Dipublikasikan: 8 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 8 Desember 2025
Dipublikasikan: 8 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 8 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Ortodoks, atau lebih tepatnya Kristen Ortodoks, adalah salah satu cabang utama Kekristenan yang menekankan tradisi suci, liturgi yang kaya, dan kesinambungan ajaran dari para Rasul. Gereja Ortodoks menekankan keutuhan iman yang diwariskan sejak zaman para rasul, praktik sakramen, doa liturgis, dan kehidupan monastik sebagai jalan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ortodoks dikenal karena seni liturgi, ikonografi, dan kalender perayaan yang khas, yang semuanya menekankan pengalaman langsung akan kehadiran ilahi dalam kehidupan sehari-hari.
Daftar Isi
Ajaran Kristen Ortodoks berpusat pada Trinitas—Bapa, Putra, dan Roh Kudus—dan pengakuan iman yang konsisten dengan konsili-konsili ekumenis awal. Kristus dianggap sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia, dan keselamatan dicapai melalui rahmat Allah yang bekerja dalam kehidupan iman, sakramen, doa, dan pertobatan. Gereja Ortodoks menekankan pentingnya tradisi suci (Holy Tradition) yang meliputi Alkitab, pengajaran para Bapa Gereja, liturgi, doa, dan ikonografi. Sakramen utama, termasuk baptisan, Ekaristi, pengakuan dosa, dan pernikahan, dianggap sarana rahmat yang menghubungkan umat dengan Allah.
Selain itu, Ortodoks menekankan kehidupan monastik sebagai bentuk pengabdian yang mendalam, disiplin rohani, dan jalan untuk mencapai kesucian. Doa kontemplatif dan meditasi atas Firman Allah merupakan praktik utama untuk memperkuat hubungan pribadi dengan Tuhan. Gereja Ortodoks juga menekankan etika moral, kasih kepada sesama, dan tanggung jawab sosial sebagai bagian integral dari kehidupan iman.
Kristen Ortodoks berkembang dari Kekristenan awal di Timur Tengah, Yunani, dan Asia Kecil, dengan pusat teologi di Konstantinopel (sekarang Istanbul), Alexandria, Antiokhia, dan Yerusalem. Sejak abad pertama hingga keempat Masehi, gereja-gereja ini membentuk konsili-konsili ekumenis yang menetapkan doktrin Trinitas dan Kristologi yang sah, termasuk Konsili Nicea (325 M) dan Konstantinopel (381 M). Ortodoks menekankan kesinambungan ajaran para rasul dan menolak perubahan doktrinal yang dianggap menyimpang dari tradisi suci.
Perpecahan besar antara Gereja Barat (Katolik Roma) dan Gereja Timur (Ortodoks) terjadi pada 1054 dalam peristiwa yang dikenal sebagai Skisma Besar, yang dipicu oleh perbedaan teologis, kultural, dan politik. Sejak itu, Kristen Ortodoks berkembang di wilayah Kekaisaran Bizantium dan sekitarnya, dengan berbagai gereja nasional seperti Gereja Yunani Ortodoks, Rusia Ortodoks, Serbia Ortodoks, dan lain-lain. Sepanjang sejarah, Ortodoks mengalami tantangan berupa invasi, pengaruh Barat, dan revolusi politik, namun tetap mempertahankan liturgi, teologi, dan tradisi sakralnya.
Pada era modern, Gereja Ortodoks tetap menjadi pusat kehidupan rohani bagi jutaan umat di Eropa Timur, Timur Tengah, dan diaspora internasional, menekankan pendidikan agama, pelayanan sosial, dan pelestarian budaya serta seni liturgi yang kaya. Praktik doa harian, perayaan hari raya besar, dan kehidupan komunitas tetap menjadi inti pengalaman spiritual Ortodoks, memperkuat identitas iman yang mendalam dan berakar pada tradisi ribuan tahun.
Beberapa tokoh penting termasuk para Bapa Gereja seperti Santo Basil, Santo Yohanes Krisostomus, dan Santo Gregorius dari Nazianzus, yang menegaskan doktrin Trinitas dan membimbing kehidupan spiritual umat. Kaisar Konstantinus juga berperan dalam mendukung pertumbuhan gereja melalui konsili dan pembangunan gereja-gereja awal. Di era modern, para Patriark Konstantinopel, Moskow, dan Alexandria tetap menjadi pemimpin rohani yang menjaga kesatuan doktrin, liturgi, dan disiplin komunitas Ortodoks di seluruh dunia.