Dipublikasikan: 7 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 7 Desember 2025
Dipublikasikan: 7 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 7 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Mahāyāna adalah salah satu aliran utama dalam Buddhisme yang berkembang sekitar abad ke-1 SM hingga abad ke-1 Masehi. Mahāyāna, yang berarti “Kendaraan Besar”, menekankan pencapaian pencerahan tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi demi kesejahteraan semua makhluk. Aliran ini menonjolkan konsep bodhisattva, yakni individu yang bertekad mencapai pencerahan namun menunda nirwana demi menolong makhluk lain. Mahāyāna berkembang luas di Asia Timur, termasuk Tiongkok, Korea, Jepang, dan Vietnam, dengan berbagai tradisi seperti Zen, Pure Land, Huayan, dan Tiantai. Ajarannya menekankan welas asih, kebijaksanaan, sifat universal Buddha, dan jalan spiritual yang terbuka bagi semua orang.
Daftar Isi
Ajaran Mahāyāna meliputi prinsip-prinsip inti berikut:
Mahāyāna menekankan keseimbangan antara kebijaksanaan (prajñā) dan welas asih (karuṇā) sebagai inti praktik spiritual yang universal.
Mahāyāna mulai muncul di India sekitar abad ke-1 SM sebagai gerakan reformasi spiritual yang menekankan akses pencerahan bagi semua golongan, termasuk awam. Gerakan ini berkembang pesat melalui sutra-sutra baru yang menonjolkan welas asih dan ideal bodhisattva.
Pada abad ke-1 hingga ke-3 M, filsuf seperti Nāgārjuna mengukuhkan fondasi filsafat Mahāyāna melalui aliran Madhyamaka yang menekankan śūnyatā. Setelah itu, Mahāyāna menyebar ke Asia Tengah dan kemudian ke Tiongkok melalui Jalur Sutra.
Di Tiongkok, Mahāyāna berkembang menjadi berbagai sekolah seperti Tiantai, Huayan, Zen (Chan), dan Pure Land. Aliran-aliran ini kemudian menyebar ke Korea dan Jepang, berkontribusi besar pada budaya, seni, dan etika masyarakat Asia Timur. Pada abad ke-20, Mahāyāna menyebar secara global melalui diaspora Asia dan minat dunia Barat terhadap meditasi, filsafat, dan spiritualitas Buddhis.