Susan Haack

Dipublikasikan: 12 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 12 Desember 2025

Raymond Kelvin Nando — Susan Haack adalah salah satu filsuf kontemporer paling berpengaruh di bidang epistemologi, logika, dan filsafat sains. Ia dikenal karena pendekatannya yang unik, yaitu foundherentism, yang mencoba menjembatani tradisi rasionalisme dan empirisme dalam teori pengetahuan. Haack menekankan bahwa keyakinan rasional manusia didasarkan pada kombinasi bukti empiris dan struktur justifikasi internal yang koheren, sehingga mengatasi kelemahan ekstrem dari fundamentalisme maupun koherensianisme murni. Pemikirannya memberikan kontribusi penting bagi filsafat ilmu, teori justifikasi, dan debat epistemologi modern tentang rasionalitas dan bukti.

Biografi Susan Haack

Susan Haack lahir pada 9 Maret 1945 di Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat. Ia menempuh pendidikan di Wellesley College dan kemudian memperoleh gelar Ph.D. dari Harvard University. Sepanjang kariernya, Haack mengajar di berbagai universitas, termasuk University of Miami, University of St. Andrews, dan University of Warwick, serta menjadi profesor filsafat di University of Miami. Haack dikenal sebagai intelektual yang sangat produktif dan kritis, menulis banyak buku dan artikel yang membahas epistemologi, logika, filsafat sains, serta isu kontemporer seperti skeptisisme dan teori kebenaran. Karyanya yang paling terkenal, Evidence and Inquiry (1993), memperkenalkan pendekatan foundherentism, yang kini menjadi salah satu kontribusi utama dalam epistemologi kontemporer.

Pemikiran Susan Haack

Foundherentism: Jembatan antara Fundamentalisme dan Koherensianisme

Haack memperkenalkan konsep foundherentism sebagai jawaban terhadap kelemahan dua teori utama justifikasi pengetahuan: fundamentalisme dan koherensianisme. Ia berargumen bahwa justifikasi epistemik tidak dapat sepenuhnya bergantung pada dasar empiris yang murni, karena itu akan mengabaikan hubungan internal antara keyakinan-keyakinan seseorang. Sebaliknya, koherensianisme murni yang menekankan konsistensi internal tanpa bukti empiris juga tidak memadai karena bisa menghasilkan sistem keyakinan yang koheren tetapi jauh dari kenyataan. Foundherentism memadukan kedua pendekatan, menekankan bahwa keyakinan rasional membutuhkan bukti empiris yang cukup sekaligus koherensi internal antara keyakinan, sehingga pengetahuan manusia menjadi seimbang antara dasar pengalaman dan struktur internal rasional.

Orang lain juga membaca :  Joseph Butler

Epistemologi dan Justifikasi

Dalam epistemologi, Haack menekankan pentingnya bukti dan metode pengujian dalam membentuk keyakinan yang rasional. Ia menolak skeptisisme radikal dengan menunjukkan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk membedakan keyakinan yang baik dan buruk melalui evaluasi bukti dan pertimbangan koherensi. Haack berpendapat bahwa justifikasi moral dan intelektual harus dipahami sebagai proses dinamis: keyakinan diperkuat atau diperbaiki melalui pengujian terhadap pengalaman dan argumentasi rasional. Pandangan ini menekankan tanggung jawab epistemik individu dalam membentuk dan menilai keyakinannya.

Filosofi Sains dan Kebenaran

Haack juga memberikan kontribusi besar dalam filsafat sains. Ia menekankan bahwa teori ilmiah harus dievaluasi berdasarkan bukti empiris sekaligus koherensi internal dengan teori dan fakta lain yang diterima. Ia menolak pandangan bahwa sains hanya bergantung pada metode formal atau prinsip empiris secara tunggal. Dengan demikian, Haack menawarkan pendekatan yang realistis terhadap kebenaran ilmiah, yang mengakui keterbatasan manusia dalam pengetahuan namun tetap mempertahankan standar objektif melalui pengujian dan evaluasi kritis.

Kritik terhadap Relativisme dan Skeptisisme

Haack juga dikenal kritis terhadap relativisme epistemik dan skeptisisme yang ekstrem. Ia berargumen bahwa meskipun pengetahuan manusia tidak sempurna, hal itu tidak membenarkan pandangan bahwa kebenaran sepenuhnya relatif atau tidak dapat dicapai. Dengan pendekatan foundherentist, Haack menunjukkan bahwa manusia dapat memiliki keyakinan yang rasional dan terbukti, sambil tetap terbuka terhadap koreksi dan pembaruan berdasarkan bukti baru. Pandangan ini membuat epistemologi Haack relevan untuk perdebatan kontemporer mengenai sains, teori konspirasi, dan kepercayaan publik.

Integrasi Filosofi Analitik dan Praktik Ilmiah

Haack berhasil menggabungkan filsafat analitik yang ketat dengan praktik ilmiah nyata. Ia menekankan bahwa epistemologi tidak boleh dipisahkan dari praktik manusia sehari-hari dalam mengevaluasi klaim dan membuat keputusan rasional. Pendekatannya memberikan jembatan antara teori abstrak dan aplikasi praktis, menjadikan karyanya penting tidak hanya bagi filsuf tetapi juga bagi ilmuwan, pendidik, dan pengambil keputusan.

Orang lain juga membaca :  Martin Buber

Karya-Karya Penting Susan Haack

  • Evidence and Inquiry: Towards Reconstruction in Epistemology (1993)
  • Defending Science—Within Reason: Between Scientism and Cynicism (2003)
  • Manifesto of a Passionate Moderate: Unfashionable Essays (1998)
  • Philosophy of Logics (1978)
  • Thinking About Evidence (2009)

Referensi

  • Haack, S. (1993). Evidence and inquiry: Towards reconstruction in epistemology. Blackwell.
  • Haack, S. (2003). Defending science—Within reason: Between scientism and cynicism. Prometheus Books.
  • Haack, S. (1978). Philosophy of logics. Cambridge University Press.
  • Haack, S. (2009). Thinking about evidence. Wiley-Blackwell.
  • Steup, M., & Sosa, E. (Eds.). (2005). Contemporary debates in epistemology. Blackwell.
  • Bonjour, L. (2002). Epistemology: Classic problems and contemporary responses. Rowman & Littlefield.

Citation

Previous Article

Christine Marion Korsgaard

Next Article

Emha Ainun Nadjib

Citation copied!