Shaivisme

Dipublikasikan: 8 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 8 Desember 2025

Raymond Kelvin Nando — Shaivisme adalah salah satu aliran utama dalam Hinduisme yang memusatkan pemujaan kepada Shiva sebagai Tuhan tertinggi. Aliran ini menekankan aspek transformasi, kehancuran, dan regenerasi dalam alam semesta, serta perjalanan spiritual individu menuju moksha (pembebasan). Shaivisme memiliki tradisi yang kaya, termasuk praktik ritual, meditasi, dan filsafat yang mendalam, serta menyebar secara luas di anak benua India dan Asia Tenggara.

Ajaran Shaivisme

Ajaran Shaivisme meliputi beberapa konsep dan praktik utama:

  1. Shiva sebagai Tuhan Tertinggi
    Dalam Shaivisme, Shiva dipandang sebagai pencipta, pemelihara, dan perusak alam semesta. Ia melambangkan kesadaran tertinggi (pure consciousness) dan kekuatan kosmik.
  2. Tiga Aspek Realitas
    • Parashiva: Aspek tertinggi dan transenden, tidak terbatas.
    • Parashakti: Energi atau kekuatan ilahi yang aktif, sering dikaitkan dengan Devi/Shakti.
    • Sakala: Manifestasi duniawi, termasuk Shiva dalam bentuk ikonografi, meditasi, dan ritual.
  3. Tujuan Hidup dan Moksha
    Tujuan spiritual adalah menyadari kesatuan dengan Shiva dan membebaskan diri dari siklus kelahiran kembali (samsara). Praktik meditasi, yoga, dan pengekangan indera membantu pencapaian ini.
  4. Yoga dan Meditasi
    Shaivisme menekankan latihan spiritual:
    • Laya Yoga: Penyatuan diri dengan energi ilahi.
    • Kundalini Yoga: Membangkitkan energi spiritual dalam tubuh.
    • Tantra: Teknik ritual dan meditasi untuk mencapai kesadaran tinggi.
  5. Ritual dan Pemujaan
    • Puja kepada lingam (simbol Shiva) dan dewa-dewi pendamping.
    • Festival seperti Maha Shivaratri, perayaan malam Shiva, menekankan doa, meditasi, dan pengorbanan spiritual.
    • Penyembahan di kuil dan hutan suci sebagai sarana transformasi batin.
  6. Etika dan Kehidupan Spiritual
    Menekankan kesucian, disiplin diri, pengendalian nafsu, dan pelayanan spiritual. Beberapa aliran Shaiva juga menekankan asketisme ekstrem.
Orang lain juga membaca :  Jingoisme

Sejarah Perkembangan Shaivisme

  1. Zaman Veda dan Pra-Klasik (1500–500 SM)
    Asal-usul pemujaan Shiva dapat dilacak ke dewa Rudra dalam Rigveda, yang kemudian berkembang menjadi figur Shiva dalam epik dan Puranas.
  2. Periode Klasik (500 SM – 1000 M)
    Shaivisme berkembang pesat melalui teks-teks seperti Shaiva Agamas, Tirumurai, dan filosofi Pashupata dan Kapalika. Aliran ini menyebar di seluruh India dan mempengaruhi seni, arsitektur kuil, dan sastra.
  3. Abad Pertengahan
    Aliran Bhakti Shaiva muncul, menekankan pengabdian pribadi kepada Shiva melalui puisi dan nyanyian. Gerakan ini populer di Tamil Nadu, Karnataka, dan Himalaya.
  4. Abad Modern
    Shaivisme tetap menjadi praktik hidup bagi jutaan orang. Gerakan global yoga dan meditasi memperkenalkan ajaran Shaiva secara internasional.

Tokoh-Tokoh Berpengaruh dalam Shaivisme

  1. Appar (Tirunavukkarasar, 7 M) – Penyair dan pemuja Shaiva dari Tamil Nadu.
  2. Sundarar (8 M) – Bhakta dan penulis puisi Shaiva klasik.
  3. Basava (1105–1167) – Reformator sosial dan spiritual Shaiva Lingayat di Karnataka.
  4. Abhinavagupta (950–1020) – Filsuf Kashmir Shaiva, penulis teks filosofis utama.
  5. Raja Raja Chola I (947–1014) – Raja yang mendukung pembangunan kuil Shaiva dan menyebarkan agama melalui politik dan seni.

Referensi

  • Flood, G. (1996). An Introduction to Hinduism. Cambridge University Press.
  • Peterson, I. V. (1989). Design and Rhetoric in a Sanskrit Court Epic: The Kiratarjuniya of Bharavi. SUNY Press.
  • Kaimal, P. (2003). Shaivism and the Tantra Tradition. Motilal Banarsidass.
  • Abhinavagupta. (1999). Tantraloka: The Light on Tantra. Motilal Banarsidass.
  • Zimmer, H. (1972). Myths and Symbols in Indian Art and Civilization. Princeton University Press.

Citation

Previous Article

Hinduisme

Next Article

Vaishnavisme

Citation copied!