Dipublikasikan: 8 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 8 Desember 2025
Dipublikasikan: 8 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 8 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Jansenisme adalah gerakan teologis dalam Katolisisme yang menekankan keberdosaan manusia, rahmat ilahi yang mutlak, dan predestinasi. Gerakan ini muncul pada abad ke-17 di Prancis dan dipengaruhi oleh ajaran Augustinus tentang rahmat dan kehendak bebas. Jansenisme menekankan perlunya disiplin rohani yang ketat, penolakan terhadap kemewahan duniawi, dan hidup moral yang disiplin, serta sering bersinggungan dengan Gereja Katolik resmi karena menimbulkan kontroversi terkait ajaran rahmat dan sakramen.
Daftar Isi
Ajaran Jansenisme menekankan bahwa manusia secara alamiah jatuh dalam dosa dan hanya dapat diselamatkan melalui rahmat Allah yang diberikan secara mutlak. Konsep predestinasi menjadi pusat ajaran, di mana Allah menentukan siapa yang akan diselamatkan. Jansenisme juga menekankan perlunya penekanan pada sakramen, khususnya Ekaristi dan pengakuan dosa, sebagai sarana rahmat ilahi. Gerakan ini menekankan disiplin moral yang ketat, hidup sederhana, dan pengendalian diri terhadap kesenangan duniawi. Selain itu, Jansenisme menekankan pentingnya pendidikan teologis dan retret rohani untuk memperkuat kehidupan iman serta menjauhi godaan dunia.
Jansenisme muncul pada awal abad ke-17, dipicu oleh karya Cornelius Jansen, seorang teolog Katolik asal Belanda, yang menulis buku Augustinus, menekankan ajaran Santo Augustinus tentang rahmat dan predestinasi. Ajaran ini mendapat perhatian besar di Prancis dan menjadi populer di kalangan biarawan dan intelektual yang menekankan kesalehan pribadi dan disiplin rohani. Gerakan ini sering bersinggungan dengan Gereja Katolik resmi karena menimbulkan perdebatan teologis tentang keseimbangan antara kehendak bebas manusia dan rahmat Allah.
Sepanjang abad ke-17 dan awal abad ke-18, Jansenisme menjadi pengaruh kuat di biara-biara, sekolah-sekolah Katolik, dan kalangan intelektual Prancis. Kontroversi dengan Gereja Katolik mencapai puncaknya ketika Paus Innosensius X mengutuk beberapa ajaran Jansenisme, termasuk pandangan tentang predestinasi dan rahmat. Meskipun mendapat penolakan resmi, Jansenisme tetap bertahan sebagai gerakan intelektual dan spiritual di Prancis, memengaruhi para teolog, pengkhotbah, dan komunitas religius yang menekankan disiplin rohani dan kesalehan pribadi.
Pada era modern, pengaruh Jansenisme sebagian besar mereda, tetapi prinsip-prinsipnya tentang disiplin rohani, kesederhanaan, dan penekanan pada rahmat ilahi tetap terlihat dalam beberapa praktik Katolik yang menekankan kehidupan rohani yang mendalam dan pendidikan moral. Warisan Jansenisme juga tercermin dalam pemikiran teologis tentang hubungan antara kehendak manusia dan rahmat Allah yang tetap menjadi bahan studi historis dan teologis.
Cornelius Jansen adalah tokoh utama pendiri gerakan ini melalui karya Augustinus yang memformulasikan prinsip-prinsip rahmat dan predestinasi. Blaise Pascal, meskipun lebih dikenal sebagai filsuf dan matematikawan, merupakan pendukung terkenal Jansenisme dan menulis karya seperti Lettres Provinciales untuk membela gerakan ini. Tokoh lain termasuk Antoine Arnauld dan Jean Duvergier de Hauranne, yang memperkuat jaringan Jansenisme di biara dan sekolah Prancis serta memajukan pendidikan moral dan rohani sesuai ajaran Jansen.