Dipublikasikan: 17 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 5 Januari 2026
Dipublikasikan: 17 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 5 Januari 2026
Raymond Kelvin Nando — Willard Van Orman Quine adalah filsuf Amerika abad ke-20 yang menjadi salah satu figur paling berpengaruh dalam filsafat analitik, khususnya dalam bidang logika, epistemologi, filsafat bahasa, dan metafisika. Ia dikenal sebagai pengkritik radikal terhadap fondasi tradisional empirisme logis serta pembongkaran pembedaan klasik antara kebenaran analitik dan sintetis. Melalui pemikirannya, Quine menggeser arah filsafat analitik menuju naturalisme filosofis dan pandangan holistik tentang pengetahuan, menjadikannya tokoh kunci dalam transformasi filsafat modern pasca-positivisme.
Daftar Isi
Willard Van Orman Quine lahir pada tahun 1908 di Akron, Ohio, dan meninggal pada tahun 2000. Ia menempuh pendidikan matematika dan filsafat di Oberlin College sebelum melanjutkan studi doktoral di Harvard University. Disertasinya berfokus pada logika matematika dan dipengaruhi secara signifikan oleh Alfred North Whitehead dan Bertrand Russell.
Quine menghabiskan hampir seluruh karier akademiknya di Harvard University, di mana ia mengajar dan membentuk generasi filsuf analitik. Ia juga melakukan perjalanan akademik ke Eropa dan berinteraksi langsung dengan tokoh-tokoh utama empirisme logis seperti Rudolf Carnap, meskipun kemudian ia menjadi salah satu pengkritik paling tajam terhadap proyek filsafat Carnap dan Lingkaran Wina.
Salah satu kontribusi paling berpengaruh Quine adalah kritiknya terhadap pembedaan antara pernyataan analitik dan sintetis, yang ia kemukakan dalam esai “Two Dogmas of Empiricism.” Quine berargumen bahwa tidak ada dasar non-sirkular yang jelas untuk membedakan kebenaran yang semata-mata berdasarkan makna dari kebenaran yang bergantung pada fakta empiris.
Dengan menolak distingsi ini, Quine mengguncang fondasi empirisme logis dan membuka kembali pertanyaan tentang bagaimana bahasa, makna, dan pengetahuan saling terkait. Kritik ini menandai pergeseran besar dalam filsafat analitik abad ke-20.
Quine mengembangkan pandangan holistik tentang pengetahuan, menurutnya pernyataan-pernyataan kita tentang dunia tidak diuji secara individual oleh pengalaman, melainkan sebagai bagian dari keseluruhan jaringan keyakinan. Ketika pengalaman bertentangan dengan teori, kita memiliki fleksibilitas untuk merevisi bagian mana pun dari sistem keyakinan tersebut, termasuk prinsip logika atau matematika jika diperlukan.
Holisme ini menolak fondasionalisme klasik dan menggambarkan pengetahuan sebagai sistem dinamis yang terus disesuaikan dengan pengalaman.
Quine adalah pendukung utama naturalisme dalam filsafat. Ia berargumen bahwa filsafat tidak memiliki posisi istimewa di luar ilmu pengetahuan, melainkan merupakan kelanjutan dari penyelidikan ilmiah itu sendiri. Pertanyaan epistemologis tentang bagaimana kita mengetahui dunia harus dijawab dengan merujuk pada psikologi, linguistik, dan ilmu alam, bukan melalui analisis a priori semata.
Pendekatan ini mengaburkan batas antara filsafat dan sains, dan sangat memengaruhi filsafat kontemporer.
Quine terkenal dengan pandangannya tentang ontologi yang dirumuskan dalam pertanyaan “Apa yang ada?” Menurutnya, komitmen ontologis suatu teori ditentukan oleh apa yang harus diasumsikan ada agar teori tersebut benar. Ia merumuskan prinsip bahwa “to be is to be the value of a bound variable,” yang menghubungkan keberadaan dengan struktur logis bahasa teori ilmiah.
Pendekatan ini menjadikan ontologi sebagai persoalan metodologis yang erat dengan teori ilmiah, bukan spekulasi metafisis murni.
Dalam filsafat bahasa, Quine mengajukan tesis indeterminasi terjemahan, yang menyatakan bahwa tidak ada fakta objektif yang sepenuhnya menentukan satu terjemahan bahasa asing sebagai satu-satunya yang benar. Berbagai skema terjemahan dapat sama-sama konsisten dengan seluruh data perilaku linguistik.
Tesis ini menantang gagasan makna sebagai entitas mental atau referensial yang tetap, dan memperkuat pandangan behavioristik Quine tentang bahasa.
Quine bersikap skeptis terhadap konsep makna sebagai sesuatu yang terpisah dan stabil. Ia menolak entitas intensional seperti proposisi, makna, dan niat sebagai dasar ontologis yang jelas. Sikap ini membuatnya sangat berhati-hati terhadap bahasa modal dan sikap proposisional dalam analisis filosofis.
Sebagai ahli logika, Quine memberikan kontribusi teknis yang signifikan dalam logika predikat dan teori himpunan. Ia juga mengembangkan pandangan tentang matematika sebagai bagian integral dari sains empiris, bukan sebagai sistem kebenaran a priori yang terpisah.
Pemikiran Quine membentuk lanskap filsafat analitik pasca-1950-an, memengaruhi tokoh-tokoh seperti Donald Davidson, Hilary Putnam, dan banyak filsuf naturalis kontemporer. Kritiknya terhadap fondasi empirisme memaksa filsafat analitik untuk merefleksikan ulang asumsi-asumsi dasarnya.
Willard Van Orman Quine adalah filsuf Amerika abad ke-20 yang dikenal sebagai tokoh penting dalam filsafat analitik. Ia memberikan kontribusi besar dalam logika, filsafat bahasa, dan epistemologi, serta dikenal karena kritiknya terhadap empirisme tradisional.
Gagasan utama Quine meliputi penolakan terhadap pembedaan tajam antara pernyataan analitik dan sintetis, serta pandangan holisme epistemologis. Ia berpendapat bahwa pengetahuan manusia membentuk jaringan keyakinan yang diuji secara keseluruhan oleh pengalaman.
Pemikiran Quine berpengaruh karena mengubah cara filsafat memahami bahasa, makna, dan dasar pengetahuan. Kritik dan pendekatannya memengaruhi filsafat sains, logika modern, dan perdebatan tentang naturalisme serta realisme dalam filsafat kontemporer.