Simone de Beauvoir

Dipublikasikan: 17 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 5 Januari 2026

Raymond Kelvin Nando — Simone de Beauvoir adalah filsuf Prancis abad ke-20 yang memainkan peran sentral dalam pengembangan eksistensialisme, filsafat feminis, dan teori sosial modern. Ia dikenal luas melalui karyanya Le Deuxième Sexe (The Second Sex), yang merevolusi cara berpikir tentang perempuan, gender, dan ketertindasan, serta meletakkan dasar bagi feminisme gelombang kedua. Pemikiran Beauvoir menggabungkan eksistensialisme, fenomenologi, dan analisis historis-sosial untuk menunjukkan bagaimana kondisi biologis dan struktur sosial membentuk pengalaman manusia, khususnya pengalaman perempuan, tanpa menghilangkan kebebasan dan tanggung jawab eksistensial individu.

Biografi Simone de Beauvoir

Simone Lucie Ernestine Marie Bertrand de Beauvoir lahir pada tahun 1908 di Paris dan meninggal pada tahun 1986. Ia menempuh pendidikan filsafat di Sorbonne dan École Normale Supérieure, di mana ia menjadi salah satu perempuan pertama yang lulus agregasi filsafat dengan prestasi tinggi. Di masa studinya, ia menjalin hubungan intelektual dan personal yang mendalam dengan Jean-Paul Sartre, yang berlangsung sepanjang hidupnya dan sangat memengaruhi perkembangan pemikirannya.

Beauvoir mengajar filsafat di berbagai lycée sebelum kemudian sepenuhnya mendedikasikan dirinya pada penulisan dan kegiatan intelektual. Selain karya filosofis, ia juga menulis novel, esai, dan autobiografi yang menggambarkan refleksi filosofisnya dalam bentuk sastra. Sepanjang hidupnya, Beauvoir aktif dalam gerakan politik dan sosial, termasuk perjuangan hak perempuan, kebebasan reproduksi, dan keadilan sosial.

Orang lain juga membaca :  Cicero

Pemikiran Simone de Beauvoir

Eksistensialisme dan Kebebasan

Beauvoir mengadopsi dan mengembangkan prinsip dasar eksistensialisme, terutama gagasan bahwa eksistensi mendahului esensi. Manusia tidak dilahirkan dengan kodrat tetap, melainkan membentuk dirinya melalui pilihan dan tindakan. Namun, Beauvoir menekankan bahwa kebebasan selalu bersituasi, artinya kebebasan manusia dijalankan dalam kondisi sosial, historis, dan material tertentu yang membatasi dan membentuk kemungkinan tindakan.

Pandangan ini menolak determinisme biologis maupun sosial tanpa jatuh ke dalam voluntarisme murni. Kebebasan, bagi Beauvoir, selalu berhadapan dengan kenyataan konkret dunia.

Perempuan sebagai “Yang Lain”

Dalam The Second Sex, Beauvoir mengemukakan tesis terkenal bahwa perempuan secara historis dikonstruksikan sebagai “Yang Lain” dalam relasi dengan laki-laki yang diposisikan sebagai subjek universal. Perempuan tidak dilahirkan sebagai perempuan dalam arti sosial, melainkan “menjadi perempuan” melalui proses sosialisasi, norma, dan institusi.

Analisis ini menunjukkan bagaimana ketertindasan perempuan tidak semata-mata bersumber dari biologi, melainkan dari struktur simbolik dan material yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinat.

Tubuh, Situasi, dan Subjektivitas

Beauvoir memberikan analisis mendalam tentang tubuh sebagai situasi. Tubuh bukan sekadar objek biologis, tetapi medan pengalaman yang dimediasi oleh makna sosial dan budaya. Pengalaman tubuh perempuan—menstruasi, kehamilan, penuaan—dibentuk oleh struktur sosial yang menentukan bagaimana pengalaman tersebut dimaknai dan dinilai.

Pendekatan ini memperkaya fenomenologi dengan memasukkan dimensi gender dan membuka jalan bagi analisis tubuh dalam filsafat feminis kontemporer.

Etika Ambiguitas

Dalam The Ethics of Ambiguity, Beauvoir mengembangkan etika eksistensialis yang berangkat dari kondisi manusia yang ambigu: sekaligus subjek bebas dan objek dalam dunia. Etika tidak didasarkan pada hukum universal abstrak, melainkan pada pengakuan terhadap kebebasan diri sendiri dan orang lain.

Orang lain juga membaca :  Ibn Gabirol (Avicebron)

Kebebasan seseorang hanya bermakna sejauh ia juga mengakui dan memajukan kebebasan orang lain, sehingga etika Beauvoir bersifat relasional dan politis.

Penindasan dan Tanggung Jawab

Beauvoir membedakan antara situasi ketertindasan dan kegagalan moral individu. Orang yang tertindas tidak dapat sepenuhnya disalahkan atas keterbatasan pilihannya, tetapi mereka tetap memiliki potensi untuk melawan dan mentransformasi kondisi mereka.

Pandangan ini memungkinkan kritik terhadap struktur sosial tanpa meniadakan agensi individu, sebuah keseimbangan yang menjadi ciri khas filsafat Beauvoir.

Sastra sebagai Medium Filsafat

Beauvoir memandang sastra sebagai sarana penting untuk menyampaikan kebenaran filosofis tentang pengalaman manusia. Novel dan autobiografinya berfungsi sebagai eksplorasi konkret dari tema-tema eksistensial seperti kebebasan, cinta, penuaan, dan kematian.

Dengan demikian, filsafat Beauvoir tidak terbatas pada teks teoritis, tetapi meresap dalam berbagai bentuk ekspresi intelektual.

Karya Simone de Beauvoir

  • Le Deuxième Sexe (The Second Sex)
  • The Ethics of Ambiguity
  • She Came to Stay
  • The Mandarins
  • Memoirs of a Dutiful Daughter

Referensi

  • Beauvoir, S. de. (2011). The second sex. New York: Vintage Books.
  • Beauvoir, S. de. (1976). The ethics of ambiguity. New York: Citadel Press.
  • Moi, T. (1999). What is a woman? And other essays. Oxford: Oxford University Press.
  • Simons, M. A. (1999). Beauvoir and “The Second Sex”. Lanham, MD: Rowman & Littlefield.
  • Kruks, S. (2012). Simone de Beauvoir and the politics of ambiguity. Oxford: Oxford University Press.

FAQ

Siapakah Simone de Beauvoir?

Simone de Beauvoir adalah filsuf, penulis, dan intelektual Prancis abad ke-20 yang dikenal sebagai tokoh penting dalam eksistensialisme dan feminisme. Ia banyak menulis tentang kebebasan, etika, dan kondisi manusia, khususnya pengalaman perempuan.

Mengapa pemikiran Simone de Beauvoir penting dalam filsafat dan feminisme?

Pemikiran Simone de Beauvoir penting karena menjadi fondasi bagi feminisme modern dan pemikiran tentang kesetaraan gender. Analisisnya membantu memahami penindasan struktural dan peran kebebasan serta tanggung jawab dalam kehidupan individu dan masyarakat.

Citation

Previous Article

Robert Nozick

Next Article

Walter Benjamin

Citation copied!