Dipublikasikan: 13 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 13 Desember 2025
Dipublikasikan: 13 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 13 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Catherine Malabou adalah seorang filsuf Prancis kontemporer yang dikenal luas karena kontribusinya yang orisinal dalam filsafat kontinental, khususnya melalui pengembangan konsep plastisitas (plasticity) yang menjembatani filsafat, psikoanalisis, neurobiologi, dan politik. Pemikirannya menempati posisi penting dalam diskursus filsafat mutakhir karena berusaha membaca ulang warisan Hegel, Heidegger, dan Derrida dalam terang ilmu saraf dan perubahan bentuk subjektivitas modern. Malabou tidak hanya menawarkan konsep baru, tetapi juga mengajukan pertanyaan mendasar tentang identitas, trauma, kebebasan, dan transformasi diri manusia dalam dunia yang ditandai oleh kekerasan struktural, kapitalisme global, dan revolusi ilmiah.
Daftar Isi
Catherine Malabou lahir pada 4 Januari 1959 di Sidi Bel Abbès, Aljazair Prancis. Ia menempuh pendidikan filsafat di Université Paris Nanterre dan École Normale Supérieure, tempat ia berada dalam lingkungan intelektual filsafat Prancis pascastrukturalis. Salah satu pengaruh penting dalam formasi intelektualnya adalah Jacques Derrida, di bawah bimbingannya Malabou menulis disertasi doktoral yang kemudian berkembang menjadi karya penting tentang Hegel. Hubungan intelektualnya dengan Derrida bersifat dialogis dan kritis, karena Malabou tidak hanya melanjutkan dekonstruksi, tetapi juga berusaha melampauinya.
Malabou mengajar di berbagai universitas internasional, termasuk Université Paris Nanterre dan University of California, Irvine. Ia dikenal sebagai filsuf yang aktif membangun dialog lintas disiplin, khususnya antara filsafat dan ilmu saraf. Karyanya mendapat perhatian luas karena keberaniannya memikirkan ulang subjek manusia tidak hanya sebagai konstruksi bahasa atau struktur sosial, tetapi juga sebagai realitas biologis yang plastis dan dapat berubah secara radikal akibat trauma, penyakit, atau kondisi historis tertentu.
Konsep plastisitas merupakan pusat dari seluruh pemikiran Catherine Malabou. Plastisitas, sebagaimana ia rumuskan, memiliki makna ganda: kemampuan untuk menerima bentuk dan kemampuan untuk memberi bentuk, bahkan menghancurkan bentuk yang ada. Dengan merujuk pada Hegel, Malabou menunjukkan bahwa plastisitas bukan sekadar kelenturan pasif, melainkan daya aktif transformasi. Subjek manusia tidak hanya dibentuk oleh struktur eksternal, tetapi juga memiliki kapasitas untuk membentuk dan membongkar dirinya sendiri. Konsep ini menolak pandangan statis tentang identitas dan membuka ruang bagi pemahaman eksistensi sebagai proses transformasi yang berkelanjutan dan tidak dapat direduksi pada satu esensi tetap.
Malabou memberikan pembacaan baru terhadap Hegel dengan menekankan dimensi plastis dalam dialektika. Ia menolak interpretasi Hegel yang melihat dialektika sebagai gerak logis tertutup menuju sintesis final. Sebaliknya, ia menafsirkan dialektika sebagai proses terbuka yang memungkinkan perubahan radikal dan bahkan kehancuran bentuk sebelumnya. Dalam kerangka ini, sejarah dan subjektivitas tidak bergerak menuju tujuan final yang sudah ditentukan, melainkan terbuka terhadap kontingensi dan kejutan. Pembacaan ini menjadikan Hegel relevan bagi pemikiran kontemporer tentang identitas, politik, dan transformasi sosial.
Salah satu kontribusi paling inovatif Malabou adalah upayanya mengintegrasikan temuan-temuan ilmu saraf ke dalam refleksi filosofis tentang subjek. Ia menaruh perhatian khusus pada konsep plastisitas otak, yaitu kemampuan otak untuk berubah secara struktural sebagai respons terhadap pengalaman, trauma, atau kerusakan. Malabou menggunakan temuan ini untuk menantang pandangan filosofis yang menganggap subjek sebagai entitas stabil atau sepenuhnya ditentukan oleh bahasa dan simbol. Namun, ia juga mengkritik kecenderungan reduksionis dalam neurobiologi yang mengabaikan dimensi historis dan politis subjektivitas.
Malabou mengembangkan analisis mendalam tentang trauma, khususnya trauma neurologis, yang menurutnya dapat menghasilkan bentuk subjektivitas baru yang sama sekali asing bagi identitas sebelumnya. Dalam konteks ini, plastisitas tidak selalu bersifat positif atau emansipatoris; ia juga dapat bersifat destruktif. Trauma dapat menghancurkan kontinuitas identitas dan melahirkan subjek yang tidak lagi mengenali dirinya sendiri. Dengan analisis ini, Malabou memperluas filsafat subjektivitas dengan memasukkan dimensi kerentanan biologis dan kekerasan material yang sering diabaikan oleh teori sosial dan psikoanalisis klasik.
Malabou juga mengajukan kritik tajam terhadap kapitalisme kontemporer yang mengadopsi bahasa fleksibilitas, adaptabilitas, dan kreativitas. Ia menunjukkan bahwa konsep fleksibilitas yang diagungkan kapitalisme neoliberal berbeda secara mendasar dari plastisitas. Fleksibilitas menuntut penyesuaian tanpa transformasi sejati, sedangkan plastisitas mengandung potensi perubahan struktural dan resistensi. Dengan membedakan keduanya, Malabou membuka ruang bagi kritik politik yang tidak hanya berfokus pada ekonomi, tetapi juga pada pembentukan subjektivitas yang patuh dan mudah disesuaikan dengan tuntutan sistem.
Meskipun dekat dengan tradisi dekonstruksi, Malabou berusaha melampauinya dengan menekankan materialitas dan transformasi nyata subjek. Ia mengkritik kecenderungan dekonstruksi untuk tetap berputar pada bahasa dan teks, dan mengusulkan pendekatan yang lebih memperhatikan tubuh, otak, dan kondisi material kehidupan manusia. Dengan demikian, pemikirannya dapat dipahami sebagai upaya membangun filsafat pasca-dekonstruktif yang tetap kritis namun lebih terhubung dengan realitas biologis dan politik.