Dipublikasikan: 12 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 12 Desember 2025
Dipublikasikan: 12 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 12 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Hilary Putnam adalah salah satu filsuf paling berpengaruh dalam tradisi analitik pada abad ke-20 dan awal abad ke-21. Ia memainkan peran besar dalam perkembangan filsafat bahasa, filsafat pikiran, logika, matematika, metafisika, serta epistemologi. Putnam dikenal karena keberaniannya merevisi pandangannya sendiri, membuat karya-karyanya menjadi peta evolusi intelektual yang dinamis: dari realisme ilmiah ke internal realism, dari fungsionalisme ke kritik atas computationalism, hingga refleksi mendalam mengenai etika dan pragmatisme. Kontribusinya membentuk banyak perdebatan filsafat modern, mulai dari semantik eksternalis hingga kritik terhadap representasionalisme.
Daftar Isi
Hilary Whitehall Putnam lahir pada 31 Juli 1926 di Chicago, Illinois. Ia tumbuh dalam keluarga yang aktif secara politik dan intelektual; ayahnya, Samuel Putnam, adalah jurnalis dan penerjemah terkemuka. Putnam menempuh pendidikan di University of Pennsylvania sebelum melanjutkan studi doktoral di University of California, Los Angeles, di bawah bimbingan Hans Reichenbach.
Karier akademiknya membentang di berbagai universitas besar, termasuk Princeton University dan Massachusetts Institute of Technology (MIT), sebelum akhirnya menduduki posisi profesor di Harvard University pada 1960. Di Harvard, Putnam menjadi salah satu figur utama dalam filsafat analitik global.
Selain filsafat murni, ia terlibat aktif dalam isu-isu sosial, gerakan anti-perang, serta diskusi moral tentang teknologi dan masyarakat. Putnam juga mengalami transformasi spiritual dengan kembali kepada Yudaisme pada periode akhir hidupnya.
Ia wafat pada 13 Maret 2016, meninggalkan jejak yang sangat luas dalam hampir semua cabang filsafat teoretis.
Putnam adalah salah satu perumus pertama teori fungsionalisme, yang memandang keadaan mental bukan sebagai kondisi material tertentu di otak, tetapi sebagai peran fungsional dalam sistem komputasional atau kausal.
Keadaan mental → ditentukan oleh relasinya dengan input sensorik, output perilaku, dan keadaan mental lain.
Salah satu argumen penting Putnam adalah multiple realizability:
Argumen ini menggugat teori identitas jenis (type identity theory) yang menyamakan keadaan mental dengan jenis keadaan fisik tertentu.
Menariknya, Putnam kemudian menolak bentuk awal fungsionalisme dengan argumen bahwa tidak ada sistem fisik yang benar-benar dapat dipetakan secara unik ke mesin Turing tertentu. Ia menyatakan bahwa hampir semua sistem fisik dapat dipandang sebagai mesin Turing, sehingga computationalism tidak punya daya eksplanatif yang kuat.
Putnam terkenal dengan eksperimen pikir Twin Earth (Bumi Kembar). Dua individu identik menggunakan kata “air”, tetapi substansi di planet mereka berbeda (H₂O vs XYZ). Kesimpulannya:
Ini menjadi dasar semantik eksternalis.
Menurut Putnam, pemahaman makna melibatkan:
Dengan demikian, penutur tidak perlu mengetahui seluruh esensi ilmiah suatu objek untuk merujuk padanya.
Putnam pada awalnya membela realisme ilmiah dengan argumen bahwa keberhasilan ilmu tidak dapat dijelaskan sebagai kebetulan—menolak realisme berarti mengatakan “keajaiban” terjadi.
Pada 1980-an, Putnam menolak realisme metafisik “dunia objektif yang terstruktur secara independen dari skema konseptual manusia.” Ia mengembangkan internal realism, yang menyatakan bahwa:
Namun internal realism bukanlah relativisme, karena Putnam tetap mempertahankan norma rasionalitas dan objektivitas dalam kerangka pragmatis.
Putnam terkenal karena argumen linguistiknya terhadap skenario skeptis “otak dalam wadah.” Ia berpendapat bahwa jika kita benar-benar otak dalam wadah, maka bahasa kita tidak dapat mereferensikan dunia eksternal seperti “wadah,” “otak,” atau “komputer.”
Kesimpulannya:
Putnam menggunakan teori model untuk menunjukkan bahwa realisme metafisik tidak dapat membedakan antara model “intended” dan model non-standar dari teori matematika atau fisika, sehingga membuat klaim metafisik realis menjadi ambigu.
Ia menolak pandangan bahwa matematika harus didasarkan pada fondasi tunggal (logicism, formalism, atau intuitionism). Bagi Putnam, matematika adalah praktik kolektif yang tidak dapat direduksi pada satu skema absolut.
Putnam terinspirasi oleh William James dan John Dewey. Ia menekankan bahwa filsafat harus berfungsi sebagai kritik terhadap dogmatisme:
Ia mengembangkan pragmatisme yang tetap mempertahankan kebenaran objektif dalam batas praktik manusia.
Putnam menolak pemisahan tajam antara fakta dan nilai. Ia menegaskan bahwa:
Putnam melihat etika sebagai bagian dari upaya memahami kehidupan manusia secara utuh, bukan sekadar ekspresi emosional atau preferensi subjektif.