Sabellianisme

Dipublikasikan: 8 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 8 Desember 2025

Raymond Kelvin Nando — Sabellianisme adalah sebuah aliran teologi awal dalam Kekristenan yang masuk dalam kategori modalisme, yakni keyakinan bahwa Allah adalah satu pribadi yang menampakkan diri dalam tiga bentuk atau mode berbeda: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Ajaran ini berusaha mempertahankan keesaan Allah secara ketat, tetapi dianggap menyimpang oleh gereja arus utama karena mengaburkan perbedaan pribadi dalam Tritunggal. Sabellianisme menjadi salah satu kontroversi kristologis dan trinitarian terbesar pada abad ke-3 M, terutama dalam konteks perdebatan mengenai natur dan hubungan antarpribadi dalam keallahan.

Ajaran Sabellianisme

Ajaran Sabellianisme menekankan bahwa Allah adalah satu pribadi tunggal yang bekerja melalui tiga manifestasi atau ekspresi yang berbeda sepanjang sejarah penyelamatan. Bapa dipahami sebagai mode Allah dalam penciptaan dan otoritas, Anak sebagai manifestasi Allah dalam penebusan melalui Yesus Kristus, dan Roh Kudus sebagai aktivitas Allah dalam pengudusan dan kehadiran-Nya di dunia.

Dalam pandangan Sabellianisme, ketiga realitas tersebut tidak mengacu pada tiga pribadi yang berbeda, tetapi tiga cara Allah menampakkan diri. Dengan demikian, Bapa, Anak, dan Roh Kudus bukanlah tiga entitas yang berbeda secara ontologis, tetapi kesatuan yang hanya dibedakan dalam fungsi dan peran.

Gereja arus utama menolak ajaran ini karena dianggap mereduksi relasi intratrinitaris dan menghilangkan keunikan pribadi Anak serta Roh Kudus, sehingga dianggap bertentangan dengan kesaksian Alkitab tentang relasi antara Bapa dan Anak.

Sejarah Perkembangan Sabellianisme

Sabellianisme muncul pada abad ke-3 M dan dikaitkan dengan tokoh Sabellius, seorang pemimpin gereja yang kemungkinan berasal dari Libya dan aktif di Roma. Ajaran ini berkembang sebagai respons terhadap perpecahan teologis mengenai keesaan Allah dan natur Yesus Kristus. Pada masa itu, gereja sedang mencari formula yang tepat untuk menjelaskan hubungan antara Bapa, Anak, dan Roh Kudus, terutama setelah maraknya ajaran subordinasianisme dan pandangan yang menempatkan Anak di bawah Bapa secara ontologis.

Orang lain juga membaca :  Smarta

Sabellius mengajukan gagasan bahwa Allah adalah satu pribadi yang menampakkan diri dalam tiga mode yang berbeda pada waktu yang berbeda dalam sejarah penyelamatan. Ajaran ini mendapatkan sejumlah pengikut di Roma dan Afrika Utara, sehingga menjadi perdebatan besar dalam gereja awal.

Namun, pada sekitar tahun 220-an, ajaran Sabellius ditolak oleh para pemimpin gereja Roma, termasuk Paus Callixtus I yang sebelumnya tampak toleran terhadap pandangan tersebut. Penolakan semakin kuat pada masa berikutnya ketika teolog seperti Hippolytus dan Tertullian menentangnya dengan keras, menyatakan bahwa modalisme merusak pemahaman yang benar mengenai Tritunggal.

Pada abad-abad selanjutnya, Sabellianisme menjadi contoh klasik dari ajaran nontrinitarian yang ditolak secara resmi oleh gereja, dan namanya sering digunakan untuk menuduh kelompok yang dianggap mengaburkan perbedaan pribadi dalam keallahan. Meskipun begitu, modalisme tidak pernah benar-benar hilang dan muncul kembali dalam berbagai bentuk sepanjang sejarah, termasuk pada beberapa gerakan modern.

Tokoh-Tokoh Berpengaruh dalam Sabellianisme

Tokoh utama dalam gerakan ini adalah Sabellius, yang pemikirannya menjadi fondasi teologi modalisme trinitarian. Di sisi penentang, tokoh seperti Tertullian memainkan peran penting dalam mengkritik dan mendokumentasikan ajaran Sabellius, terutama melalui karya terkenalnya Adversus Praxean. Hippolytus dari Roma juga menjadi tokoh yang menentang Sabellianisme dan memberikan kesaksian sejarah mengenai perkembangan ajarannya. Para teolog inilah yang membantu membentuk rumusan trinitarian ortodoks yang diterima gereja hingga kini.

Referensi

  • Ayres, L. (2004). Nicaea and Its Legacy: An Approach to Fourth-Century Trinitarian Theology. Oxford University Press.
  • Behr, J. (2001). The Way to Nicaea. St. Vladimir’s Seminary Press.
  • Kelly, J. N. D. (1978). Early Christian Doctrines. HarperCollins.
  • Tertullian. (1997). Against Praxeas. Hendrickson Publishers.
  • Williams, R. (2011). Arius: Heresy and Tradition. Eerdmans.
  • Young, F. M. (2010). From Nicaea to Chalcedon. SCM Press.
Orang lain juga membaca :  Shaivisme

Citation

Previous Article

Reformisme Kristen

Next Article

Sikhisme

Citation copied!