Smarta

Dipublikasikan: 8 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 8 Desember 2025

Raymond Kelvin Nando — Smarta adalah salah satu aliran dalam Hinduisme yang menekankan kesetaraan pemujaan terhadap lima dewa utama (panchayatana): Shiva, Vishnu, Devi, Surya, dan Ganesha, serta menekankan filsafat Advaita Vedanta yang dikembangkan oleh Adi Shankara. Aliran ini menekankan pengetahuan (jnana), meditasi, dan pemahaman tentang Brahman sebagai realitas tertinggi, sambil mendorong toleransi dan pluralisme dalam praktik keagamaan. Smarta menekankan bahwa semua dewa merupakan manifestasi dari satu realitas ilahi.

Ajaran Smarta

Beberapa prinsip utama Smarta meliputi:

  1. Advaita Vedanta
    Aliran ini menekankan non-dualisme (Advaita), yaitu bahwa jiwa individu (Atman) sejatinya identik dengan Brahman, realitas mutlak. Kesadaran akan kesatuan ini merupakan jalan menuju moksha (pembebasan).
  2. Panchayatana Puja
    Praktik pemujaan melibatkan lima dewa utama:
    • Shiva – simbol transformasi dan kesadaran
    • Vishnu – pelindung dan pemelihara alam semesta
    • Devi – energi feminin ilahi
    • Surya – matahari sebagai simbol cahaya dan kehidupan
    • Ganesha – penghalang rintangan dan pelindung
    Pendekatan ini menekankan pluralitas dewa sebagai manifestasi Brahman, bukan sebagai entitas terpisah.
  3. Jnana Yoga (Jalan Pengetahuan)
    Smarta menekankan pencapaian pembebasan melalui pengetahuan, refleksi filosofis, dan meditasi, dibandingkan ritual semata atau bhakti eksklusif.
  4. Kehidupan Spiritual dan Etika
    • Menekankan disiplin diri, pengendalian indera, dan karma sesuai dharma.
    • Toleransi terhadap berbagai praktik keagamaan dianggap penting.
    • Pencarian kebenaran bersifat universal dan tidak eksklusif.
  5. Ritual dan Pendidikan
    • Upacara pemujaan di rumah dan kuil, khususnya dengan ikonografi lima dewa.
    • Pendidikan agama melalui teks Vedanta, Upanishad, dan Veda.
    • Penekanan pada keselarasan antara kehidupan sehari-hari dan prinsip spiritual.

Sejarah Perkembangan Smarta

  1. Zaman Pra-Klasik dan Klasik
    Konsep Advaita Vedanta dan pemujaan beragam dewa muncul secara bertahap. Veda, Upanishad, dan Purana menjadi dasar filosofis dan ritual.
  2. Abad ke-8: Adi Shankara (788–820)
    Adi Shankara menata Smarta secara sistematis dengan:
    • Menekankan Advaita Vedanta
    • Memperkenalkan Panchayatana Puja untuk menyatukan pemujaan dewa-dewi
    • Mendirikan pusat-pusat pembelajaran (matha) di berbagai wilayah India
  3. Abad Pertengahan hingga Modern
    Smarta menyebar di India selatan dan barat, mempertahankan pluralisme dan pemujaan fleksibel. Gerakan ini memengaruhi seni, arsitektur kuil, dan literatur religius.
  4. Era Global
    Smarta diakui sebagai tradisi Hindu yang inklusif, mengajarkan toleransi beragama dan relevansi filosofis, terutama melalui penyebaran teks Vedanta ke Barat.
Orang lain juga membaca :  Presbiterianisme

Tokoh-Tokoh Berpengaruh dalam Smarta

  1. Adi Shankara (788–820) – Pendiri sistematis Smarta dan Advaita Vedanta.
  2. Padmapada (8–9 M) – Murid utama Shankara, membantu menyusun ajaran Advaita.
  3. Sureshvara (8–9 M) – Filosof Smarta yang menulis komentar tentang Vedanta.
  4. Madhava (Abad Pertengahan) – Penyebar ajaran Smarta di India selatan.
  5. Sankara’s Disciples (Matha Leaders) – Mempertahankan tradisi dan pusat pembelajaran Smarta.

Referensi

  • Flood, G. (1996). An Introduction to Hinduism. Cambridge University Press.
  • Klostermaier, K. K. (2007). A Survey of Hinduism (3rd ed.). Routledge.
  • Hacker, P. (1995). Philology and Philosophy: Studies in Indian Intellectual History. Motilal Banarsidass.
  • Rinehart, R. E. (2004). Contemporary Hinduism: Ritual, Culture, and Practice. ABC-CLIO.
  • Sharma, C. (2000). A Critical Survey of Indian Philosophy. Motilal Banarsidass.

Citation

Previous Article

Shaktisme

Next Article

Humanisme Kristen

Citation copied!