Shintoisme

Dipublikasikan: 8 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 8 Desember 2025

Raymond Kelvin Nando — Shintoisme adalah agama asli Jepang yang berfokus pada pemujian kami, yaitu roh atau kekuatan ilahi yang hadir dalam alam, leluhur, dan berbagai fenomena kehidupan. Sebagai tradisi religius yang sangat tua, Shintoisme tidak memiliki pendiri tunggal, kitab suci yang bersifat dogmatis, maupun sistem teologi yang terstruktur seperti agama-agama Abrahamik. Shinto terutama menekankan kesucian, harmoni dengan alam, penghormatan leluhur, dan pemeliharaan hubungan baik antara manusia dengan dunia spiritual. Ia berakar dalam budaya, sejarah, dan identitas nasional Jepang, dan hingga kini tetap menjadi kekuatan spiritual dan kultural yang signifikan.

Ajaran Shintoisme

Ajaran Shintoisme bertumpu pada keyakinan bahwa dunia dipenuhi oleh kami, entitas ilahi yang mencakup roh alam, leluhur, dewa lokal, dan kekuatan kosmis. Kami dipandang sebagai realitas yang hidup dan aktif, mampu memberikan berkah maupun mendatangkan ketidakharmonisan jika tidak dihormati.

Shintoisme mengajarkan nilai-nilai kemurnian (purifikasi), harmoni sosial, rasa hormat, kesederhanaan, dan keterhubungan antara manusia dan alam. Ajaran moral Shinto tidak berpijak pada hukum absolut, melainkan pada etika keseharian seperti keselarasan, kejujuran, dan kesopanan.

Ritual adalah pusat kehidupan religius Shinto, khususnya di kuil-kuil (jinja), yang meliputi persembahan, doa, penyucian diri dengan air (misogi), serta festival (matsuri) yang merayakan hubungan masyarakat dengan kami. Shintoisme juga sangat erat terhubung dengan tradisi keluarga melalui penghormatan leluhur dan pemeliharaan altar rumah (kamidana).

Selain itu, konsep makoto (ketulusan hati) menjadi landasan moral Shinto. Tidak ada tuntutan teologis yang rumit; yang terpenting adalah tindakan yang tulus, menghormati alam, dan hidup selaras dengan dunia spiritual.

Orang lain juga membaca :  Humanisme

Sejarah Perkembangan Shintoisme

Sejarah Shintoisme dimulai dari tradisi animis dan pemujaan leluhur masyarakat Jepang kuno yang melihat alam sebagai tempat kediaman roh-roh ilahi. Pada masa awal sejarah Jepang, praktik-praktik Shinto tidak terpisahkan dari kehidupan politik, sosial, dan adat istiadat. Klan-klan besar menyembah kami leluhur mereka, sementara mitologi yang tercatat dalam Kojiki dan Nihon Shoki pada abad ke-8 mengukuhkan status keluarga kekaisaran sebagai keturunan dewi matahari Amaterasu.

Ketika Buddhisme masuk ke Jepang pada abad ke-6, Shintoisme tidak tersingkir, tetapi mengalami proses sinkretisasi yang panjang melalui doktrin shinbutsu shūgō, yang memadukan ikon, kuil, dan konsep Buddhis dengan kepercayaan Shinto. Selama berabad-abad, Shinto dan Buddhisme berjalan berdampingan, dengan banyak kuil yang menjadi pusat ritual gabungan.

Pada era Tokugawa (1603–1868), Shinto mengalami kebangkitan sebagai identitas nasional melalui gerakan Kokugaku, yang menekankan pemurnian tradisi Jepang dari pengaruh asing seperti Buddhisme dan Konfusianisme. Proses ini mencapai puncaknya pada era Meiji (sejak 1868) ketika pemerintah Jepang mendirikan State Shinto, sebuah bentuk Shintoisme resmi yang digunakan untuk memperkuat kekuasaan kekaisaran dan nasionalisme negara. Shinto di era ini berfungsi sebagai ideologi negara dan alat politik yang menegaskan ketaatan rakyat kepada Kaisar sebagai entitas suci.

Setelah kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II, State Shinto dibubarkan oleh pemerintah pendudukan Sekutu, dan Shinto dikembalikan sebagai agama pribadi, bukan agama negara. Periode pascaperang menjadi masa transformasi besar bagi Shinto, yang kini berkembang sebagai tradisi spiritual dan budaya yang hidup dalam festival, ritual kuil, dan praktik rumah tangga.

Di era modern, Shintoisme tetap memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat Jepang melalui perayaan seperti Tahun Baru, ritual kelahiran, pernikahan tradisional, dan berbagai festival lokal. Meskipun tidak banyak pengikut Shinto yang mengidentifikasi diri secara eksklusif sebagai penganut satu agama, tradisi Shinto tetap menjadi fondasi budaya Jepang dan dipandang sebagai bagian integral dari identitas nasional.

Orang lain juga membaca :  Anarkisme Ekonomi

Tokoh-Tokoh Berpengaruh dalam Shintoisme

Karena Shintoisme tidak memiliki pendiri tunggal, tokoh-tokoh berpengaruhnya terutama berasal dari perintis pemikiran yang membantu membentuk identitas Shinto dan menuliskan mitologi serta doktrin awalnya. Tokoh seperti Motoori Norinaga, seorang sarjana Kokugaku, memainkan peran besar dalam memurnikan ajaran Shinto dari pengaruh asing dan menafsirkan kembali teks klasik seperti Kojiki.

Tokoh modern seperti Hirata Atsutane memperkuat pemikiran Shinto sebagai tradisi spiritual dan nasional. Kaisar Jepang, meski bukan tokoh teologis, memiliki peran simbolis dalam perkembangan Shinto, terutama pada era State Shinto ketika kaisar dianggap sebagai sosok suci keturunan Amaterasu. Para imam kuil (kannushi) dan penjaga tradisi lokal juga berperan besar dalam menjaga kontinuitas praktik Shinto dari masa ke masa.

Referensi

  • Breen, J., & Teeuwen, M. (2010). A New History of Shinto. Wiley-Blackwell.
  • Hardacre, H. (2017). Shinto: A History. Oxford University Press.
  • Sokyo, O. (2004). Shinto: The Kami Way. Tuttle Publishing.
  • Picone, M., & Swanson, P. L. (Eds.). (2005). Japanese Religion in Practice. Princeton University Press.
  • Bocking, B. (1997). A Popular Dictionary of Shinto. Routledge.
  • Kuroda, T. (1981). Shinto in the History of Japanese Religion. Princeton University Press.

Citation

Previous Article

Sikhisme

Next Article

Soteriologi

Citation copied!