Protagoras

Dipublikasikan: 17 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 5 Januari 2026

Raymond Kelvin Nando — Protagoras adalah filsuf Yunani Kuno pra-Sokratik yang dikenal sebagai sofis paling terkenal dan paling berpengaruh pada abad ke-5 SM. Ia masyhur melalui pernyataannya yang radikal, “manusia adalah ukuran bagi segala sesuatu,” sebuah gagasan yang mengguncang pemahaman tradisional tentang kebenaran, pengetahuan, dan moralitas. Sebagai pengajar retorika dan kebijaksanaan praktis, Protagoras memainkan peran penting dalam perkembangan relativisme epistemologis, demokrasi Athena, serta pergeseran filsafat dari kosmologi menuju persoalan manusia, bahasa, dan kehidupan sosial.

Biografi Protagoras

Protagoras lahir sekitar tahun 490 SM di Abdera, sebuah kota di Thrace yang juga melahirkan Demokritos. Informasi tentang kehidupan awalnya sebagian besar bersumber dari kesaksian Plato dan penulis klasik lainnya. Ia dikenal sebagai sosok yang menempuh kehidupan profesional sebagai sofis, yakni pengajar berbayar yang menawarkan pendidikan praktis dalam retorika, politik, dan kebajikan sipil kepada warga Athena.

Protagoras memiliki hubungan dekat dengan Perikles, pemimpin politik Athena, dan bahkan dipercaya untuk membantu merancang hukum bagi koloni Athena di Thurii. Namun, pemikirannya yang kritis terhadap agama dan kebenaran objektif membuatnya menjadi figur kontroversial. Menurut tradisi, ia dituduh melakukan impietas karena pandangannya tentang para dewa, dan karya-karyanya dibakar di Athena, memaksanya melarikan diri. Ia diperkirakan meninggal sekitar tahun 420 SM.

Pemikiran Protagoras

Manusia sebagai Ukuran Segala Sesuatu

Gagasan paling terkenal Protagoras adalah doktrin relativisme yang dirumuskan dalam kalimat, “manusia adalah ukuran bagi segala sesuatu, bagi yang ada sejauh ia ada, dan bagi yang tidak ada sejauh ia tidak ada.” Pernyataan ini menegaskan bahwa kebenaran bergantung pada persepsi dan pengalaman manusia. Tidak ada kebenaran absolut yang berdiri di luar subjek; apa yang tampak benar bagi seseorang adalah benar baginya.

Orang lain juga membaca :  Arthur Schopenhauer

Pandangan ini menantang filsafat metafisika sebelumnya yang mencari prinsip-prinsip universal dan objektif tentang realitas. Bagi Protagoras, fokus filsafat bukanlah kosmos, melainkan manusia sebagai makhluk yang mengalami dan menafsirkan dunia.

Relativisme Epistemologis

Relativisme Protagoras tidak hanya bersifat psikologis, tetapi juga epistemologis. Ia berargumen bahwa pengetahuan selalu bersifat perspektival, dibentuk oleh kondisi tubuh, budaya, dan situasi sosial individu. Oleh karena itu, perbedaan pendapat bukanlah kesalahan logis, melainkan konsekuensi alami dari keberagaman pengalaman manusia.

Dalam kerangka ini, tugas pendidikan bukanlah menemukan kebenaran mutlak, melainkan membentuk penilaian yang lebih baik dan lebih berguna bagi kehidupan bersama. Relativisme Protagoras sering dipahami sebagai ancaman terhadap rasionalitas, tetapi juga dapat dibaca sebagai pengakuan awal terhadap pluralitas sudut pandang manusia.

Retorika dan Seni Berargumentasi

Sebagai sofis, Protagoras menekankan pentingnya retorika sebagai alat utama dalam kehidupan politik dan sosial. Ia terkenal dengan ajarannya tentang bagaimana membuat argumen yang lebih lemah tampak lebih kuat, sebuah kemampuan yang sering dikritik oleh Plato sebagai manipulatif. Namun, dari sudut pandang Protagoras, kemampuan ini mencerminkan kenyataan bahwa keputusan publik tidak ditentukan oleh kebenaran metafisik, melainkan oleh persuasi dan konsensus.

