Parmenides dari Elea

Dipublikasikan: 17 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 5 Januari 2026

Raymond Kelvin Nando — Parmenides dari Elea adalah filsuf Yunani Kuno pra-Sokratik yang hidup pada awal abad ke-5 SM dan dikenal sebagai salah satu pemikir paling radikal dalam sejarah metafisika Barat. Ia mengajukan pandangan bahwa realitas sejati bersifat satu, tidak berubah, tidak lahir, dan tidak musnah, sebuah posisi yang secara tajam menentang pengalaman inderawi sehari-hari yang menampilkan perubahan dan keanekaragaman. Melalui puisinya yang bersifat filosofis, Parmenides meletakkan fondasi bagi ontologi, logika, dan metode rasional dalam filsafat, serta memberikan pengaruh besar terhadap Plato, Aristoteles, dan seluruh tradisi metafisika Barat.

Biografi Parmenides dari Elea

Parmenides lahir sekitar tahun 515 SM di Elea (Velia), sebuah koloni Yunani di Italia Selatan. Informasi biografis tentang kehidupannya sangat terbatas dan sebagian besar bersifat spekulatif. Ia diyakini berasal dari keluarga terhormat dan memiliki peran penting dalam kehidupan politik dan hukum kota Elea, sebagaimana disinggung oleh beberapa sumber kuno.

Parmenides dikenal sebagai pendiri mazhab Eleatik, sebuah aliran filsafat yang menekankan penggunaan rasio murni sebagai sarana utama untuk memahami realitas. Ia kemungkinan besar memengaruhi atau mengajar Zeno dari Elea, yang kemudian terkenal dengan paradoks-paradoksnya tentang gerak dan pluralitas. Meskipun hanya satu karya Parmenides yang diketahui, pengaruhnya sangat luas dan mendalam.

Orang lain juga membaca :  Karl Marx

Pemikiran Parmenides dari Elea

Puisi sebagai Bentuk Filsafat

Pemikiran Parmenides disampaikan dalam bentuk puisi filosofis berjudul Peri Physeos (Tentang Alam). Pilihan bentuk puisi bukan sekadar estetis, melainkan juga pedagogis, menggabungkan tradisi epik dengan argumen rasional yang ketat. Dalam puisi ini, Parmenides menggambarkan perjalanan intelektual seorang pencari kebenaran yang dipandu oleh seorang dewi menuju pengetahuan sejati tentang realitas.

Puisi ini terbagi menjadi dua bagian utama: Jalan Kebenaran (Aletheia) dan Jalan Opini (Doxa). Pembagian ini mencerminkan perbedaan mendasar antara pengetahuan rasional yang pasti dan pandangan manusia yang bersumber dari indera dan kebiasaan.

Jalan Kebenaran: Ada sebagai Satu dan Tak Berubah

Dalam Jalan Kebenaran, Parmenides menegaskan bahwa “yang ada, ada” dan “yang tidak ada, tidak mungkin ada.” Dari prinsip ini, ia menyimpulkan bahwa realitas sejati bersifat satu, abadi, tidak terbagi, tidak bergerak, dan tidak berubah. Perubahan, kelahiran, dan kehancuran dianggap mustahil secara logis, karena melibatkan transisi dari yang tidak ada ke yang ada, atau sebaliknya, yang menurut Parmenides tidak dapat dipikirkan maupun diungkapkan.

Pandangan ini menempatkan rasio sebagai otoritas tertinggi dalam filsafat, bahkan ketika kesimpulannya bertentangan dengan pengalaman inderawi. Parmenides dengan demikian memperkenalkan tuntutan akan konsistensi logis sebagai syarat utama kebenaran filosofis.

Kritik terhadap Indera dan Dunia Fenomenal

Parmenides secara tegas membedakan antara apa yang tampak bagi indera dan apa yang dapat dipahami oleh akal. Dunia yang kita alami—dengan perubahan, pluralitas, dan gerak—ditempatkan dalam ranah opini (doxa), bukan kebenaran sejati. Indera, menurutnya, menyesatkan karena memperlihatkan dunia sebagai berubah dan beragam, padahal secara ontologis realitas bersifat tetap dan tunggal.

Kritik ini menjadi tonggak penting dalam sejarah epistemologi, karena memperkenalkan ketegangan antara pengetahuan rasional dan pengalaman empiris yang terus diperdebatkan dalam filsafat hingga masa modern.

