Dipublikasikan: 10 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 27 Desember 2025
Dipublikasikan: 10 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 27 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — ADS-B Encoding merupakan mekanisme pengkodean data posisi dan informasi navigasi pesawat yang digunakan dalam sistem Automatic Dependent Surveillance–Broadcast (ADS-B). Teknologi ini memungkinkan pesawat memancarkan data secara otomatis tanpa interogasi radar, sehingga meningkatkan akurasi pemantauan lalu lintas udara. Encoding dalam ADS-B dirancang untuk menjaga efisiensi transmisi, kompatibilitas frekuensi, serta ketahanan terhadap interferensi, sekaligus memastikan bahwa data kritis seperti posisi, kecepatan, heading, identitas pesawat, dan status penerbangan dapat diterima oleh stasiun darat maupun pesawat lain secara real-time. Karena sifatnya yang terbuka dan dapat diterima oleh siapa saja dengan peralatan penerima sederhana, ADS-B Encoding memainkan peran strategis dalam keselamatan dan transparansi navigasi modern.
Daftar Isi
ADS-B Encoding adalah proses pengkodean data penerbangan ke dalam format pesan tertentu yang kemudian dipancarkan melalui frekuensi 1090 MHz Extended Squitter (1090ES) atau Universal Access Transceiver (UAT) pada 978 MHz. Data yang dikodekan mencakup informasi navigasi penting seperti koordinat GPS, kecepatan pesawat, altitude, identitas ICAO, nomor penerbangan, dan berbagai parameter status lainnya.
Pesan ADS-B memiliki struktur bit yang ketat untuk memastikan transmisi efisien dan mudah di-decode. Format paling umum adalah pesan 112 bit (untuk 1090ES), yang berisi Downlink Format, ICAO Address, dan Message Body yang mengenkapsulasi berbagai tipe data seperti posisi, kecepatan, atau identitas. Proses encoding menentukan bagaimana data dikompresi, disusun, dan diklasifikasikan berdasarkan tipe pesan.
Dengan ADS-B Encoding, semua data navigasi dapat dipancarkan tanpa interogasi radar. Hal ini membuatnya menjadi sistem dependent (bergantung pada GPS), namun automatic dan broadcast, sehingga seluruh data dapat diterima secara luas oleh ATC maupun pesawat lain.
ADS-B berawal dari pengembangan surveillance generasi baru pada tahun 1990-an oleh FAA dan ICAO sebagai respons terhadap keterbatasan radar konvensional. Radar primer memiliki jangkauan terbatas, lambat, dan tidak mampu memberikan data posisi akurat pada area terpencil, sementara radar sekunder tetap membutuhkan interogasi aktif sehingga menambah beban pada sistem.
Pada akhir 1990-an, teknologi GPS mulai matang, memungkinkan penggunaan sumber posisi independen yang jauh lebih akurat. Sistem ADS-B kemudian dirancang untuk memanfaatkan GPS sebagai sumber utama posisi dan mengimplementasikan encoding tertentu agar pesan dapat dipancarkan secara efisien. 1090 Extended Squitter (1090ES) dipilih sebagai standar global karena kompatibel dengan Mode S Transponder yang sudah ada. Struktur pesan 112 bit pun ditetapkan ICAO sebagai format universal.
Pada tahun 2000-an, standar ADS-B mulai diadopsi oleh berbagai negara. FAA memasukkan ADS-B dalam program NextGen, sementara Eropa mengadopsinya melalui regulasi EASA dan Eurocontrol. Pesawat komersial modern saat ini wajib menggunakan ADS-B Out dengan format encoding tertentu, menjadikannya fondasi utama surveillance global masa kini. Perkembangan lanjutan termasuk pengoptimalan encoding posisi, pembaruan ke format UAT 978 MHz untuk wilayah tertentu, dan integrasi sistem satelit untuk cakupan global.
ADS-B Encoding mengikuti beberapa prinsip dan metode teknis yang membentuk struktur pesan dan proses pengkodeannya:
Terdiri dari:
Encoding menentukan bagaimana data ditempatkan dalam bidang-bidang tersebut.
Bagian pesan body memiliki Type Code (TC) yang menentukan jenis informasi:
Type Code mengatur skema encoding yang berbeda untuk setiap jenis data.
Metode encoding posisi untuk menghemat bit:
CPR memungkinkan akurasi posisi tinggi tanpa menggunakan banyak bit.
Pesan ADS-B Out dibangun di atas Mode S transponder. Encoding mengikuti aturan Mode S termasuk struktur alamat dan parity.
Digunakan terutama di AS untuk pesawat non-komersial:
Informasi seperti altitude menggunakan:
Semua parameter dipetakan ke bit-bit tertentu sesuai standar ICAO Annex 10.
Tiap pesan mencakup 24 bit parity agar dapat diverifikasi dan disinkronkan oleh receiver.
Berikut contoh sederhana ilustratif:
A1B2C3DF: 10001
ICAO: 101000011011001011000011
BODY: 010101100010111001011101001011001100110010111000
CRC: 110011010011011011010010
8D A1B2C3 566E5D2CCCE8 CD36D2
Format di atas adalah contoh representasi hex dari pesan ADS-B 1090ES hasil encoding.
ADS-B Encoding adalah metode pengkodean data yang digunakan dalam sistem Automatic Dependent Surveillance–Broadcast (ADS-B) untuk mengirimkan informasi posisi dan status pesawat. Data ini disiarkan secara otomatis oleh pesawat dan dapat diterima oleh stasiun darat maupun pesawat lain.
ADS-B Encoding mencakup data seperti posisi geografis pesawat, ketinggian, kecepatan, arah terbang, identitas pesawat, dan waktu pengiriman. Informasi tersebut dikodekan dalam format digital tertentu agar dapat ditransmisikan secara efisien dan dipahami oleh sistem penerima.
ADS-B Encoding penting karena meningkatkan akurasi dan keselamatan pengawasan lalu lintas udara. Dengan data yang dikodekan dan disiarkan secara real-time, pengendali lalu lintas udara dan pilot dapat memantau pergerakan pesawat dengan lebih tepat, bahkan di wilayah yang tidak terjangkau radar konvensional.