Dipublikasikan: 8 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 8 Desember 2025
Dipublikasikan: 8 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 8 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Ortodoksisme Timur adalah tradisi Kekristenan yang berakar pada gereja-gereja Timur yang mempertahankan kesinambungan liturgi, teologi, dan spiritualitas dari Gereja perdana. Tradisi ini menekankan kesatuan antara iman dan praktik rohani, kehadiran ilahi dalam liturgi, serta perjalanan menuju theosis—proses partisipasi manusia dalam kehidupan Allah. Ortodoksisme Timur dikenal karena kekayaan liturginya, teologi patristik, dan kontinuitas sejarahnya sejak Konsili Ekumenis awal.
Daftar Isi
Ajaran Ortodoksisme Timur didasarkan pada Kitab Suci, Tradisi Suci, ajaran para Bapa Gereja, dan keputusan tujuh Konsili Ekumenis pertama. Beberapa ajaran pokoknya meliputi:
Akar Ortodoksisme Timur dapat ditelusuri ke gereja-gereja yang berada di wilayah Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium). Sejak abad pertama, pusat-pusat penting seperti Konstantinopel, Alexandria, Antiokhia, dan Yerusalem memainkan peran besar dalam pembentukan teologi dan liturgi Kristen awal.
Skisma Timur–Barat pada tahun 1054 menjadi titik penting yang memisahkan Gereja Ortodoks dari Gereja Katolik Roma, terutama karena perbedaan mengenai otoritas Paus dan tambahan Filioque dalam Kredo Nicea. Setelah itu, Ortodoksisme berkembang terutama melalui Kekaisaran Bizantium hingga jatuhnya Konstantinopel pada tahun 1453.
Pada era modern, Gereja Ortodoks menghadapi tantangan dari imperialisme, komunisme, dan diaspora. Namun, tradisi ini terus berkembang, terutama di Eropa Timur, Timur Tengah, Afrika, dan komunitas diaspora di seluruh dunia. Ortodoksisme dikenal mempertahankan kontinuitas tradisional yang kuat sambil tetap beradaptasi dengan konteks modern dalam pendidikan, teologi, dan dialog ekumenis.