Base16

Dipublikasikan: 11 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 11 Desember 2025

Raymond Kelvin Nando — Base16 merupakan metode encoding yang merepresentasikan data biner ke dalam bentuk teks menggunakan 16 simbol heksadesimal. Teknik ini sangat sederhana, sangat deterministik, dan menjadi dasar dari hampir seluruh representasi data dalam komputasi modern––mulai dari hash, bytecode, alamat memori, nilai warna, hingga protokol jaringan. Base16 sering disebut sebagai hexadecimal encoding, dan meskipun kurang efisien secara panjang output, sederhananya membuat Base16 tetap digunakan luas dalam berbagai sistem teknis.

Pengertian Base16

Base16 adalah skema encoding yang mengubah setiap byte (8 bit) menjadi dua karakter heksadesimal (4 bit + 4 bit). Set karakter Base16 terdiri dari:
0–9 mewakili nilai 0–9
A–F mewakili nilai 10–15

Karena setiap karakter Base16 mewakili 4 bit, encoding ini selalu memperluas data sebanyak dua kali ukuran aslinya. Base16 tidak memiliki padding dan dapat direpresentasikan dalam huruf besar (A–F) atau huruf kecil (a–f). Fungsi utamanya adalah menyediakan representasi tekstual yang aman, stabil, dan universal dari data biner untuk pemrosesan, debugging, dokumentasi, dan transfer.

Sejarah Perkembangan Base16

Penggunaan representasi heksadesimal muncul di era awal komputasi digital ketika komputer menggunakan arsitektur berbasis 4-bit, 8-bit, dan 16-bit. Representasi oktal dan heksadesimal mulai menggantikan sistem biner langsung karena lebih ringkas dan mudah dibaca manusia. Pada tahun 1960-an hingga 1970-an, heksadesimal menjadi standar de facto pada sistem mainframe, papan sirkuit, dan debugging memori.

Orang lain juga membaca :  ABI Encoding

Heksadesimal digunakan dalam ASCII dump, Intel HEX format, Motorola S-Record, hingga dalam protokol jaringan seperti IPv6 dan berbagai format hash (MD5, SHA-1, SHA-256). Dengan munculnya RFC 4648 yang menetapkan standar Base16 pada tahun 2006, Base16 resmi mendapatkan definisi formal dalam ekosistem internet. Hingga kini, Base16 tetap menjadi encoding biner-untuk-teks paling fundamental dalam seluruh dunia komputasi.

Prinsip Dasar dan Metode Base16

Base16 beroperasi berdasarkan pemetaan langsung 1 byte ke 2 karakter heksadesimal.

1. Representasi 4-bit

Satu karakter hex mewakili 4 bit.
0000 → 0
0001 → 1

1111 → F

2. Mapping Byte ke Hex

1 byte = 8 bit
8 bit dibagi menjadi dua bagian 4-bit.
Contoh: byte 0xAF
A → 1010
F → 1111
Encoding → “AF”

3. Case-insensitive

Heksadesimal dapat berupa huruf besar atau kecil.
AF = af

4. Deterministik dan tanpa padding

Tidak ada simbol “=”, tidak ada padding.
Output selalu panjang tetap: 2 karakter per byte.

5. Proses Encode

Ambil setiap byte → konversi ke nilai heksadesimal → susun berurutan.

6. Proses Decode

Ambil dua karakter hex → gabungkan → konversi ke nilai byte.

7. Keamanan

Base16 bukan enkripsi.
Base16 hanyalah representasi teks dari data biner.

8. Kesesuaian luas

Digunakan dalam debugging, signature, checksum, memory dump, konfigurasi protokol, dan token identitas.

Contoh Input → Output Base16

Contoh 1: String sederhana

Input: hi
ASCII: 68 69 (hex)
Output: 6869

Contoh 2: Kalimat

Input: OK
O = 4F
K = 4B
Output: 4F4B

Contoh 3: Binary data

Input bytes: 00 FF 10 2A
Output: 00FF102A

Contoh 4: Hash

SHA-256(hello) menghasilkan bytes yang diserialisasi ke hex panjang 64 karakter:
2CF24D… (panjang total 64)

Contoh 5: Warna RGB

RGB(255, 128, 64) → FF8040

Orang lain juga membaca :  APCO-25 IMBE

Contoh 6: UUID

UUID binary 16-byte → 32 hex:
550E8400E29B41D4A716446655440000
Lalu diformat: 550e8400-e29b-41d4-a716-446655440000

Contoh 7: Decoding

Input: 414243
41 → A
42 → B
43 → C
Output: ABC

Kelebihan & Kekurangan Base16

Kelebihan:

  • Sangat sederhana dan mudah dibaca manusia.
  • Deterministik dan stabil lintas platform.
  • Cocok untuk debugging, analisis memori, dan tampilan data biner.
  • Banyak dipakai dalam protokol teknis dan format file.
  • Sangat mudah diimplementasikan dalam bahasa pemrograman apa pun.
  • Tidak membutuhkan padding.
  • Ideal untuk representasi hash, signature, dan bytecode.

Kekurangan:

  • Tidak efisien (ukuran output 2x lebih besar).
  • Tidak cocok untuk transport data berukuran besar.
  • Tidak menyediakan keamanan sama sekali.
  • Lebih verbose daripada Base32 atau Base64.
  • Tidak cocok untuk konteks bandwidth rendah.
  • Kurang padat untuk token web.
  • Tidak memiliki deteksi kesalahan bawaan.

Referensi

  • Josefsson, S. (2006). The Base16, Base32, and Base64 Data Encodings. RFC 4648.
  • Stallings, W. (2020). Cryptography and Network Security.
  • Tanenbaum, A. (2011). Computer Networks.
  • Intel Corp. Intel HEX File Format Specification.
  • NIST. (2015). Secure Hash Standard Documentation.

Citation

Previous Article

Baudot

Next Article

Base32

Citation copied!