Barthianisme

Dipublikasikan: 4 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 4 Desember 2025

Raymond Kelvin Nando — Barthianisme adalah aliran teologi Kristen kontemporer yang berfokus pada pemikiran teolog Jerman abad ke-20, Karl Barth (1886–1968). Aliran ini muncul sebagai respons terhadap liberalisme teologi abad ke-19, yang dianggap terlalu menekankan akal manusia dan pengalaman historis dalam memahami Allah. Barthianisme menekankan kedaulatan Allah, wahyu ilahi yang mutlak, dan pusatnya Kristus sebagai Firman Allah yang menyingkapkan kehendak dan rencana Tuhan secara penuh. Teologi ini menekankan bahwa manusia tidak dapat mencapai pemahaman tentang Allah melalui usaha sendiri, tetapi hanya melalui wahyu yang diberikan Allah dalam sejarah keselamatan, terutama dalam pribadi Yesus Kristus dan Kitab Suci.

Ajaran Barthianisme

Ajaran Barthianisme menekankan beberapa prinsip utama:

  1. Sentralitas Kristus – Yesus Kristus adalah pusat wahyu Allah dan standar bagi seluruh teologi.
  2. Primasi wahyu Allah – Allah menyingkapkan diri-Nya secara otonom; manusia hanya bisa mengetahui-Nya melalui wahyu, bukan melalui akal atau pengalaman.
  3. Transendensi Allah – Allah berbeda secara mutlak dari ciptaan-Nya dan tidak dapat sepenuhnya dipahami melalui penalaran manusia.
  4. Kritik terhadap liberalisme teologi – Menolak teologi yang menekankan pengalaman subjektif atau penafsiran sejarah manusia sebagai dasar utama iman.
  5. Etika berdasarkan relasi dengan Allah – Kehidupan etis manusia harus dipandu oleh wahyu Allah dan hubungan dengan Kristus, bukan standar moral sekuler.

Barthianisme menekankan kesadaran bahwa seluruh pengetahuan teologis manusia bersumber dari kedaulatan Allah, dan bahwa iman Kristen harus bersandar pada Firman Allah yang hidup, bukan sekadar tradisi atau nalar manusia.

Sejarah Perkembangan Barthianisme

Barthianisme lahir dari karya Karl Barth, khususnya melalui buku monumentalnya Church Dogmatics (1932–1967). Pemikiran Barth muncul sebagai reaksi terhadap teologi liberal yang berkembang di Jerman dan Eropa pada awal abad ke-20, yang menekankan rasionalitas, kritik historis terhadap Alkitab, dan akal manusia sebagai sumber pemahaman tentang Allah.

Orang lain juga membaca :  Agnostisisme

Selama era Nazi, Barth menolak ideologi yang mencoba menyesuaikan Gereja dengan politik, dan memimpin Confessing Church, yang menentang penyimpangan teologis dan politisasi iman. Pemikiran Barth kemudian menyebar secara luas di Eropa dan Amerika, memengaruhi generasi teolog Protestan modern dan membentuk gerakan teologi dialektika (dialektische Theologie), yang menekankan ketegangan antara Allah yang transenden dan dunia yang manusiawi.

Tokoh-Tokoh Barthianisme

  1. Karl Barth (1886–1968) – Pendiri aliran dan teolog utama, penulis Church Dogmatics.
  2. Emil Brunner (1889–1966) – Teolog Swiss yang awalnya berkolaborasi dengan Barth, namun kemudian berbeda dalam pendekatan wahyu dan akal.
  3. Oscar Cullmann (1902–1999) – Teolog yang dipengaruhi Barthianisme dalam studi teologi Perjanjian Baru dan eskatologi.
  4. Jürgen Moltmann (1926–) – Teolog Jerman kontemporer yang menekankan teologi harapan, terinspirasi sebagian oleh prinsip-prinsip Barthian.
  5. Eberhard Jüngel (1934–2021) – Teolog Jerman yang mengembangkan filsafat teologi Barthianisme dalam kerangka modern.

Referensi

  • Barth, K. (1932–1967). Church Dogmatics. T&T Clark.
  • McCormack, B. L. (1995). Karl Barth’s Critically Realistic Dialectical Theology: Its Genesis and Development, 1909–1936. Oxford University Press.
  • Brunner, E. (1937). The Mediator: A Study of the Central Doctrine of the Christian Faith. Westminster Press.
  • Moltmann, J. (1974). Theology of Hope. SCM Press.
  • Pannenberg, W. (1991). Systematic Theology, Volume 1. Eerdmans.

Citation

Previous Article

Yuval Noah Harari – Sapiens (Terjemahan) [PDF]

Next Article

Agus Supangat – Sejarah Maritim Indonesia [PDF]

Citation copied!