Dipublikasikan: 8 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 8 Desember 2025
Dipublikasikan: 8 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 8 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Manikeisme adalah agama dan sistem kepercayaan dualistik yang dikembangkan oleh Mani pada abad ke-3 Masehi di Persia. Ajaran ini menekankan pertentangan kosmik antara cahaya dan kegelapan, baik dan jahat, serta berupaya menjelaskan penderitaan dunia melalui dualitas ini. Manikeisme menggabungkan unsur-unsur Zoroastrianisme, Kristen, dan Buddhisme, dengan tujuan menciptakan sistem religius universal yang menjawab pertanyaan tentang asal-usul dunia, dosa, dan keselamatan manusia.
Daftar Isi
Ajaran Manikeisme menekankan dualisme absolut: cahaya, yang mewakili kebaikan dan roh, bertentangan dengan kegelapan, yang mewakili kejahatan dan materi. Menurut Mani, dunia adalah arena pertarungan antara kekuatan cahaya dan kegelapan. Keselamatan manusia dicapai melalui pengetahuan (gnosis), disiplin rohani, dan pengendalian diri, dengan tujuan membebaskan jiwa dari pengaruh materi dan kegelapan.
Praktik keagamaan Manikeisme meliputi puasa, pantang, doa, meditasi, dan ritus pembersihan yang bertujuan memperkuat roh dan mengurangi keterikatan pada dunia materi. Ajaran ini juga menekankan moralitas tinggi, menghindari kekerasan, dan menekankan hidup sederhana. Para pengikut, termasuk Electi (elit rohani) dan Auditores (umat biasa), memiliki tingkat komitmen berbeda dalam praktik keagamaan.
Manikeisme didirikan oleh Mani pada abad ke-3 M di Persia (kini Iran), dan dengan cepat menyebar ke wilayah Kekaisaran Romawi, Afrika Utara, India, dan Tiongkok. Mani mengklaim ajaran ini sebagai penyempurnaan wahyu sebelumnya, termasuk ajaran Yesus, Buddha, dan Zoroaster. Pada awalnya, Manikeisme diterima sebagian, namun kemudian mengalami penindasan oleh kekaisaran Persia, Romawi, dan Kekaisaran Sassanid karena dianggap menyimpang dari agama resmi dan mengancam stabilitas politik.
Selama berabad-abad, Manikeisme menyebar melalui Jalur Sutra ke Asia Tengah dan Tiongkok, dan berkembang menjadi bentuk-bentuk lokal. Di wilayah Romawi, agama ini sempat populer sebelum dikecam sebagai sekte sesat oleh Gereja Kristen dan negara. Pada abad ke-14, Manikeisme mengalami kemunduran drastis akibat penindasan, dan praktiknya hampir punah, meskipun beberapa pengaruhnya tetap terlihat dalam pemikiran gnostik, sufi, dan gerakan dualistik di Eropa abad pertengahan.
Mani adalah tokoh pendiri dan nabi utama, yang menulis kitab-kitab suci dan mengembangkan sistem dualistik yang kompleks. Pengikutnya yang terlatih (Electi) memainkan peran penting dalam penyebaran ajaran, pengajaran moral, dan ritus keagamaan. Sementara tokoh sejarah lain, seperti penguasa dan misionaris yang mendukung atau menentang Manikeisme, berperan dalam penyebaran dan penindasan ajaran ini di berbagai wilayah.