Fundamentalisme

Dipublikasikan: 8 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 8 Desember 2025

Raymond Kelvin Nando — Fundamentalisme adalah sebuah pendekatan keagamaan yang menekankan ketaatan mutlak terhadap doktrin-doktrin dasar atau “fundamental” dari suatu tradisi iman. Istilah ini pertama kali digunakan dalam konteks Kekristenan Protestan di Amerika Serikat pada awal abad ke-20, tetapi dalam perkembangan selanjutnya, terminologi “fundamentalisme” dipakai lebih luas untuk menggambarkan gerakan-gerakan keagamaan yang menolak modernisme, kritik historis-biblis, dan perubahan sosial yang dianggap mengancam kemurnian ajaran. Fundamentalisme biasanya dicirikan oleh penafsiran literal terhadap teks suci, komitmen terhadap identitas religius yang eksklusif, dan sikap konfrontatif terhadap budaya sekuler.

Ajaran Fundamentalisme

Meskipun fundamentalisme memiliki variasi di berbagai agama, beberapa ciri utamanya meliputi:

  1. Pengutamaan Teks Suci secara Literal
    Fundamentalisme menafsirkan teks suci (Alkitab, Al-Qur’an, atau kitab lainnya) secara harfiah dan tidak menerima pendekatan hermeneutis modern. Kebenaran kitab suci dianggap absolut dan tidak dapat dipertanyakan.
  2. Penekanan pada Doktrin Dasar (Fundamental)
    Dalam konteks Kekristenan Protestan awal, terdapat lima “fundamental”:
    • Ketidakbersalahan (inerrancy) Kitab Suci
    • Kelahiran perawan
    • Penebusan vikarius Kristus
    • Kebangkitan tubuh Yesus
    • Kedatangan Kristus yang kedua kali
  3. Penolakan Modernisme dan Sains Sekuler
    Fundamentalis sering menolak teori evolusi, kritik biblis, dan teori sosial modern yang dianggap bertentangan dengan iman. Mereka menilai modernisme dapat merusak moralitas dan kebenaran agama.
  4. Eksklusivisme dan Ortodoksi Ketat
    Kepercayaan bahwa hanya tradisi atau interpretasi mereka yang benar. Hal ini sering disertai dengan penentangan terhadap ajaran lain, baik intra maupun antaragama.
  5. Identitas Komunitas yang Kuat
    Fundamentalisme menciptakan batas-batas komunitas yang jelas dan sering berupaya melindungi umat dari pengaruh “dunia luar”.
  6. Resistensi terhadap Pluralisme
    Mereka menolak relativisme moral dan pluralisme agama, memandangnya sebagai ancaman terhadap kebenaran.
  7. Aktivisme Religio-Sosial
    Beberapa gerakan fundamentalis terlibat dalam politik, moralitas publik, dan kampanye sosial untuk mempertahankan nilai-nilai tradisional.
Orang lain juga membaca :  Transhumanisme

Sejarah Perkembangan Fundamentalisme

  1. Asal-usul dalam Protestanisme Amerika (awal abad ke-20)
    Istilah ini berasal dari seri buku The Fundamentals (1910–1915) yang ditulis untuk membela teologi Protestan konservatif dari ancaman liberalisme teologis.
    Kontroversi Scopes Trial (1925) menjadi simbol konflik antara fundamentalisme dan sains modern.
  2. Perkembangan di Abad ke-20
    Setelah Perang Dunia II, fundamentalisme berkembang menjadi gerakan yang lebih politis melalui “Christian Right” di Amerika. Fokus utama mereka termasuk isu moralitas, pendidikan, dan peran agama dalam masyarakat.
  3. Kemunculan Fundamentalisme dalam Agama Lain
    Pada paruh akhir abad ke-20, istilah fundamentalisme diperluas untuk menggambarkan fenomena serupa dalam agama lain, seperti:
    • Fundamentalisme Islam (dengan variasi yang luas, sebagian politik dan sebagian spiritual)
    • Fundamentalisme Yahudi (misalnya gerakan Haredi tertentu)
    • Fundamentalisme Hindu (Hindutva)
    • Fundamentalisme Buddha di beberapa wilayah Asia
    Penggunaan istilah ini sering diperdebatkan karena dapat memunculkan stereotip atau menggambarkan fenomena yang sangat kompleks dengan istilah tunggal.
  4. Era Kontemporer (abad ke-21)
    Fundamentalisme menjadi respons terhadap globalisasi, sekularisasi, dan modernitas. Banyak kelompok fundamentalis melihat perubahan sosial dan teknologi sebagai ancaman terhadap identitas dan keimanan tradisional.

Tokoh-Tokoh Terkait Fundamentalisme

Dalam konteks historis dan akademis, beberapa tokoh berikut berpengaruh dalam perkembangan atau analisis fundamentalisme:

  1. William Bell Riley – Pemimpin fundamentalis Amerika awal abad ke-20.
  2. J. Gresham Machen – Teolog Reformed konservatif yang menentang modernisme, meskipun tidak selalu disebut fundamentalis.
  3. Jerry Falwell – Pendiri Moral Majority, penggerak fundamentalisme politik di AS.
  4. Seyyed Hossein Nasr – Cendekiawan Muslim yang menulis tentang modernitas dan respons fundamentalis (bukan fundamentalis itu sendiri).
  5. Martin E. Marty & R. Scott Appleby – Peneliti yang memimpin Fundamentalism Project, studi besar tentang fundamentalisme global.
Orang lain juga membaca :  Saksi-Saksi Yehuwa

Referensi

  • Armstrong, K. (2000). The Battle for God. Ballantine Books.
  • Marty, M. E., & Appleby, R. S. (Eds.). (1991–1995). The Fundamentalism Project (Vols. 1–5). University of Chicago Press.
  • Marsden, G. M. (2006). Fundamentalism and American Culture. Oxford University Press.
  • Ruthven, M. (2004). Fundamentalism: The Search for Meaning. Oxford University Press.
  • Almond, G. A., Sivan, E., & Appleby, R. S. (2003). Strong Religion: The Rise of Fundamentalisms around the World. University of Chicago Press.

Citation

Previous Article

Fideisme

Next Article

Gnostisisme

Citation copied!