Dipublikasikan: 7 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 7 Desember 2025
Dipublikasikan: 7 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 7 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Konfusianisme adalah sebuah tradisi filsafat, etika, dan keagamaan yang berakar pada ajaran Kongzi (Confucius) yang hidup pada abad ke-6 sampai ke-5 SM. Tradisi ini menjadi salah satu fondasi peradaban Tiongkok, memengaruhi struktur sosial, politik, pendidikan, serta nilai-nilai moral masyarakat Asia Timur selama lebih dari dua milenium. Konfusianisme menekankan harmoni sosial, keselarasan antara individu dan masyarakat, serta pengembangan karakter moral melalui kebajikan, pendidikan, dan hubungan yang etis. Dalam perjalanannya, Konfusianisme berkembang menjadi sistem pemikiran yang bukan hanya etika sosial, tetapi juga mencakup unsur keagamaan, metafisika, dan ritual.
Daftar Isi
Konfusianisme berfokus pada pembentukan pribadi yang berbudi luhur (junzi) melalui kebajikan moral. Ajaran utamanya mencakup:
Selain itu, Konfusianisme juga menekankan pentingnya pendidikan, pemerintahan yang bermoral, serta tanggung jawab pemimpin untuk mengutamakan kesejahteraan rakyat.
Konfusianisme bermula dari ajaran Kongzi yang dikodifikasikan dalam Analekta (Lunyu). Setelah wafatnya Confucius, murid-muridnya meneruskan ajaran ini dan membuatnya berpengaruh pada masa Dinasti Han (206 SM–220 M), ketika Konfusianisme dijadikan dasar ideologi negara dan sistem pendidikan kekaisaran.
Pada masa Dinasti Tang dan Song, Konfusianisme berkembang melalui Neo-Konfusianisme, terutama melalui tokoh seperti Zhu Xi dan Wang Yangming. Neo-Konfusianisme memadukan unsur metafisik dari Daoisme dan Buddhisme, menciptakan sistem filsafat yang lebih spekulatif mengenai kosmos, hakikat manusia, dan jalan moral.
Pada abad ke-20, Konfusianisme mengalami tantangan besar akibat Revolusi Tiongkok dan modernisasi, yang menganggapnya sebagai simbol tradisi feodal. Namun, sejak akhir abad ke-20 hingga kini, Konfusianisme mengalami kebangkitan kembali di Tiongkok dan Asia Timur sebagai sumber nilai-nilai etika, stabilitas budaya, dan identitas nasional.
Konfusianisme modern berkembang dalam bentuk New Confucianism, yang menafsirkan kembali ajaran klasik untuk menjawab isu-isu kontemporer seperti etika global, pendidikan modern, dan politik demokratis.