Derek Parfit

Dipublikasikan: 12 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 12 Desember 2025

Raymond Kelvin Nando — Derek Parfit adalah salah satu filsuf moral dan politik paling berpengaruh pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21. Ia dikenal karena argumen-argumen radikalnya mengenai identitas personal, rasionalitas, etika normatif, dan moralitas antar generasi. Melalui karya-karyanya yang monumental seperti Reasons and Persons dan On What Matters, Parfit mengubah wajah filsafat moral kontemporer dan membuka arah baru dalam teori etika, khususnya utilitarianisme, kontraktualisme, dan teori alasan.

Biografi Derek Parfit

Derek Antony Parfit lahir pada 11 Desember 1942 di Chengdu, Tiongkok, dari orang tua dokter misionaris. Ia dibesarkan di Inggris dan kemudian menempuh pendidikan di Eton College serta Balliol College, Oxford. Pada awalnya, Parfit hendak menjadi penyair, namun kemudian berpaling ke filsafat setelah memenangkan fellowship di All Souls College, Oxford—salah satu posisi akademik paling prestisius di dunia filsafat.

Parfit mengabdikan hampir seluruh hidupnya di All Souls, tanpa banyak melibatkan diri dalam pengajaran formal. Ia dikenal sebagai pemikir yang sangat teliti, sering menulis ulang argumennya hingga puluhan tahun. Karya pertamanya, Reasons and Persons (1984), segera menjadi revolusioner. Pada tahun-tahun selanjutnya, ia memusatkan perhatian pada etika normatif dan teori moral, menghasilkan karya epik On What Matters (2011 dan 2017). Parfit wafat pada 1 Januari 2017, tetapi warisannya terus hidup melalui debat dan kajian moralitas modern.

Orang lain juga membaca :  Niccolò Cusano

Pemikiran Derek Parfit

Identitas Personal sebagai Hubungan Psikologis

Identitas bukan yang penting

Dalam Reasons and Persons, Parfit berargumen bahwa identitas personal tidak memiliki peran moral atau praktis yang fundamental. Ia menolak bahwa “kelangsungan diri” bergantung pada identitas numerik yang tetap. Sebaliknya, yang penting adalah continuity dan connectedness psikologis, seperti ingatan, niat, dan karakter.

Kasus teleportasi dan pembelahan

Parfit menggunakan eksperimen pikiran seperti teleportasi dan pembelahan otak untuk menunjukkan bahwa identitas numerik tidak relevan:

  • Jika seseorang ditransfer melalui teleportasi dan tubuhnya diproduksi kembali, apakah itu dirinya?
  • Jika otak dibelah dan masing-masing belahan ditempatkan pada dua tubuh, mana dirinya?

Parfit menyimpulkan bahwa identitas adalah “pertanyaan kosong” (empty question). Yang penting adalah kelangsungan psikologis, bukan keberlanjutan entitas yang sama.

Etika dan Alasan: Pandangan Objektivis

Alasan bersifat objektif

Parfit menolak subjektivisme dalam teori alasan. Menurutnya:

  • Ada alasan normatif objektif yang tidak tergantung pada keinginan atau preferensi individu
  • Kita memiliki alasan kuat untuk tidak merugikan orang lain
  • Alasan moral lebih mendasar daripada alasan egoistik

Pandangan ini merupakan bagian inti dari proyek besar On What Matters.

Teori Moral: Penyatuan Utilitarianisme dan Kontraktualisme

Triple Theory

Parfit berargumen bahwa tiga teori moral besar—

  • Kantianisme
  • Kontraktualisme Scanlon
  • Utilitarianisme aturan

—dapat disatukan ke dalam kerangka yang sama. Ia menyebutnya “Triple Theory,” di mana tindakan benar adalah tindakan yang tidak akan ditolak oleh siapa pun yang terpengaruh, dan yang aturan umum penerapannya akan memberikan hasil terbaik.

Parfit berusaha menunjukkan bahwa banyak perbedaan dalam teori moral sebenarnya bersifat permukaan.

Masalah Populasi dan Etika Antar Generasi

The Repugnant Conclusion

Parfit terkenal karena analisis masalah populasi dalam etika utilitarian. Ia menunjukkan bahwa versi utilitarianisme tertentu menghasilkan kesimpulan aneh:

  • Populasi besar dengan kehidupan nyaris tidak berharga bisa dianggap lebih baik daripada populasi kecil dengan kehidupan sangat baik
Orang lain juga membaca :  Laozi (Lao-Tzu)

Kesimpulan ini ia sebut “repugnant,” tetapi ia juga menunjukkan bahwa banyak teori moral lain menghadapi dilema serupa. Hal ini membuka debat luas tentang etika planet, perubahan iklim, dan tanggung jawab terhadap generasi masa depan.

Rasionalitas dan Diri dalam Waktu

Parfit menolak rasionalitas egoistik yang hanya memperhatikan masa kini. Menurutnya:

  • Kita juga harus mempertimbangkan “diri masa depan” sebagai pihak yang terpengaruh
  • Ketidakpedulian terhadap diri masa depan sama tidak rasionalnya dengan ketidakpedulian kepada orang lain

Gagasan ini memengaruhi teori pilihan waktu dan kebijakan publik mengenai tabungan, kesehatan, dan pemanfaatan sumber daya.

Karya-Karya Penting Derek Parfit

  • Reasons and Persons (1984)
  • On What Matters, Vol. 1 & 2 (2011)
  • On What Matters, Vol. 3 (2017)
  • “Personal Identity” (1971)
  • Berbagai makalah dalam filsafat moral, rasionalitas, dan teori alasan

Referensi

  • Parfit, D. (1984). Reasons and persons. Oxford University Press.
  • Parfit, D. (2011). On what matters (Vols. 1–2). Oxford University Press.
  • Parfit, D. (2017). On what matters (Vol. 3). Oxford University Press.
  • Scanlon, T. M. (1998). What we owe to each other. Harvard University Press.
  • Broome, J. (2012). Climate matters: Ethics in a warming world. Norton.
  • Holt, T. (2015). Why does the world exist? Liveright.

Citation

Previous Article

Peter Frederick Strawson

Next Article

Alasdair Chalmers MacIntyre

Citation copied!