Monofisitisme

Dipublikasikan: 8 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 8 Desember 2025

Raymond Kelvin Nando — Monofisitisme adalah aliran teologi kristologis yang menekankan bahwa Yesus Kristus memiliki satu sifat ilahi saja, meskipun tampak memiliki sifat manusia. Aliran ini muncul pada abad ke-5 sebagai tanggapan terhadap kontroversi mengenai Kristologi dan hubungan antara kemanusiaan dan keilahian Kristus. Monofisitisme menekankan keilahian Kristus secara dominan, sehingga kemanusiaan-Nya dianggap “terserap” atau diserap ke dalam keilahian, yang menimbulkan perdebatan sengit dengan Gereja Ortodoks yang menegaskan dualitas sifat Kristus—sepenuhnya manusia dan sepenuhnya Allah.

Ajaran Monofisitisme

Ajaran Monofisitisme menekankan bahwa Kristus memiliki satu sifat utama, yaitu sifat ilahi, dan kemanusiaan-Nya sepenuhnya bersatu dalam keilahian-Nya. Dengan kata lain, sifat manusia Kristus dianggap tidak independen tetapi tergabung dalam keilahian. Aliran ini menekankan bahwa keilahian Kristus mendominasi seluruh eksistensi-Nya, sehingga tindakan, penderitaan, dan mukjizat-Nya dipahami sebagai manifestasi kekuatan ilahi.

Dalam praktik teologis dan liturgi, Monofisitisme menekankan devosi kepada Kristus sebagai Allah yang penuh kuasa dan berdaulat, serta menekankan rahmat ilahi yang menyelamatkan manusia. Monofisitisme juga memengaruhi ritual dan interpretasi sakramen, menekankan aspek ilahi dari keselamatan dan peranan Kristus dalam menyatukan umat dengan Allah.

Sejarah Perkembangan Monofisitisme

Monofisitisme muncul setelah Konsili Efesus (431 M) yang menimbulkan kontroversi mengenai Kristologi. Eutikhus, seorang tokoh utama, menjadi salah satu perwakilan aliran ini di Alexandria. Monofisitisme mendapat dukungan di Mesir dan beberapa wilayah timur Kekaisaran Bizantium, terutama karena ketidakpuasan terhadap konsili yang dianggap terlalu menekankan dualitas sifat Kristus.

Pada abad ke-5, perdebatan Kristologis memuncak, dan Monofisitisme sering bertentangan dengan ajaran Chalcedon (451 M), yang menegaskan bahwa Kristus memiliki dua sifat—ilahi dan manusiawi—dalam satu pribadi. Meskipun mendapat penolakan resmi oleh Kekaisaran Bizantium, Monofisitisme tetap bertahan di Mesir, Suriah, dan Ethiopia, berkembang menjadi Gereja Koptik Ortodoks, Gereja Ortodoks Siria, dan Gereja Ortodoks Ethiopia. Gerakan ini mempertahankan doktrin satu sifat Kristus tetapi menyesuaikan liturgi dan praktik agar selaras dengan identitas budaya dan teologis lokal.

Orang lain juga membaca :  Mutualisme

Tokoh-Tokoh Berpengaruh dalam Monofisitisme

Eutikhus adalah salah satu tokoh utama yang mengajukan konsep Monofisitisme di Alexandria. Dioskorus dari Alexandria mendukung ajaran ini dalam kapasitasnya sebagai Patriark. Tokoh-tokoh lainnya termasuk pemimpin gereja di Mesir dan Suriah yang membimbing komunitas lokal untuk mempertahankan ajaran ini meskipun menghadapi tekanan dari Kekaisaran Bizantium dan Gereja Chalcedonian.

Referensi

  • Meyendorff, J. (1989). Imperial Unity and Christian Divisions: The Church 450–680 A.D. St. Vladimir’s Seminary Press.
  • Wainwright, G. (2001). The Oxford History of Christian Worship. Oxford University Press.
  • Parry, K. (1999). The Blackwell Dictionary of Eastern Christianity. Blackwell Publishers.
  • Louth, A. (2007). Greek East and Latin West: The Church AD 681–1071. St. Vladimir’s Seminary Press.
  • Chadwick, H. (1993). The Early Church. Penguin Books.
  • Coptic Encyclopedia. (1991). Coptic Orthodox Church History. Macmillan.

Citation

Previous Article

Manikeisme

Next Article

Monotelitisme

Citation copied!