Dipublikasikan: 8 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 8 Desember 2025
Dipublikasikan: 8 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 8 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Soteriologi adalah cabang teologi yang mempelajari doktrin keselamatan, baik mengenai kondisi manusia yang membutuhkan keselamatan maupun cara, sarana, dan tujuan akhir keselamatan itu sendiri. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani sōtēría yang berarti “keselamatan” dan logos yang berarti “kajian”. Hampir seluruh agama dan sistem kepercayaan memiliki konsep keselamatan masing-masing, sehingga soteriologi menjadi salah satu bidang kajian paling luas dalam teologi komparatif.
Daftar Isi
Ajaran soteriologi mencakup definisi keselamatan, sumber keselamatan, cara mencapainya, hingga hasil akhir yang diperoleh manusia setelah diselamatkan. Dalam tradisi Abrahamik, keselamatan biasanya dipahami sebagai pembebasan dari dosa, pemulihan hubungan dengan Tuhan, dan hidup kekal dalam hadirat-Nya. Dalam tradisi India seperti Hinduisme, Buddhisme, dan Jainisme, keselamatan lebih dipahami sebagai pembebasan dari samsara, yaitu siklus kelahiran kembali yang penuh penderitaan. Pada beberapa sistem filsafat kuno seperti Platonisme, keselamatan berkaitan dengan pelepasan jiwa dari ketidaktahuan dan keterikatan pada dunia materi.
Berbagai agama memiliki sarana keselamatan yang berbeda-beda. Kekristenan menekankan keselamatan oleh rahmat melalui iman. Islam memandang keselamatan sebagai hasil dari iman, ketaatan, dan rahmat Allah. Buddhisme mengajarkan delapan jalan benar sebagai metode untuk mencapai nirwana. Hinduisme menyediakan berbagai jalan keselamatan seperti bhakti, karma, dan jnana. Soteriologi menjadi wadah untuk membandingkan seluruh pendekatan ini secara sistematis.
Konsep keselamatan telah ada jauh sebelum istilah “soteriologi” diformalkan. Dalam dunia Yunani kuno, gagasan keselamatan muncul melalui misteri religius seperti Eleusis dan Orfisme yang mengajarkan pembebasan jiwa melalui ritus dan pengetahuan. Filsafat Platonis menempatkan keselamatan sebagai pendakian intelektual dan moral menuju dunia ide, sehingga jiwa dibebaskan dari ketidaktahuan.
Dalam Yudaisme kuno, keselamatan dipahami terutama secara kolektif sebagai pembebasan bangsa Israel dari penindasan dan kembalinya mereka kepada perjanjian dengan Yahweh. Pada periode intertestamental, muncul gagasan lebih spiritual tentang penghakiman akhir dan hidup setelah mati, yang kemudian memengaruhi teologi Kristen awal. Kekristenan menempatkan keselamatan sebagai pusat teologinya, melalui pengorbanan Kristus, kebangkitan, dan janji hidup kekal. Debat mengenai sifat dosa, rahmat, dan kehendak bebas membentuk kontroversi besar antara Agustinus, Pelagius, dan para Bapa Gereja lainnya.
Dalam Islam, konsep keselamatan dikembangkan melalui studi Al-Qur’an dan hadis, menekankan ketaatan, amal saleh, dan penyerahan diri kepada kehendak Allah, dengan kompleksitas tambahan melalui teologi kalam yang membahas hubungan antara takdir dan kehendak bebas. Di Timur, Hinduisme, Buddhisme, dan Jainisme memformulasikan model keselamatan yang sangat berbeda, berpusat pada siklus kelahiran kembali dan akhirnya pembebasan dari penderitaan. Pada era modern, soteriologi berekspansi ke ranah sekuler, mengaitkan “keselamatan” dengan transformasi personal, pembebasan sosial, psikologi eksistensial, dan konsep pembebasan struktural seperti yang berkembang dalam teologi pembebasan Amerika Latin.
Tokoh-tokoh penting dalam perkembangan soteriologi mencakup berbagai tradisi: