Axel Honneth

Dipublikasikan: 12 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 12 Desember 2025

Raymond Kelvin Nando — Axel Honneth adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam teori kritis generasi ketiga Mazhab Frankfurt. Ia dikenal sebagai perumus teori pengakuan modern yang menempatkan hubungan antarindividu sebagai dasar normatif bagi keadilan sosial. Melalui karyanya, Honneth mengembangkan sintesis antara filsafat sosial, psikologi moral, dan teori politik, menjadikan pemikirannya landasan penting dalam analisis masyarakat kontemporer, identitas, konflik sosial, dan tuntutan emansipatoris.

Biografi Axel Honneth

Axel Honneth lahir pada 18 Juli 1949 di Essen, Jerman. Ia menempuh studi filsafat, sosiologi, dan sastra Jerman di Universitas Bonn, Bochum, dan Berlin. Pada awal kariernya, ia bekerja bersama Jürgen Habermas di Goethe Universität Frankfurt, yang kelak memengaruhi arah pemikirannya dalam mengembangkan teori kritis lanjutan.

Pada 1996, Honneth menjadi direktur Institut für Sozialforschung (Institut Penelitian Sosial) di Frankfurt, posisi yang membawanya sebagai penerus resmi Mazhab Frankfurt setelah Habermas. Ia juga mengajar di Northwestern University dan kemudian mengisi kursi filsafat sosial di Columbia University. Karya-karyanya diterjemahkan ke berbagai bahasa dan memengaruhi diskursus global tentang keadilan, moralitas, solidaritas, dan struktur sosial.

Pemikiran Axel Honneth

Teori Pengakuan

Dasar moral dari konflik sosial

Honneth mengembangkan teori pengakuan dengan menekankan bahwa tuntutan keadilan sosial lahir dari pengalaman ketidakdiakuiannya status seseorang. Konflik sosial bukan hanya masalah material, tetapi juga persoalan moral mengenai bagaimana individu merasa dihargai sebagai subjek.

Orang lain juga membaca :  Joan Baptista Van Helmont

Baginya, pengakuan adalah prasyarat perkembangan identitas pribadi dan partisipasi sosial.

Tiga bentuk pengakuan: cinta, hak, solidaritas

Honneth mengidentifikasi tiga bentuk pengakuan fundamental:

  • Cinta (love): hubungan afektif dalam keluarga atau lingkaran dekat, memberikan dasar kepercayaan diri.
  • Hak (rights): pengakuan legal terhadap individu sebagai pribadi otonom yang memiliki status setara dalam hukum.
  • Solidaritas (solidarity): pengakuan sosial terhadap kontribusi individu, memungkinkan terciptanya rasa harga diri.

Ketika salah satu bentuk pengakuan ini dilanggar, muncullah bentuk disrespect yang memicu perjuangan sosial.

Ketidakadilan sebagai disrespek

Bagi Honneth, ketidakadilan tidak hanya diukur dengan distribusi material, tetapi juga pengalaman penghinaan, pengucilan, atau penyangkalan hak moral. Ini membuka jalan bagi pemahaman konflik sosial sebagai perjuangan moral, bukan sekadar ekonomi.

Hubungan antara Teori Sosial dan Psikologi Moral

Pengaruh dari Hegel dan Mead

Honneth memadukan pemikiran G. W. F. Hegel mengenai perjuangan pengakuan dengan psikologi sosial George Herbert Mead. Dari Hegel ia memperoleh gagasan bahwa identitas diri dibentuk melalui relasi saling mengakui; dari Mead ia mengambil konsep interaksi simbolik dan perkembangan diri.

Hasilnya adalah teori normatif yang mendasarkan keadilan pada kondisi psikologis yang memungkinkan individu berkembang secara utuh.

Perkembangan diri sebagai proses intersubjektif

Identitas seseorang tidak terbentuk dalam isolasi, tetapi melalui interaksi sosial. Kerusakan relasi sosial, diskriminasi, atau pengucilan dapat menghambat perkembangan moral dan psikologis individu.

