Dipublikasikan: 17 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 6 Januari 2026
Dipublikasikan: 17 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 6 Januari 2026
Raymond Kelvin Nando — Friedrich Wilhelm Joseph Schelling adalah filsuf Jerman yang menjadi salah satu tokoh utama dalam idealisme Jerman bersama Johann Gottlieb Fichte dan Georg Wilhelm Friedrich Hegel. Pemikirannya menempati posisi unik karena bergerak dari idealisme subjektif menuju filsafat alam, identitas absolut, dan akhirnya metafisika kebebasan serta mitologi. Schelling memainkan peran penting dalam memperluas cakrawala filsafat modern dengan mengintegrasikan alam, seni, kebebasan, dan sejarah ke dalam satu visi spekulatif yang menentang rasionalisme sempit dan determinisme mekanistik.
Daftar Isi
Schelling lahir pada tahun 1775 di Leonberg, Württemberg, dan meninggal pada tahun 1854. Ia dikenal sebagai anak ajaib intelektual, memasuki seminari teologi di Tübingen pada usia sangat muda. Di sana ia berteman erat dengan Hegel dan Friedrich Hölderlin, membentuk lingkaran intelektual yang kelak menentukan arah filsafat Jerman.
Schelling mengajar di berbagai universitas, termasuk Jena, Würzburg, Erlangen, dan Munich. Karier intelektualnya ditandai oleh perubahan dan perkembangan yang signifikan, yang sering kali membuatnya sulit diklasifikasikan dalam satu sistem tetap. Pada periode akhir hidupnya, Schelling diundang ke Berlin untuk menggantikan pengaruh Hegel yang dominan, meskipun kuliah-kuliah terakhirnya lebih bersifat spekulatif dan tidak sepenuhnya dipublikasikan secara sistematis.
Schelling mengembangkan filsafat alam sebagai respons terhadap mekanisme ilmiah dan idealisme subjektif. Ia memandang alam bukan sebagai objek mati yang sepenuhnya ditentukan oleh hukum mekanis, melainkan sebagai proses dinamis yang memiliki produktivitas dan rasionalitas intrinsik. Alam, dalam pandangannya, adalah roh yang belum sepenuhnya sadar akan dirinya sendiri.
Pendekatan ini menggabungkan refleksi filosofis dengan temuan ilmu alam pada masanya, dan berupaya mengatasi dualisme antara subjek dan objek.
Dalam filsafat identitasnya, Schelling berargumen bahwa subjek dan objek, pikiran dan alam, merupakan manifestasi dari satu realitas absolut yang sama. Absolut ini bukan sekadar konsep rasional, melainkan prinsip hidup yang melampaui pembedaan konseptual.
Melalui gagasan ini, Schelling berusaha melampaui idealisme Fichte yang terlalu menekankan subjek, serta membuka jalan bagi metafisika yang lebih holistik.
Schelling memberikan peran istimewa kepada seni sebagai bentuk pengetahuan tertinggi. Dalam seni, kesadaran dan ketidaksadaran, kebebasan dan keniscayaan, bersatu secara konkret. Karya seni menjadi wahyu dari Absolut yang tidak dapat sepenuhnya ditangkap oleh konsep filosofis.
Pandangan ini menjadikan estetika sebagai pusat refleksi filosofis dan memengaruhi romantisisme Jerman.
Dalam karya Philosophical Investigations into the Essence of Human Freedom, Schelling mengembangkan metafisika kebebasan yang radikal. Ia menolak determinisme rasional dan menegaskan bahwa kebebasan manusia mencakup kemungkinan kejahatan. Kejahatan dipahami sebagai penyimpangan kehendak dari kesatuan dengan prinsip ilahi, bukan sebagai sekadar kekurangan rasionalitas.
Pemikiran ini memperkenalkan dimensi tragis dan eksistensial ke dalam idealisme Jerman.
Pada periode akhir, Schelling mengembangkan filsafat mitologi dan wahyu, di mana ia memandang mitos sebagai ekspresi simbolik dari kebenaran filosofis yang mendahului refleksi rasional. Sejarah agama dipahami sebagai proses pewahyuan bertahap dari Absolut dalam kesadaran manusia.
Pendekatan ini menandai pergeseran dari sistem rasional menuju pemahaman historis dan simbolik tentang kebenaran.
Schelling secara implisit dan eksplisit mengkritik sistem Hegel yang dianggapnya terlalu rasionalistis dan meniadakan kebebasan konkret. Ia menolak pandangan bahwa realitas sepenuhnya dapat dipahami sebagai proses dialektis yang transparan bagi rasio.
Perbedaan ini menjadikan Schelling sebagai alternatif penting dalam tradisi idealisme Jerman.
Pemikiran Schelling memengaruhi berbagai tradisi filsafat, termasuk eksistensialisme, fenomenologi, filsafat kehidupan, dan teologi modern. Ia sering dibaca ulang sebagai pemikir yang membuka kemungkinan metafisika non-deterministik dan non-totalitarian.
Friedrich Wilhelm Joseph Schelling adalah filsuf Jerman abad ke-18 dan ke-19 yang menjadi salah satu tokoh utama idealisme Jerman, bersama Fichte dan Hegel. Ia dikenal karena pemikirannya tentang alam, kebebasan, dan hubungan antara subjek dan objek.
Gagasan utama Schelling menekankan bahwa alam dan roh merupakan satu kesatuan yang dinamis. Dalam filsafat alam dan filsafat identitasnya, ia memandang alam sebagai manifestasi dari roh, serta menyoroti peran kebebasan dan kreativitas dalam realitas.
Pemikiran Schelling penting karena menjadi jembatan antara idealisme subjektif dan sistem idealisme absolut. Gagasannya memengaruhi perkembangan filsafat romantik, eksistensialisme, serta pemikiran tentang alam, seni, dan kebebasan manusia.