Dipublikasikan: 14 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 14 Desember 2025
Dipublikasikan: 14 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 14 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — John Rogers Searle adalah filsuf Amerika Serikat yang menempati posisi sentral dalam filsafat bahasa, filsafat pikiran, dan filsafat sosial kontemporer. Ia dikenal luas karena kritik tajamnya terhadap reduksionisme komputasional, pembelaannya terhadap realisme biologis tentang kesadaran, serta analisis sistematis tentang bagaimana realitas sosial—seperti uang, institusi, dan negara—dibangun melalui praktik kolektif dan bahasa. Searle merupakan figur penting dalam tradisi filsafat analitik yang berupaya menjaga keseimbangan antara ketelitian konseptual dan komitmen terhadap realitas dunia objektif.
Daftar Isi
John Rogers Searle lahir pada 31 Juli 1932 di Denver, Colorado, Amerika Serikat. Ia menempuh pendidikan sarjana di University of Wisconsin–Madison dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana di University of Oxford sebagai Rhodes Scholar. Di Oxford, Searle belajar di bawah bimbingan J. L. Austin, salah satu tokoh utama filsafat bahasa biasa, yang memberikan pengaruh besar terhadap arah pemikirannya, khususnya dalam pengembangan teori tindak tutur.
Searle menghabiskan sebagian besar karier akademiknya di University of California, Berkeley, tempat ia menjadi profesor filsafat dan terlibat aktif dalam berbagai perdebatan filosofis dan publik. Selain kontribusi akademiknya, Searle juga dikenal sebagai figur kontroversial dalam kehidupan kampus dan diskursus intelektual Amerika, namun reputasi filosofisnya terutama bertumpu pada konsistensi teoritis dan keluasan bidang yang ia tekuni, dari bahasa dan pikiran hingga institusi sosial dan politik.
Kontribusi awal dan sangat berpengaruh dari Searle terletak pada pengembangan teori tindak tutur. Melanjutkan gagasan J. L. Austin, Searle menegaskan bahwa bahasa bukan sekadar alat untuk menggambarkan dunia, melainkan bentuk tindakan. Ketika seseorang berbicara, ia tidak hanya menyatakan fakta, tetapi juga melakukan sesuatu, seperti berjanji, memerintah, atau bertanya. Searle mengklasifikasikan tindak tutur berdasarkan fungsi ilokusionernya dan menekankan peran aturan konstitutif dalam memungkinkan tindakan linguistik tertentu. Dengan pendekatan ini, Searle memberikan dasar sistematis bagi pemahaman bahasa sebagai praktik sosial yang terstruktur.
Searle menganggap intensionalitas—kemampuan pikiran untuk “tentang sesuatu”—sebagai ciri fundamental dari keadaan mental. Ia menolak pandangan bahwa intensionalitas dapat direduksi sepenuhnya menjadi relasi formal atau sintaktis, sebagaimana sering diasumsikan dalam pendekatan komputasional terhadap pikiran. Menurut Searle, keadaan mental memiliki isi semantik yang bersifat intrinsik dan tidak dapat dijelaskan hanya melalui manipulasi simbol. Dengan demikian, pemahaman tentang pikiran harus memperhitungkan dimensi makna yang melekat pada pengalaman dan kesadaran.
Searle dikenal luas karena Argumen Kamar Cina, sebuah eksperimen pemikiran yang ditujukan untuk mengkritik klaim kecerdasan buatan kuat bahwa komputer yang menjalankan program yang tepat benar-benar memahami. Dalam argumen ini, Searle menunjukkan bahwa manipulasi simbol berdasarkan aturan sintaksis tidak menghasilkan pemahaman semantik. Seseorang dapat mengikuti aturan untuk memanipulasi simbol bahasa Cina tanpa memahami maknanya sama sekali. Argumen ini bertujuan menegaskan perbedaan mendasar antara komputasi formal dan pemahaman mental yang sesungguhnya.
Dalam filsafat pikiran, Searle mengembangkan apa yang ia sebut sebagai realisme biologis. Ia berargumen bahwa kesadaran adalah fenomena biologis nyata yang dihasilkan oleh proses neurobiologis di otak, sama seperti pencernaan dihasilkan oleh sistem pencernaan. Namun, ia juga menolak reduksionisme eliminatif yang berusaha menghapus kesadaran dari ontologi ilmiah. Kesadaran, bagi Searle, bersifat subjektif dan kualitatif, tetapi tetap sepenuhnya bagian dari dunia alamiah. Pendekatan ini berusaha menghindari dualisme sekaligus mempertahankan realitas pengalaman sadar.
Searle memperkenalkan pembedaan penting antara subjektivitas ontologis dan objektivitas epistemik. Kesadaran bersifat subjektif secara ontologis karena keberadaannya bergantung pada pengalaman subjek, namun pernyataan tentang kesadaran dapat bersifat objektif secara epistemik jika didukung oleh bukti dan metode ilmiah. Pembedaan ini memungkinkan Searle untuk membela studi ilmiah tentang kesadaran tanpa mereduksinya menjadi fenomena objektif murni seperti massa atau muatan listrik.
Salah satu kontribusi paling luas dan orisinal Searle adalah teorinya tentang realitas sosial. Ia berargumen bahwa institusi sosial seperti uang, properti, hukum, dan negara ada karena kesepakatan kolektif yang diwujudkan melalui bahasa. Realitas sosial dibangun melalui apa yang ia sebut sebagai fakta institusional, yang bergantung pada fakta fisik tetapi tidak dapat direduksi kepadanya. Struktur dasar realitas sosial dijelaskan melalui rumus “X dihitung sebagai Y dalam konteks C”, yang menunjukkan bagaimana makna dan fungsi sosial dilekatkan pada objek atau praktik tertentu.
Menurut Searle, bahasa memiliki peran konstitutif dalam membentuk dunia sosial, bukan sekadar representatif. Deklarasi linguistik tertentu, seperti pengesahan hukum atau penetapan status, secara langsung menciptakan realitas baru. Dengan demikian, bahasa menjadi fondasi ontologis institusi sosial. Pandangan ini memperluas filsafat bahasa ke ranah ontologi sosial dan memberikan kerangka analitis yang kuat untuk memahami kekuasaan, otoritas, dan legitimasi dalam masyarakat modern.
Searle secara konsisten mengkritik relativisme epistemologis dan kecenderungan postmodern yang meragukan keberadaan kebenaran objektif. Ia menegaskan bahwa meskipun banyak aspek dunia sosial bersifat konstruktif dan bergantung pada praktik manusia, dunia fisik dan kebenaran ilmiah tetap ada secara independen dari keyakinan kita. Kritik ini menjadikan Searle sebagai pembela realisme filosofis dalam lanskap intelektual yang sering kali skeptis terhadap klaim objektivitas.