Retorika, dalam pemikirannya, bukan sekadar seni berbicara, tetapi sarana pembentukan opini dan tindakan kolektif dalam polis demokratis.

Pendidikan dan Kebajikan Sipil

Protagoras meyakini bahwa kebajikan politik dapat diajarkan. Dalam dialog Protagoras karya Plato, ia digambarkan membela pandangan bahwa keadilan, moderasi, dan kebijaksanaan bukanlah bakat alami semata, melainkan hasil pendidikan dan latihan sosial. Ia menekankan peran hukum, adat, dan pendidikan publik dalam membentuk warga negara yang baik.

Pandangan ini mendukung fondasi demokrasi Athena, di mana partisipasi politik menuntut kemampuan berbicara, berdebat, dan menilai persoalan bersama.

Orang lain juga membaca :  Rocky Gerung

Agnostisisme terhadap Para Dewa

Protagoras terkenal dengan pernyataannya tentang para dewa: ia menyatakan bahwa ia tidak dapat mengetahui apakah para dewa ada atau tidak ada, karena keterbatasan manusia dan singkatnya kehidupan. Sikap ini sering dipahami sebagai bentuk agnostisisme awal dalam sejarah filsafat.

Pandangan ini memperlihatkan konsistensi relativisme Protagoras, yang menolak klaim pengetahuan absolut, bahkan dalam ranah teologi. Sikap ini juga menjelaskan mengapa ia menjadi target tuduhan impietas di Athena.

Kritik Plato dan Warisan Filsafat

Plato mengkritik Protagoras dengan keras, terutama dalam dialog Theaetetus, dengan menuduh relativismenya bersifat kontradiktif dan meruntuhkan kemungkinan pengetahuan objektif. Namun, justru melalui kritik ini, pengaruh Protagoras menjadi abadi. Ia memaksa filsafat untuk merefleksikan kembali dasar-dasar kebenaran, pengetahuan, dan bahasa.

Protagoras dapat dipandang sebagai pelopor filsafat humanistik, yang menempatkan manusia, bahasa, dan kehidupan sosial sebagai pusat refleksi filosofis.

Karya Protagoras

Karya-karya Protagoras tidak bertahan secara utuh dan hanya dikenal melalui fragmen dan laporan penulis lain. Di antara karya yang secara tradisional dikaitkan dengannya adalah On Truth, On the Gods, dan tulisan-tulisan tentang retorika serta politik.

Referensi

  • Plato. (1997). Protagoras. Indianapolis: Hackett Publishing.
  • Plato. (1997). Theaetetus. Indianapolis: Hackett Publishing.
  • Guthrie, W. K. C. (1971). The sophists. Cambridge: Cambridge University Press.
  • Kerferd, G. B. (1981). The sophistic movement. Cambridge: Cambridge University Press.
  • Barnes, J. (1982). The presocratic philosophers. London: Routledge.

FAQ

Siapakah Protagoras?

Protagoras adalah seorang filsuf Yunani kuno dari aliran Sofis yang hidup pada abad ke-5 SM. Ia dikenal sebagai guru retorika dan pemikir yang menekankan peran manusia dalam menentukan makna dan kebenaran.

Mengapa pemikiran Protagoras penting dalam sejarah filsafat?

Pemikiran Protagoras penting karena memperkenalkan perdebatan tentang relativisme, subjektivitas, dan sifat pengetahuan. Pandangannya memengaruhi diskusi filsafat tentang kebenaran, etika, dan pendidikan, serta memicu kritik dari filsuf lain seperti Plato.

Citation

Previous Article

Parmenides dari Elea

Next Article

Robert Nozick

Citation copied!