Orang lain juga membaca :  Héloïse

Jalan Opini: Kosmologi Konvensional

Meskipun menolak kebenaran dunia fenomenal, Parmenides tetap menyajikan penjelasan kosmologis dalam Jalan Opini. Di sini, ia menguraikan pandangan tentang dunia sebagaimana dipahami oleh manusia biasa, termasuk dualitas seperti terang dan gelap. Bagian ini sering ditafsirkan sebagai upaya sistematis untuk menjelaskan fenomena tanpa mengklaim kebenaran ontologis, melainkan sebagai konsesi terhadap cara berpikir manusia.

Dengan demikian, Parmenides tidak sepenuhnya mengabaikan dunia pengalaman, tetapi menempatkannya pada tingkat epistemologis yang lebih rendah dibandingkan kebenaran rasional.

Ontologi dan Fondasi Metafisika

Parmenides sering dianggap sebagai pendiri ontologi, cabang filsafat yang mempelajari hakikat keberadaan. Dengan menegaskan bahwa pertanyaan “apa yang ada” harus dijawab secara rasional dan konsisten, ia menetapkan kerangka dasar bagi penyelidikan metafisis. Pandangannya tentang Ada sebagai satu dan tidak berubah menjadi titik tolak bagi perdebatan besar tentang substansi, perubahan, dan pluralitas dalam filsafat Barat.

Pengaruh terhadap Plato dan Aristoteles

Pemikiran Parmenides memberikan tantangan mendasar bagi filsafat Yunani selanjutnya. Plato berupaya mendamaikan pandangan Parmenides tentang ketetapan Ada dengan realitas perubahan melalui teori Idea atau Bentuk. Aristoteles, pada gilirannya, mengembangkan konsep potensialitas dan aktualitas untuk menjelaskan perubahan tanpa jatuh ke dalam kontradiksi Parmenidean. Dengan demikian, hampir seluruh metafisika klasik dapat dibaca sebagai dialog panjang dengan Parmenides.

Rasionalitas dan Metode Filosofis

Lebih dari sekadar doktrin ontologis, Parmenides memperkenalkan metode filosofis yang menuntut argumentasi rasional, konsistensi logis, dan penolakan terhadap kontradiksi. Pendekatan ini menjadikannya pelopor dalam penggunaan logika sebagai alat utama filsafat, sekaligus membedakan filsafat dari mitologi.

Karya Parmenides dari Elea

Parmenides hanya diketahui memiliki satu karya, sebuah puisi filosofis berjudul Peri Physeos (Tentang Alam), yang kini hanya tersisa dalam bentuk fragmen yang dikutip oleh penulis-penulis kemudian.

Orang lain juga membaca :  Jean Bodin

Referensi

  • Parmenides. (2001). Fragments. Translated by A. H. Coxon. Assen: Van Gorcum.
  • Kirk, G. S., Raven, J. E., & Schofield, M. (1983). The presocratic philosophers. Cambridge: Cambridge University Press.
  • Guthrie, W. K. C. (1965). A history of Greek philosophy, Vol. 2. Cambridge: Cambridge University Press.
  • Curd, P. (1998). The legacy of Parmenides. Princeton, NJ: Princeton University Press.
  • Barnes, J. (1982). The presocratic philosophers. London: Routledge.

FAQ

Siapakah Parmenides dari Elea?

Parmenides dari Elea adalah seorang filsuf Yunani pra-Sokratik yang hidup pada abad ke-5 SM. Ia dikenal sebagai tokoh utama aliran Eleatik dan sebagai pemikir yang menekankan rasio sebagai sumber utama pengetahuan tentang realitas.

Apa gagasan utama Parmenides tentang realitas?

Gagasan utama Parmenides adalah bahwa “yang ada” bersifat satu, abadi, dan tidak berubah. Ia menolak perubahan dan keberagaman sebagai ilusi indra, serta berpendapat bahwa realitas sejati hanya dapat dipahami melalui pemikiran rasional.

Mengapa pemikiran Parmenides penting dalam sejarah filsafat?

Pemikiran Parmenides penting karena membentuk dasar metafisika Barat dan memengaruhi filsuf-filsuf besar setelahnya, seperti Plato dan Aristoteles. Pandangannya mendorong perdebatan mendalam tentang keberadaan, perubahan, dan hubungan antara akal dan pengalaman.

Citation

Previous Article

Anicius Manlius Severinus Boethius

Next Article

Protagoras

Citation copied!