Dengan demikian, emansipasi sosial berarti memperbaiki relasi intersubjektif yang rusak.

Kritik terhadap Neoliberalisme dan Struktur Sosial Modern

Erosi solidaritas

Dalam karya-karya terbarunya, Honneth berpendapat bahwa neoliberalisme menimbulkan “korosi” solidaritas sosial:

  • Kompetisi berlebihan melemahkan pengakuan terhadap kontribusi sosial non-ekonomi
  • Hubungan kerja menjadi individualistik
  • Status sosial semakin didasarkan pada performativitas, bukan pengakuan moral
Orang lain juga membaca :  Bertrand Arthur William Russell

Krisis institusi pengakuan

Honneth menunjukkan bahwa institusi modern—hukum, pasar kerja, masyarakat sipil—seharusnya menjadi medium pengakuan. Namun, kapitalisme neoliberal sering mengubahnya menjadi arena dominasi dan eksploitasi.

Hal ini menciptakan ketidakadilan struktural yang tidak hanya material, tetapi juga moral.

Demokrasi dan Kebebasan Sosial

Kritik terhadap liberalisme atomistik

Honneth mengkritik model liberal yang terlalu menekankan otonomi individual tanpa memperhatikan kondisi sosial yang memungkinkan kebebasan. Bentuk kebebasan yang sejati, bagi Honneth, adalah kebebasan sosial—yakni kebebasan yang muncul dari relasi saling mendukung.

Kebebasan sosial dalam institusi

Ia mengidentifikasi tiga institusi utama tempat kebebasan sosial terealisasikan:

  • Keluarga (melalui hubungan cinta dan kepedulian)
  • Pasar (melalui kerja yang saling mengakui kontribusi individu)
  • Masyarakat demokratis (melalui partisipasi dan deliberasi kolektif)

Kebebasan sejati hanya mungkin jika ketiga ranah tersebut berfungsi sebagai medium pengakuan.

Rekonstruksi Kritik Sosial

Kritik imanen

Honneth menghidupkan kembali metode kritik imanen: mengkritik masyarakat berdasarkan standar normatif yang sudah tertanam dalam institusi sosialnya. Kritik sosial, menurutnya, harus berangkat dari nilai-nilai moral yang sudah diakui secara implisit oleh masyarakat, lalu menunjukkan di mana institusi gagal mewujudkannya.

Emansipasi sebagai ekspansi pengakuan

Kemajuan sosial dianggap terjadi ketika bentuk-bentuk pengakuan diperluas, termasuk pengakuan terhadap kelompok marjinal yang sebelumnya tidak tampak dalam tatanan sosial.

Karya-Karya Penting Axel Honneth

  • The Struggle for Recognition: The Moral Grammar of Social Conflicts (1995)
  • The Critique of Power: Reflective Stages in a Critical Social Theory (1991)
  • Disrespect: The Normative Foundations of Critical Theory (2007)
  • Freedom’s Right: The Social Foundations of Democratic Life (2014)
  • The Idea of Socialism (2017)
  • Recognition: A Chapter in the History of European Ideas (2020)

Referensi

  • Honneth, A. (1995). The struggle for recognition: The moral grammar of social conflicts. MIT Press.
  • Honneth, A. (2007). Disrespect: The normative foundations of critical theory. Polity Press.
  • Honneth, A. (2014). Freedom’s right: The social foundations of democratic life. Columbia University Press.
  • Deranty, J.-P. (2009). Beyond communication: A critical study of Axel Honneth’s social philosophy. Brill.
  • Thompson, S. (2016). Alienation and freedom: The struggles of Axel Honneth. Columbia University Press.
  • Zurn, C. F. (2015). Axel Honneth: A critical theory of the social. Polity Press.
Orang lain juga membaca :  Ernst Cassirer

Citation

Previous Article

Nancy Fraser

Next Article

Michael Dummett

Citation copied!