Dipublikasikan: 15 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 6 Januari 2026
Dipublikasikan: 15 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 6 Januari 2026
Raymond Kelvin Nando — Jean-François Lyotard adalah filsuf Prancis abad ke-20 yang dikenal sebagai salah satu tokoh utama postmodernisme dan teori kritis. Ia menekankan ketidakpastian pengetahuan, pluralitas narasi, dan kritik terhadap “metanarasi” atau narasi besar yang mendominasi penafsiran sejarah, ilmu, dan budaya. Pemikirannya menyoroti pergeseran dari epistemologi modern yang universal ke pendekatan yang menekankan fragmentasi, kompleksitas, dan keberagaman perspektif, sehingga memberikan kontribusi penting dalam filsafat, estetika, sosiologi, dan teori politik kontemporer.
Daftar Isi
Jean-François Lyotard lahir pada 10 Agustus 1924 di Versoix, Swiss, dan meninggal pada 21 April 1998 di Paris, Prancis. Ia menempuh pendidikan di Sorbonne, Paris, dan mengembangkan pemikiran filsafatnya dengan dipengaruhi oleh fenomenologi, eksistensialisme, Marxisme, dan strukturalisme.
Lyotard dikenal sebagai seorang pemikir kritis yang menggabungkan filsafat, seni, dan teori sosial. Ia mengajar di beberapa universitas di Prancis, termasuk Universitas Paris VIII, dan terlibat aktif dalam debat intelektual mengenai seni, ilmu pengetahuan, dan politik. Karyanya memberikan landasan bagi filsafat postmodern dan menjadi referensi penting bagi analisis budaya kontemporer.
Lyotard memperkenalkan istilah postmodernisme untuk menandai perubahan dalam kondisi pengetahuan dan budaya kontemporer. Dalam La Condition postmoderne, ia menekankan bahwa metanarasi atau narasi besar—seperti Marxian sejarah evolusi kelas, Hegelian dialektika, atau klaim ilmiah universal—tidak lagi efektif menjelaskan dunia modern. Ia menekankan pluralitas bahasa, disiplin, dan perspektif, serta perlunya menghargai pengetahuan lokal dan konteks spesifik.
Lyotard menyoroti hubungan antara pengetahuan dan legitimasi sosial. Ia menekankan bahwa dalam kondisi postmodern, kriteria tradisional seperti kebenaran universal atau progresi ilmiah tidak cukup untuk menilai validitas pengetahuan. Pengetahuan harus dipahami sebagai permainan bahasa (language-game), di mana konsensus dan norma lokal memengaruhi penerimaan dan penerapan informasi. Pandangan ini menunjukkan kompleksitas, relativitas, dan fragmentasi dalam pengetahuan modern.
Salah satu gagasan kunci Lyotard adalah skeptisisme terhadap metanarasi (incredulity toward metanarratives). Ia menekankan bahwa narasi besar sering digunakan untuk menjustifikasi dominasi politik, ekonomi, atau budaya. Dengan menolak klaim universal tersebut, Lyotard membuka ruang bagi keberagaman perspektif, kreativitas lokal, dan otonomi subjektif dalam penafsiran sosial, politik, dan budaya.
Lyotard menaruh perhatian besar pada seni sebagai medium ekspresi postmodern. Ia menekankan pengalaman estetis yang mengganggu konvensi, menimbulkan ketidakpastian, dan membuka kemungkinan pemikiran baru. Seni, menurut Lyotard, tidak hanya menampilkan realitas, tetapi juga menguji batas-batas representasi, bahasa, dan komunikasi, sehingga menjadi arena eksplorasi filosofis dan kritis.
Pemikiran politik Lyotard menekankan pluralitas dan tanggung jawab etis dalam masyarakat postmodern. Ia menolak ide universalisme moral dan menekankan pentingnya menghormati keberagaman pengalaman, identitas, dan suara minoritas. Dalam konteks politik, ia mendorong deliberasi yang sensitif terhadap kompleksitas sosial dan konflik nilai, serta menekankan kewaspadaan terhadap dominasi naratif tunggal yang menekan kebebasan dan pluralitas.
Lyotard mengembangkan analisis tentang hubungan antara bahasa, kekuasaan, dan legitimasi. Ia menekankan bahwa bahasa bukan hanya medium komunikasi, tetapi juga arena di mana nilai, norma, dan struktur sosial diwujudkan. Fragmentasi bahasa dan diskursus memungkinkan munculnya pengetahuan alternatif, resistensi terhadap dominasi, dan kreativitas dalam produksi budaya dan teori sosial.
Pemikiran Lyotard memengaruhi berbagai bidang, termasuk filsafat, teori kritis, sosiologi, studi media, dan teori sastra. Analisisnya tentang postmodernisme memberikan kerangka untuk memahami kompleksitas masyarakat kontemporer, perubahan struktur pengetahuan, dan transformasi nilai-nilai sosial.
Jean-François Lyotard adalah filsuf Prancis abad ke-20 yang dikenal sebagai salah satu tokoh utama pemikiran pascamodern. Ia banyak menulis tentang pengetahuan, bahasa, dan perubahan kondisi budaya dalam masyarakat modern.
Gagasan utama Lyotard adalah kritik terhadap “metanarasi” atau cerita besar yang mengklaim menjelaskan seluruh sejarah dan pengetahuan manusia. Dalam karyanya The Postmodern Condition, ia menekankan bahwa pengetahuan bersifat plural, terfragmentasi, dan bergantung pada permainan bahasa.
Pemikiran Lyotard penting karena membantu memahami perubahan cara masyarakat memandang kebenaran, ilmu pengetahuan, dan legitimasi. Pandangannya berpengaruh besar dalam filsafat, teori budaya, dan kajian pascamodern hingga saat ini.