Dipublikasikan: 13 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 13 Desember 2025
Dipublikasikan: 13 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 13 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Bruno Latour adalah seorang filsuf, antropolog, dan sosiolog ilmu pengetahuan asal Prancis yang secara radikal mengubah cara manusia memahami sains, teknologi, politik, dan relasi antara manusia dengan dunia non-manusia. Ia dikenal luas sebagai penggagas Actor-Network Theory (ANT), sebuah pendekatan yang menolak pemisahan tradisional antara subjek dan objek, alam dan masyarakat, fakta dan nilai. Pemikiran Latour menempati posisi penting dalam filsafat kontemporer karena keberhasilannya membongkar fondasi metafisik modernitas dan menawarkan cara berpikir baru yang lebih relasional, plural, dan ekologis dalam menghadapi krisis dunia modern, khususnya krisis iklim dan politik pengetahuan.
Daftar Isi
Bruno Latour lahir pada 22 Juni 1947 di Beaune, Prancis, dalam keluarga dengan latar belakang budaya dan pendidikan yang kuat. Ia menempuh pendidikan filsafat dan antropologi, kemudian menyelesaikan studi doktoralnya di bidang filsafat. Sejak awal karier intelektualnya, Latour menunjukkan ketertarikan mendalam pada praktik konkret pengetahuan, terutama bagaimana fakta ilmiah dihasilkan, dipertahankan, dan memperoleh otoritas sosial. Ketertarikan ini membawanya pada pendekatan yang tidak lazim bagi filsafat tradisional, yaitu penelitian etnografis di laboratorium ilmiah.
Latour mengajar dan meneliti di berbagai institusi akademik ternama, termasuk École des Mines de Paris dan Sciences Po, tempat ia mendirikan Médialab sebagai pusat riset interdisipliner tentang sains, teknologi, dan masyarakat. Ia juga menjadi profesor tamu di sejumlah universitas internasional dan aktif sebagai intelektual publik yang terlibat dalam perdebatan tentang politik, modernitas, dan ekologi. Sepanjang hidupnya, Latour menolak label disipliner yang sempit dan lebih memilih menyebut dirinya sebagai penyelidik relasi, jaringan, dan praktik dunia kontemporer. Ia wafat pada 9 Oktober 2022, meninggalkan warisan intelektual yang luas dan terus diperdebatkan lintas disiplin.
Inti pemikiran Bruno Latour terletak pada Actor-Network Theory (ANT), sebuah pendekatan yang menantang secara mendasar cara berpikir modern yang membedakan secara tegas antara manusia dan benda, subjek dan objek, serta alam dan masyarakat. Dalam ANT, Latour memperkenalkan istilah aktor atau aktant untuk merujuk pada segala entitas—baik manusia maupun non-manusia—yang memiliki kapasitas untuk memengaruhi keadaan lain dalam suatu jaringan. Dengan demikian, teknologi, mikroba, dokumen, mesin, dan institusi diperlakukan secara analitis setara dengan manusia dalam proses produksi tindakan dan makna. Latour menegaskan bahwa tindakan tidak pernah sepenuhnya milik individu, melainkan merupakan hasil dari jaringan relasi heterogen yang saling menopang dan membatasi satu sama lain.
Latour secara konsisten menolak pandangan positivistik yang menganggap sains sebagai representasi objektif dunia yang berdiri di luar masyarakat. Melalui studi lapangan di laboratorium, ia menunjukkan bahwa fakta ilmiah dihasilkan melalui rangkaian praktik material dan sosial, termasuk eksperimen, instrumen, tulisan ilmiah, grafik, serta negosiasi antarilmuwan. Namun, Latour juga menolak relativisme ekstrem yang menyamakan fakta ilmiah dengan opini semata. Baginya, objektivitas sains merupakan hasil kerja kolektif yang berhasil menstabilkan jaringan relasi antara manusia, alat, dan dunia material. Dengan pendekatan ini, Latour memindahkan perdebatan dari pertanyaan “apakah sains benar” ke pertanyaan “bagaimana kebenaran ilmiah dibuat dan dipertahankan”.
Dalam karyanya yang sangat berpengaruh, We Have Never Been Modern, Latour mengajukan tesis provokatif bahwa modernitas—yang mengklaim pemisahan antara alam dan masyarakat—sebenarnya tidak pernah sungguh-sungguh terwujud. Ia berargumen bahwa praktik modern justru penuh dengan entitas hibrida yang menggabungkan unsur alam, teknologi, politik, dan budaya, seperti perubahan iklim, bioteknologi, dan sistem informasi global. Namun, ideologi modern menutupi kenyataan ini dengan mempertahankan mitos pemurnian antara fakta dan nilai. Kritik Latour tidak bertujuan untuk menolak sains, melainkan untuk membongkar kerangka konseptual yang menghambat pemahaman kita terhadap dunia yang semakin kompleks dan saling terhubung.
Latour mengkritik konsep “masyarakat” sebagai entitas yang sudah ada sebelumnya dan menentukan tindakan individu. Dalam Reassembling the Social, ia mengusulkan bahwa yang disebut sosial harus dipahami sebagai hasil perakitan sementara dari relasi-relasi konkret. Sosial bukanlah sebab, melainkan akibat dari interaksi berbagai aktor dalam jaringan. Pendekatan ini menggeser fokus analisis dari struktur abstrak ke proses konkret perakitan dunia sosial. Dengan demikian, ontologi Latour bersifat relasional dan dinamis, menolak esensi tetap dan menekankan keberlanjutan relasi sebagai dasar keberadaan.
Pada fase akhir pemikirannya, Latour semakin menaruh perhatian pada krisis ekologis global dan perubahan iklim. Ia berargumen bahwa krisis ini bukan sekadar masalah lingkungan, melainkan krisis politik dan metafisik yang mengguncang fondasi modernitas. Latour mengembangkan gagasan tentang “politik alam”, yaitu bentuk politik yang mengakui peran aktor non-manusia seperti sungai, hutan, atmosfer, dan spesies lain dalam kehidupan kolektif. Ia menolak politik antropo-sentris yang menganggap manusia sebagai pusat dan penguasa alam, dan menyerukan pembentukan institusi politik baru yang mampu memperhitungkan keterikatan manusia dengan bumi sebagai sistem yang rapuh dan terbatas.
Dalam proyek filosofis besarnya An Inquiry into Modes of Existence, Latour mengembangkan gagasan bahwa realitas terdiri dari berbagai cara keberadaan yang berbeda, masing-masing dengan logika, norma, dan kriteria keberhasilannya sendiri. Sains, hukum, agama, politik, dan teknologi tidak dapat direduksi satu sama lain karena masing-masing beroperasi dalam mode eksistensi yang khas. Pendekatan ini mencerminkan upaya Latour untuk membangun ontologi plural yang menghindari reduksionisme sekaligus mempertahankan komitmen terhadap praktik konkret. Dengan demikian, filsafat Latour menawarkan cara baru untuk memahami pluralitas dunia tanpa jatuh pada relativisme nihilistik.