Dipublikasikan: 8 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 8 Desember 2025
Dipublikasikan: 8 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 8 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Pelagianisme adalah aliran teologi Kristen yang muncul pada awal abad ke-5, dinamai menurut Pelagius, seorang biarawan Britania. Ajaran ini menekankan kebebasan manusia dan kemampuan akal serta kehendak manusia untuk melakukan kebaikan tanpa perlu bantuan rahmat ilahi yang khusus. Pelagianisme menekankan tanggung jawab moral individu, menolak doktrin dosa asal yang membuat manusia secara inheren berdosa sejak lahir, dan menekankan kemampuan manusia untuk mencapai kesempurnaan moral melalui usaha pribadi dan pengajaran Kristus.
Daftar Isi
Ajaran Pelagianisme menekankan bahwa manusia lahir tanpa dosa asal, sehingga mampu memilih antara benar dan salah melalui akal dan kehendak bebas. Pelagianisme menekankan tanggung jawab moral individu dan kemampuan manusia untuk hidup suci melalui pengajaran Injil dan keteladanan Yesus Kristus, tanpa kebergantungan pada rahmat ilahi yang mengubah sifat manusia.
Praktik moral dalam Pelagianisme menekankan disiplin diri, pengendalian hawa nafsu, amal, dan pendidikan moral. Pelagianisme juga menekankan pentingnya kebebasan manusia untuk mengambil keputusan etis, dan menekankan bahwa keselamatan dapat dicapai melalui hidup yang benar dan pengabdian aktif kepada Allah, bukan semata-mata melalui rahmat.
Pelagianisme muncul di wilayah Britania dan kemudian menyebar ke Roma dan Afrika Utara pada awal abad ke-5. Pelagius mengajarkan bahwa manusia dapat mencapai kesempurnaan moral melalui kehendak bebas dan usaha pribadi. Pandangan ini menimbulkan kontroversi dengan tokoh-tokoh Gereja seperti St. Augustinus, yang menekankan pentingnya rahmat ilahi dan dosa asal dalam keselamatan.
Konsili Gereja menolak Pelagianisme secara resmi, termasuk dalam Konsili Kartago (418 M) dan keputusan kepausan di Roma. Meski mendapat penolakan, ide-ide Pelagian tetap memengaruhi beberapa pemikir dan gerakan yang menekankan tanggung jawab moral, pendidikan etis, dan kemampuan manusia untuk berbuat baik. Perdebatan Pelagianisme versus Augustinianisme menjadi titik penting dalam sejarah pemikiran Kristen mengenai dosa, rahmat, dan kebebasan manusia.
Pelagius adalah pendiri dan tokoh utama yang menekankan kebebasan manusia dan kemampuan moral tanpa bergantung pada rahmat ilahi. Coelestius, murid dan pengikut Pelagius, membantu menyebarkan ajaran ini di wilayah Romawi. St. Augustinus menjadi tokoh oposisi yang paling berpengaruh, mengembangkan doktrin rahmat dan dosa asal sebagai tanggapan terhadap Pelagianisme, yang kemudian menjadi landasan ajaran Kristen arus utama.