Dipublikasikan: 12 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 12 Desember 2025
Dipublikasikan: 12 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 12 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Michael Dummett adalah salah satu filsuf analitik terpenting abad ke-20, terutama dalam bidang filsafat bahasa, logika, semantik, dan metafisika. Ia dikenal sebagai pembela utama anti-realisme, pengembang teori makna berbasis penggunaan (use-based meaning theory), serta penafsir paling berpengaruh dari karya Gottlob Frege. Pemikirannya tidak hanya mengubah arah kajian filsafat bahasa, tetapi juga memengaruhi teori kebenaran, logika intuisionistik, dan perdebatan metafisik kontemporer.
Daftar Isi
Michael Anthony Eardley Dummett lahir pada 27 Juni 1925 di London, Inggris. Ia menempuh pendidikan di Winchester College sebelum bergabung dengan Angkatan Darat Inggris selama Perang Dunia II. Setelah perang, ia melanjutkan studi di Christ Church, University of Oxford, di mana minatnya pada logika dan filsafat matematika berkembang pesat.
Dummett kemudian menjadi profesor filsafat di University of Oxford dan menerima gelar Wykeham Professor of Logic, salah satu posisi akademis paling prestisius di Inggris. Selama kariernya, ia menulis secara luas mengenai logika, semantik, metafisika, serta isu-isu sosial seperti imigrasi dan keadilan rasial. Ia juga dikenal sebagai aktivis yang vokal menentang rasisme, khususnya melalui keterlibatannya dalam gerakan untuk keadilan imigran di Inggris.
Warisan intelektual Dummett meliputi revitalisasi studi tentang Frege, pembangunan argumen sistematis untuk anti-realisme, serta kontribusi penting terhadap teori makna berbasis bukti. Ia wafat pada 27 Desember 2011, meninggalkan pengaruh besar yang terus dibahas dalam filsafat analitik modern.
Dummett mengembangkan anti-realisme sebagai kritik terhadap konsepsi klasik tentang kebenaran. Bagi kaum realis, sebuah pernyataan dapat bernilai benar meskipun tidak dapat diverifikasi oleh manusia. Dummett menolak ini. Ia berpendapat bahwa kebenaran suatu pernyataan harus bergantung pada kemampuan manusia untuk menentukan kebenaran tersebut secara prinsip.
Dengan demikian, kebenaran tidak bersifat transcendent, tetapi bergantung pada kondisi verifikasi epistemik.
Anti-realisme Dummett menyiratkan penolakan terhadap prinsip excluded middle (P ∨ ¬P) sebagai prinsip universal. Menurutnya, prinsip itu hanya sah jika kita dapat membuktikan salah satu dari dua kemungkinan secara konstruktif.
Ini mengarah pada pertahanan terhadap logika intuisionistik, yang menjadi basis bagi versi anti-realis teori kebenaran.
Dummett mengusulkan bahwa pertanyaan metafisik, seperti realisme vs anti-realisme, harus diselesaikan melalui analisis bahasa. Metafisika menjadi cabang semantik: apa yang dapat dikatakan dan dibuktikan melalui penggunaan bahasa menentukan apa yang dapat dianggap “ada.”
Melanjutkan gagasan Wittgenstein dan Frege, Dummett menegaskan bahwa makna suatu ekspresi linguistik tidak ditentukan oleh referensi eksternal semata, tetapi oleh aturan penggunaan yang mengatur cara ekspresi itu dipakai dalam praktik.
Makna ditentukan oleh:
Dummett memandang bahwa pemahaman makna sebuah kalimat berkaitan dengan kemampuan untuk mengenali bukti yang relevan bagi kebenaran atau ketidakbenarannya. Dengan demikian, semantik menjadi disiplin yang sangat terkait dengan epistemologi.
Ia menolak pandangan “truth-conditional semantics” yang terlalu menitikberatkan pada kondisi kebenaran eksternal. Bagi Dummett, teori tersebut tidak cukup menjelaskan bagaimana penutur sebenarnya memahami bahasa.
Dummett dianggap tokoh kunci dalam interpretasi modern terhadap Frege. Ia berpendapat bahwa Frege secara implisit mengembangkan teori makna berbasis penggunaan, dan bahwa filsafat analitik semestinya mengikuti garis pemikiran ini.
Dummett juga menyoroti aspek yang ia anggap problematis dalam metafisika Frege, terutama komitmen terhadap entitas-abstrak (sense) yang sifatnya tidak jelas dalam terminologi epistemik.
Ia membedakan antara:
Dummett lebih memilih pembacaan kedua.
Dummett merumuskan argumen filosofis untuk mendukung logika intuisionistik Brouwer dan Heyting. Bagi intuisionisme, bukti konstruktif adalah dasar seluruh matematika.
Dummett berpendapat bahwa:
Baginya, argumen matematika adalah praktik sosial berbasis bukti, bukan penemuan entitas abstrak yang eksis secara independen.
Di luar filsafat murni, Dummett menulis secara ekstensif mengenai politik keadilan rasial. Ia menentang kebijakan imigrasi diskriminatif di Inggris dan memperjuangkan:
Ia menekankan bahwa argumen moral yang kuat harus berbasis pada koherensi publik dan dapat diuji melalui dialog masyarakat. Pandangan ini konsisten dengan gaya berpikir analitik yang menuntut transparansi struktur argumentatif.