Ahmadiyah

Dipublikasikan: 8 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 8 Desember 2025

Raymond Kelvin Nando — Ahmadiyah adalah gerakan Islam reformis yang didirikan pada akhir abad ke-19 di India oleh Mirza Ghulam Ahmad (1835–1908), yang mengklaim sebagai Mesias dan Mahdi yang dijanjikan dalam ajaran Islam. Gerakan ini menekankan penafsiran modern terhadap Al-Qur’an, perdamaian, dan penyebaran Islam melalui dakwah damai, pendidikan, dan pelayanan sosial. Ahmadiyah dikenal karena pendekatan rasional dan spiritualnya yang mencoba menyeimbangkan tradisi Islam dengan tantangan zaman modern. Klaim kenabian Mirza Ghulam Ahmad menimbulkan kontroversi dan penolakan dari sebagian kelompok Muslim, namun gerakan ini tetap bertahan dan berkembang menjadi organisasi global yang terstruktur.

Ajaran Ahmadiyah

Ahmadiyah menekankan prinsip tauhid, kepatuhan pada Al-Qur’an, dan penerapan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari. Mirza Ghulam Ahmad dianggap sebagai nabi pembawa pembaruan spiritual, bukan nabi syariat, yang hadir untuk membimbing umat Islam menuju penguatan iman, moralitas, dan akhlak. Gerakan ini menekankan pentingnya perdamaian, toleransi, dan dialog antaragama, serta menekankan pendidikan sebagai sarana untuk mengembangkan intelektualitas umat. Dakwah Ahmadiyah dilakukan secara damai dan sistematis, termasuk melalui publikasi buku, pendidikan, seminar, dan misi sosial. Dalam aspek spiritual, Ahmadiyah menekankan hubungan langsung dengan Allah, pengembangan moral pribadi, dan pengabdian sosial sebagai bentuk ibadah.

Sejarah Perkembangan Ahmadiyah

Ahmadiyah lahir di Qadian, India, pada akhir abad ke-19, ketika Mirza Ghulam Ahmad mulai menyebarkan ajarannya tentang kedatangan Mesias dan Mahdi. Ia menekankan pembaruan spiritual, penekanan pada moralitas, dan pentingnya pendidikan dalam menyebarkan Islam. Pesan damai dan rasional yang dibawanya menarik pengikut dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk mereka yang mencari interpretasi modern dan spiritual dalam Islam. Setelah wafatnya pada 1908, kepemimpinan gerakan ini diteruskan melalui sistem khalifah yang terstruktur, dimulai dengan Hakeem Noor-ud-Din sebagai khalifah pertama. Di bawah kepemimpinan khalifah-khalifah berikutnya, Ahmadiyah memperluas jaringan globalnya ke Pakistan, Afrika, Eropa, Amerika, dan Asia, sambil tetap fokus pada pendidikan, dakwah damai, dan pelayanan sosial.

Orang lain juga membaca :  Druisme

Sepanjang perkembangannya, Ahmadiyah menghadapi tantangan besar dari kelompok mayoritas Muslim yang menolak klaim kenabian Mirza Ghulam Ahmad, termasuk penolakan hukum di beberapa negara Islam. Misalnya, Pakistan memberlakukan undang-undang yang membatasi praktik Ahmadiyah sebagai agama. Meski demikian, gerakan ini terus membangun institusi pendidikan, rumah sakit, dan pusat dakwah yang tersebar di seluruh dunia. Ahmadiyah juga aktif dalam advokasi hak-hak minoritas, dialog antaragama, dan pengembangan literatur Islam modern. Aktivitas sosial dan kemanusiaan, termasuk bantuan bencana, pendidikan anak-anak, dan program kesehatan masyarakat, menjadi ciri khas gerakan ini yang menunjukkan praktik iman yang aktif dan berorientasi pada kesejahteraan umat manusia.

Tokoh-Tokoh Berpengaruh dalam Ahmadiyah

Tokoh utama adalah Mirza Ghulam Ahmad sendiri, pendiri gerakan dan nabi pembawa pembaruan spiritual. Hakeem Noor-ud-Din menjadi khalifah pertama, meneruskan kepemimpinan spiritual dan memperkuat organisasi. Mirza Basheer-ud-Din Mahmood Ahmad memperluas jaringan Ahmadiyah secara global, memperkenalkan sistem administrasi yang terstruktur, dan memperkuat literatur dakwah. Mirza Nasir Ahmad memodernisasi pendidikan dan memperluas misi internasional, sementara Mirza Masroor Ahmad saat ini memimpin Jamaat Ahmadiyya di seluruh dunia, menekankan perdamaian, pendidikan, dan pelayanan sosial.

Referensi

  • Friedmann, Y. (2003). Prophecy Continuous: Aspects of Ahmadi Religious Thought and Its Medieval Background. Oxford University Press.
  • Qasmi, A. S. (1990). Ahmadiyyat: A Study of Its Origin and Growth. Islamic Research Institute.
  • Khan, M. A. (2015). Ahmadiyya Movement: History and Theology. Routledge.
  • Zaman, M. Q. (2002). The Ahmadiyya Movement in Islam: A History of Its Origins, Development and Aims. Hurst & Company.
  • Sadarangani, A. (2008). The Ahmadiyya Quest for Identity: Global Expansion, Religious Identity and Minority Status. Routledge.
  • Turner, B. S. (2011). Religion and Modern Society: Citizenship, Secularisation and the State. Cambridge University Press.
  • Malik, J. (2010). Minority Muslim Communities in South Asia. Routledge.
Orang lain juga membaca :  Gnostisisme

Citation

Previous Article

Sufisme

Next Article

Ibadisme

Citation copied!