Dipublikasikan: 14 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 14 Desember 2025
Dipublikasikan: 14 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 14 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Quentin Meillassoux adalah seorang filsuf Prancis kontemporer yang dikenal sebagai salah satu tokoh utama speculative realism, sebuah arus pemikiran yang berusaha memulihkan ambisi metafisika setelah lama ditekan oleh dominasi filsafat bahasa, fenomenologi, dan kritik korelasionisme. Meillassoux menempati posisi penting dalam filsafat abad ke-21 karena kritik radikalnya terhadap anggapan bahwa manusia hanya dapat mengetahui korelasi antara pikiran dan dunia, serta karena upayanya untuk memikirkan kembali realitas absolut, kontingensi, dan kebenaran ilmiah secara non-dogmatis. Dengan gaya argumentasi yang ketat dan spekulatif, ia menghidupkan kembali pertanyaan klasik metafisika dalam konteks filsafat kontemporer.
Daftar Isi
Quentin Meillassoux lahir pada 26 Oktober 1967 di Paris, Prancis. Ia menempuh pendidikan filsafat di École Normale Supérieure, salah satu institusi paling prestisius dalam tradisi filsafat Prancis. Dalam lingkungan intelektual ini, Meillassoux terpapar pada warisan besar filsafat kontinental, termasuk fenomenologi, strukturalisme, dan pascastrukturalisme. Salah satu pengaruh intelektual terpentingnya adalah Alain Badiou, di bawah bimbingannya Meillassoux menyelesaikan disertasi doktoral yang kemudian menjadi dasar karya terkenalnya After Finitude.
Berbeda dengan banyak filsuf Prancis sezamannya, Meillassoux dikenal relatif jarang menerbitkan karya, namun setiap tulisannya memiliki dampak teoretis yang sangat besar. Ia mengajar filsafat di Université Paris 1 Panthéon-Sorbonne dan lebih dikenal sebagai pemikir sistematis daripada intelektual publik. Gaya pemikirannya yang ketat, matematis, dan spekulatif menjadikannya figur yang kontroversial sekaligus berpengaruh dalam perdebatan metafisika kontemporer.
Fondasi utama filsafat Meillassoux adalah kritik terhadap apa yang ia sebut sebagai korelasionisme, yaitu pandangan filosofis yang menyatakan bahwa kita tidak pernah dapat mengetahui realitas sebagaimana adanya, melainkan hanya korelasi antara pikiran dan dunia. Menurut Meillassoux, sejak Kant, filsafat Barat terjebak dalam keyakinan bahwa segala pengetahuan tentang dunia selalu bergantung pada struktur subjektivitas manusia. Ia menilai posisi ini bermasalah karena menutup kemungkinan berpikir tentang realitas yang ada secara independen dari manusia. Kritik terhadap korelasionisme menjadi langkah awal Meillassoux untuk membuka kembali ruang bagi metafisika spekulatif.
Salah satu argumen paling terkenal Meillassoux adalah masalah ancestral statements, yaitu pernyataan ilmiah tentang peristiwa yang terjadi jauh sebelum kemunculan manusia, seperti usia bumi atau asal-usul alam semesta. Ia berargumen bahwa korelasionisme tidak mampu menjelaskan makna objektif dari pernyataan-pernyataan ini, karena jika realitas selalu bergantung pada subjek, maka bagaimana mungkin kita berbicara secara bermakna tentang dunia pra-manusia? Dengan mengangkat persoalan ini, Meillassoux menunjukkan ketegangan mendasar antara filsafat korelasionis dan praktik sains modern.
Meillassoux mengembangkan gagasan tentang kontingensi absolut, yaitu pandangan bahwa tidak ada alasan niscaya mengapa dunia harus seperti sekarang ini. Ia secara radikal menolak principle of sufficient reason, prinsip metafisika klasik yang menyatakan bahwa segala sesuatu harus memiliki alasan atau sebab yang memadai. Bagi Meillassoux, satu-satunya keniscayaan adalah keniscayaan kontingensi itu sendiri. Dunia tidak tunduk pada hukum-hukum yang niscaya secara metafisik, melainkan hanya pada fakta bahwa segala sesuatu dapat berubah tanpa alasan. Pandangan ini secara drastis menantang tradisi rasionalisme dan teologi metafisik.
Untuk menghindari relativisme, Meillassoux memperkenalkan konsep factuality, yaitu fakta bahwa segala sesuatu bersifat kontingen. Ia berargumen bahwa kontingensi itu sendiri dapat diketahui secara absolut, tanpa mengandalkan wahyu metafisik atau teologi. Dengan demikian, ia mengusulkan bentuk absolutisme baru yang tidak dogmatis: absolutisme kontingensi. Pendekatan ini memungkinkan Meillassoux mempertahankan kebenaran objektif sains sekaligus menolak metafisika klasik tentang keniscayaan hukum alam.
Meillassoux memberikan peran istimewa pada matematika sebagai sarana akses terhadap realitas absolut. Ia berpendapat bahwa matematika memungkinkan kita memikirkan dunia sebagaimana adanya, terlepas dari hubungan kita sebagai subjek. Berbeda dari bahasa alami atau pengalaman fenomenologis, matematika tidak bergantung pada struktur persepsi manusia. Dengan demikian, matematika menjadi medium utama bagi sains untuk menggambarkan realitas pra-manusia dan pasca-manusia secara objektif. Pandangan ini menegaskan kembali status ontologis sains dalam filsafat.
Meillassoux juga mengkritik apa yang ia sebut sebagai fideisme spekulatif, yaitu kecenderungan filsafat pasca-metafisik untuk menyerahkan pertanyaan tentang realitas absolut kepada iman, keyakinan, atau keputusan subjektif. Ia berargumen bahwa dengan menolak rasionalitas metafisik, filsafat justru membuka ruang bagi dogmatisme religius atau relativisme ekstrem. Melalui spekulasi rasional tentang kontingensi, Meillassoux berusaha mempertahankan rasionalitas filsafat tanpa kembali pada metafisika klasik yang dogmatis.
Dalam pemikiran lanjutannya, Meillassoux mengeksplorasi kemungkinan spekulatif tentang masa depan, termasuk gagasan tentang “Tuhan yang mungkin” yang belum ada namun dapat muncul secara kontingen. Gagasan ini bukan teologi tradisional, melainkan eksperimen metafisik tentang kemungkinan keadilan absolut di masa depan. Dengan pendekatan ini, Meillassoux memperluas spekulasi metafisik ke wilayah etika dan harapan tanpa mengorbankan komitmennya pada kontingensi radikal.