalam waktu, sejarah, dan relasi sosial.
Pengalaman hidup menjadi titik awal bagi semua bentuk ekspresi budaya, termasuk bahasa, seni, agama, dan institusi sosial.
Dilthey mengembangkan hermeneutika dari sekadar metode penafsiran teks menjadi landasan epistemologis ilmu kemanusiaan. Pemahaman bukan hanya aktivitas subjektif, melainkan proses historis di mana penafsir dan objek penafsiran saling terkait.
Hermeneutika Dilthey menekankan rekonstruksi konteks historis dan psikologis untuk memahami makna suatu ekspresi kehidupan.
Dilthey memandang manusia sebagai makhluk historis. Identitas dan pemahaman diri manusia selalu dibentuk oleh tradisi dan sejarah. Oleh karena itu, filsafat harus bersifat historis, bukan sistem metafisis ahistoris.
Kesadaran historis memungkinkan manusia memahami relativitas nilai dan pandangan dunia tanpa jatuh ke dalam relativisme nihilistik.
Dilthey mengkritik positivisme karena menyamakan metode ilmu alam dengan seluruh bentuk pengetahuan. Ia berargumen bahwa kehidupan manusia tidak dapat direduksi menjadi fakta empiris yang terisolasi.
Kritik ini membuka ruang bagi pluralitas metode ilmiah dan menegaskan otonomi ilmu kemanusiaan.
Dilthey mengusulkan psikologi deskriptif sebagai alternatif terhadap psikologi eksperimental. Tujuannya bukan menjelaskan mekanisme mental secara kausal, melainkan memahami struktur pengalaman batin manusia.
Pendekatan ini memengaruhi perkembangan fenomenologi dan psikologi humanistik.
Pemikiran Dilthey memberikan pengaruh besar terhadap Edmund Husserl, Martin Heidegger, Hans-Georg Gadamer, dan tradisi hermeneutika modern. Ia dianggap sebagai pendiri filsafat kehidupan (Lebensphilosophie) dan pelopor pendekatan interpretatif dalam ilmu sosial dan humaniora.