Dipublikasikan: 13 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 13 Desember 2025
Dipublikasikan: 13 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 13 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Peter Sloterdijk adalah seorang filsuf Jerman kontemporer yang dikenal karena gaya pemikirannya yang provokatif, metaforis, dan lintas disiplin, serta karena kritik tajamnya terhadap modernitas, humanisme, dan kondisi eksistensial manusia modern. Ia menempati posisi unik dalam filsafat kontemporer Eropa karena tidak sepenuhnya dapat dimasukkan ke dalam satu mazhab tertentu. Pemikirannya menggabungkan filsafat eksistensial, fenomenologi, psikoanalisis, antropologi filosofis, serta refleksi tentang teknologi, globalisasi, dan krisis peradaban. Sloterdijk dikenal luas sebagai filsuf budaya dan filsuf publik yang berusaha membaca ulang kondisi manusia dalam dunia modern yang ditandai oleh keterasingan, kemarahan kolektif, dan transformasi ruang hidup manusia.
Daftar Isi
Peter Sloterdijk lahir pada 26 Juni 1947 di Karlsruhe, Jerman. Ia menempuh pendidikan filsafat, sastra Jerman, dan sejarah di Universitas Munich dan Universitas Hamburg. Salah satu pengaruh penting dalam pembentukan intelektualnya adalah Martin Heidegger, terutama dalam hal analisis keberadaan dan kritik terhadap metafisika Barat, meskipun Sloterdijk kemudian mengembangkan jalur pemikiran yang sangat berbeda dan lebih eksperimental. Ia meraih gelar doktor dengan disertasi yang berfokus pada kritik terhadap rasionalitas modern dan hubungan antara subjek, bahasa, dan dunia.
Sloterdijk mulai dikenal luas setelah terbitnya karya Critique of Cynical Reason pada awal 1980-an, yang menjadikannya figur sentral dalam filsafat Jerman pascaperang. Selain karier akademik, ia juga aktif sebagai intelektual publik, penulis esai, dan pembicara dalam diskursus budaya dan politik. Ia pernah menjabat sebagai rektor Hochschule für Gestaltung di Karlsruhe dan secara rutin terlibat dalam perdebatan publik tentang pendidikan, politik, bioteknologi, dan masa depan Eropa. Sloterdijk dikenal karena keberaniannya mengajukan gagasan kontroversial yang sering memicu perdebatan luas, baik di kalangan akademisi maupun masyarakat umum.
Salah satu kontribusi awal dan paling berpengaruh dari Sloterdijk adalah analisisnya tentang sinisme modern. Dalam Critique of Cynical Reason, ia membedakan antara sinisme klasik, yang bersifat subversif dan membebaskan seperti pada Diogenes, dan sinisme modern yang bersifat reflektif namun pasif. Sinisme modern, menurut Sloterdijk, adalah kondisi kesadaran di mana individu mengetahui bahwa sistem sosial dan politik yang mereka jalani bermasalah, tetapi tetap berpartisipasi di dalamnya karena merasa tidak ada alternatif. Sinisme ini bukan ketidaktahuan, melainkan “kesadaran palsu yang tercerahkan”, sebuah bentuk rasionalitas defensif yang memungkinkan manusia bertahan dalam sistem yang menindas tanpa benar-benar menantangnya.
Sloterdijk mengembangkan bentuk antropologi filosofis yang menempatkan manusia sebagai makhluk yang selalu melatih diri (anthropotechnics). Ia berpendapat bahwa manusia tidak memiliki esensi tetap, melainkan membentuk dirinya melalui praktik, disiplin, dan latihan—baik fisik, mental, spiritual, maupun sosial. Dari agama, filsafat, olahraga, hingga pendidikan modern, semua dipahami sebagai sistem latihan yang bertujuan membentuk cara hidup tertentu. Dengan pendekatan ini, Sloterdijk menolak humanisme klasik yang menganggap manusia sebagai subjek rasional yang sudah jadi, dan menggantikannya dengan pandangan tentang manusia sebagai proyek yang terus-menerus dibentuk melalui teknik-teknik kehidupan.
Karya monumental Sloterdijk adalah trilogi Spheres, di mana ia mengembangkan filsafat ruang yang orisinal dan kompleks. Dalam trilogi ini, ia menganalisis bagaimana manusia selalu hidup dalam “ruang-ruang bersama” yang bersifat simbolik, emosional, dan material. Dari hubungan intim ibu dan anak, komunitas religius, hingga negara dan globalisasi, semua dipahami sebagai upaya manusia menciptakan ruang perlindungan terhadap dunia yang asing dan mengancam. Sloterdijk menunjukkan bahwa sejarah manusia adalah sejarah penciptaan dan runtuhnya ruang-ruang eksistensial, dan bahwa krisis modernitas dapat dipahami sebagai krisis ruang hidup bersama.
Dalam Rage and Time, Sloterdijk menganalisis peran emosi kolektif, khususnya kemarahan, dalam sejarah politik. Ia berargumen bahwa banyak gerakan politik besar dapat dipahami sebagai upaya mengelola, menyimpan, dan menyalurkan kemarahan kolektif. Agama, ideologi, dan negara berfungsi sebagai “bank kemarahan” yang menunda atau mengarahkan balas dendam sosial. Dalam konteks modern, Sloterdijk melihat bahwa mekanisme tradisional pengelolaan kemarahan mengalami krisis, menghasilkan bentuk-bentuk politik yang semakin ekstrem dan tidak stabil. Analisis ini memperluas filsafat politik dengan memasukkan dimensi afektif dan psikologis secara serius.
Sloterdijk juga dikenal karena kritiknya terhadap humanisme klasik, terutama dalam esainya yang kontroversial Rules for the Human Zoo. Ia mempertanyakan apakah humanisme berbasis pendidikan literer masih relevan dalam era bioteknologi dan rekayasa genetik. Sloterdijk menyoroti bahwa manusia modern telah memasuki fase di mana mereka secara aktif mengatur kondisi biologis dan kultural eksistensinya sendiri. Kritik ini bukanlah dukungan terhadap eugenika, melainkan upaya untuk memaksa filsafat dan etika menghadapi kenyataan baru tentang kekuasaan manusia atas kehidupan. Pemikirannya mendorong perdebatan serius tentang tanggung jawab etis dalam era teknologi tinggi.
Sloterdijk melihat globalisasi bukan hanya sebagai fenomena ekonomi atau politik, tetapi sebagai transformasi radikal ruang hidup manusia. Ia menggambarkan dunia modern sebagai “interior global”, sebuah ruang tertutup yang rapuh di mana manusia hidup dalam sistem teknologis yang saling bergantung. Pandangan ini menekankan kerentanan peradaban modern terhadap krisis ekologis, ekonomi, dan eksistensial. Sloterdijk mengajak untuk memikirkan ulang solidaritas, tanggung jawab, dan cara hidup bersama dalam dunia yang semakin terintegrasi namun juga semakin rentan.