Dipublikasikan: 13 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 13 Desember 2025
Dipublikasikan: 13 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 13 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Jacques Rancière adalah seorang filsuf Prancis kontemporer yang dikenal luas karena pemikirannya yang radikal dan orisinal mengenai politik, demokrasi, kesetaraan, seni, dan pendidikan. Ia menempati posisi penting dalam filsafat politik dan estetika kontemporer karena keberaniannya mendefinisikan ulang politik bukan sebagai praktik kekuasaan atau institusi negara, melainkan sebagai momen gangguan yang mengungkap kesetaraan fundamental manusia. Pemikiran Rancière menolak hierarki epistemik dan sosial yang mapan, serta menantang asumsi bahwa sebagian manusia secara alamiah lebih layak memerintah, berbicara, atau berpikir daripada yang lain. Dengan gaya argumentasi yang tajam dan konseptual, Rancière menjadi salah satu pemikir paling berpengaruh dalam diskursus politik dan estetika abad ke-21.
Daftar Isi
Jacques Rancière lahir pada 10 Juni 1940 di Aljazair Prancis. Ia menempuh pendidikan filsafat di École Normale Supérieure di Paris, di mana ia sempat menjadi murid Louis Althusser. Pada awal kariernya, Rancière terlibat dalam proyek strukturalisme Marxis yang dipelopori Althusser, namun ia kemudian mengambil jarak secara tegas dari gurunya tersebut. Perpecahan intelektual ini terjadi setelah peristiwa Mei 1968, ketika Rancière menilai bahwa pendekatan Althusserian bersifat elitis dan justru mereproduksi hierarki intelektual antara mereka yang “tahu” dan mereka yang “tidak tahu”.
Rancière kemudian mengembangkan jalur pemikirannya sendiri yang menekankan kesetaraan intelektual dan kritik terhadap segala bentuk dominasi simbolik. Ia mengajar filsafat di Université Paris VIII (Vincennes–Saint-Denis), sebuah institusi yang dikenal dengan tradisi pemikiran kritis dan eksperimental. Sepanjang kariernya, Rancière secara konsisten menulis tentang politik, sejarah pemikiran, estetika, dan pendidikan, sambil tetap menjaga jarak dari posisi filsuf sebagai otoritas yang mengklaim pengetahuan superior.
Inti filsafat politik Rancière terletak pada redefinisi radikal tentang apa itu politik. Ia membedakan secara tegas antara “politik” dan “polisi”. Polisi, dalam pengertian Rancière, bukan semata institusi penegak hukum, melainkan seluruh tatanan sosial yang mengatur siapa boleh berbicara, apa yang dapat dilihat, dan peran apa yang dianggap sah dalam masyarakat. Politik sejati justru muncul ketika tatanan ini diganggu oleh mereka yang sebelumnya tidak diakui sebagai subjek politik. Dengan demikian, politik bukanlah manajemen kekuasaan, melainkan peristiwa emansipatoris yang menyingkap ketidakadilan dalam pembagian peran sosial.
Berbeda dari banyak teori politik yang memandang kesetaraan sebagai tujuan yang harus dicapai melalui institusi atau kebijakan, Rancière menegaskan bahwa kesetaraan harus dipahami sebagai asumsi awal. Kesetaraan bukan hasil pendidikan, reformasi, atau pembangunan, melainkan prinsip yang sudah ada dan harus diverifikasi melalui tindakan politik. Dalam kerangka ini, setiap individu dianggap memiliki kapasitas intelektual yang setara, dan segala bentuk hierarki pengetahuan dipandang sebagai konstruksi sosial yang melanggengkan dominasi. Gagasan ini menjadi dasar bagi kritik Rancière terhadap elitisme politik dan intelektual.
Rancière memandang demokrasi bukan sebagai sistem pemerintahan yang stabil dan terlembaga, melainkan sebagai “skandal” dalam tatanan politik. Demokrasi, menurutnya, adalah kekuasaan mereka yang tidak memiliki kualifikasi khusus untuk memerintah. Justru karena itu, demokrasi selalu mengancam logika pemerintahan berbasis kompetensi, keahlian, atau kelahiran. Dalam pandangan Rancière, banyak kritik terhadap demokrasi modern sebenarnya mencerminkan ketakutan elit terhadap hilangnya monopoli kekuasaan dan pengetahuan. Demokrasi sejati tidak pernah nyaman bagi tatanan mapan karena ia selalu membuka kemungkinan bagi suara yang tak terduga.
Dalam filsafat estetika, Rancière mengembangkan konsep distribution of the sensible, yaitu cara suatu masyarakat mengatur apa yang dapat dilihat, didengar, dipikirkan, dan dirasakan. Seni, bagi Rancière, memiliki dimensi politik bukan karena pesan ideologisnya, melainkan karena kemampuannya mengubah konfigurasi persepsi kolektif. Dengan mengganggu batas-batas antara seni dan kehidupan sehari-hari, antara tinggi dan rendah, seni membuka ruang bagi pengalaman dan subjek baru. Estetika dengan demikian menjadi medan politik yang penting, di mana tatanan sosial dapat dipertanyakan dan direkonstruksi.
Salah satu gagasan paling terkenal Rancière adalah konsep “guru yang tidak tahu” yang ia kembangkan dari kisah Joseph Jacotot. Dalam pandangan ini, pendidikan tidak seharusnya berfungsi sebagai transfer pengetahuan dari yang tahu ke yang tidak tahu, melainkan sebagai proses verifikasi kesetaraan intelektual. Guru bukanlah otoritas epistemik, melainkan fasilitator yang mendorong murid untuk menggunakan kapasitas berpikirnya sendiri. Kritik ini ditujukan terhadap sistem pendidikan modern yang sering kali, secara tidak sadar, mereproduksi ketidaksetaraan melalui asumsi superioritas intelektual pengajar.
Rancière juga dikenal karena kritiknya terhadap tradisi teori kritis yang terlalu menekankan kesadaran palsu dan dominasi ideologis. Ia berargumen bahwa pendekatan semacam itu justru merampas kapasitas emansipatoris subjek dengan menganggap mereka sebagai korban yang tidak sadar. Sebaliknya, Rancière menekankan kemampuan subjek biasa untuk berpikir, berbicara, dan bertindak secara politis tanpa perlu pencerahan dari intelektual. Kritik ini menjadikannya figur yang kontroversial namun berpengaruh dalam perdebatan filsafat politik kontemporer.