Dipublikasikan: 10 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 27 Desember 2025
Dipublikasikan: 10 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 27 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Alphanumeric Encoding merupakan metode pengkodean yang mengonversi karakter huruf, angka, dan simbol tertentu ke dalam bentuk representasi digital sehingga dapat disimpan, diproses, atau ditransmisikan oleh sistem komputer maupun perangkat komunikasi. Teknik ini menjadi dasar dari hampir seluruh standar penyandian karakter modern karena menyediakan pemetaan yang terstruktur, terukur, dan kompatibel lintas platform.
Daftar Isi
Alphanumeric Encoding adalah proses mengkodekan karakter alfanumerik—umumnya mencakup A–Z, a–z, 0–9, serta sejumlah simbol dasar—ke dalam nilai numerik tertentu yang dapat dipahami perangkat digital. Beragam standar encoding seperti ASCII, EBCDIC, Base32, Base45, Base62, hingga Base91 termasuk dalam kategori encoding alfanumerik karena memetakan karakter ke dalam bentuk bit atau ke dalam alfabet khusus untuk transmisi berbasis teks.
Fungsi utamanya adalah menyediakan representasi universal dari karakter sehingga memungkinkan interoperabilitas antar-sistem, penyimpanan data teks, serta proses encoding lanjutan seperti hashing, enkripsi, atau kompresi.
Pengembangan Alphanumeric Encoding berawal dari kebutuhan telekomunikasi dan komputer untuk menggunakan himpunan karakter yang seragam. Pada awal abad ke-20, sistem telegraf dan mesin kartu punch menggunakan kode yang tidak konsisten antarnegara dan antarmesin, sehingga mempersulit pertukaran data.
Pada tahun 1960-an, standar seperti ASCII dan EBCDIC mulai diperkenalkan sebagai penyatuan format karakter. ASCII kemudian menjadi fondasi mayoritas sistem komputer modern, sementara EBCDIC dipertahankan di lingkungan mainframe IBM. Setelah memasuki era internet, kebutuhan efisiensi transmisi data berbasis teks memicu perkembangan encoding seperti Base64, Base32, Base58, dan Base62, yang digunakan dalam email, URL, blockchain, dan penyandian identitas.
Alphanumeric Encoding terus berkembang untuk memenuhi kebutuhan keamanan, efisiensi, dan kompatibilitas, terutama pada sistem terdistribusi dan aplikasi web modern.
Beberapa prinsip dasar yang digunakan dalam Alphanumeric Encoding:
Contoh 1: ASCII
Input: HELLO
Output (decimal):
H = 72
E = 69
L = 76
L = 76
O = 79
Contoh 2: Base32
Input: HI
Output: JBSQ====
Contoh 3: Base62
Alfabet: 0-9, A-Z, a-z
Input: 99999
Output (base62): Q0T
Contoh 4: Pengkodean alfanumerik pada QR Code mode Alphanumeric
Alfabet: 0–9, A–Z, spasi, $, %, *, +, -, ., /, :
Input: HELLO WORLD
Output (pair encoding):
HE → (H * 45 + E) = (17 * 45 + 14) = 779
LL → 21 * 45 + 21 = 966
O → 24
sp → 36
WO → 32 * 45 + 24 = 1464
RL → 27 * 45 + 21 = 1236
D → 13
Kelebihan:
Kekurangan:
Alphanumeric Encoding adalah metode untuk merepresentasikan huruf, angka, dan simbol tertentu dalam format digital atau biner agar dapat diproses oleh komputer atau sistem komunikasi.
Fungsi utamanya adalah untuk memungkinkan teks dan data alfanumerik dikodekan, disimpan, dan ditransmisikan secara efisien di perangkat digital. Contohnya termasuk ASCII, Unicode, dan QR code yang menggunakan encoding alfanumerik untuk menyimpan karakter.
Alphanumeric Encoding penting karena memungkinkan interoperabilitas antar sistem digital, komunikasi data yang akurat, dan penyimpanan informasi teks secara efisien. Tanpa encoding ini, komputer tidak dapat memahami atau memproses karakter teks dengan benar.