Dipublikasikan: 4 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 4 Desember 2025
Dipublikasikan: 4 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 4 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Apollinarisme adalah suatu aliran kristologis yang muncul pada abad ke-4, yang menekankan bahwa dalam pribadi Yesus Kristus, kodrat ilahi mengambil alih fungsi rasio manusia. Aliran ini dinamai dari Apollinaris dari Laodikeia, seorang teolog Kristen awal yang mengajukan gagasan bahwa Yesus memiliki tubuh manusia dan jiwa hewani, tetapi bukan pikiran rasional manusia (nous), karena pikiran tersebut digantikan oleh Logos ilahi. Dengan kata lain, Apollinarisme menekankan keilahian Kristus secara dominan sehingga aspek kemanusiaannya dianggap tidak lengkap secara intelektual. Aliran ini muncul sebagai upaya untuk menjawab tantangan heresi Arianisme, yang menolak keilahian Kristus, tetapi kemudian menimbulkan kontroversi karena dianggap meniadakan kemanusiaan Yesus secara penuh. Pandangan Apollinarisme menimbulkan debat teologis yang signifikan, mempengaruhi perumusan doktrin inkarnasi dan keutuhan dua kodrat Kristus dalam konsili-konsili berikutnya.
Daftar Isi
Ajaran utama Apollinarisme adalah bahwa dalam pribadi Yesus Kristus, kodrat ilahi menggantikan unsur pikiran rasional manusia. Apollinaris mengajukan bahwa manusia terdiri dari tubuh (sarx), jiwa hewani (psyche), dan pikiran rasional (nous). Dalam Kristus, pikiran rasional manusia digantikan oleh Logos ilahi sehingga Yesus memiliki tubuh manusia dan jiwa hewani, tetapi kesadaran intelektualnya sepenuhnya ilahi. Tujuan dari ajaran ini adalah untuk mempertahankan kesatuan pribadi Kristus dan menekankan dominasi keilahian-Nya, sekaligus menentang pandangan Arianisme yang merendahkan status keilahian Kristus.
Akibat dari pandangan ini, Apollinarisme dituduh meniadakan kemanusiaan Yesus secara penuh, karena Yesus tidak memiliki pikiran manusia yang lengkap. Sebagai respons, gereja menekankan prinsip dyophysitism, yaitu bahwa Kristus memiliki dua kodrat yang utuh, ilahi dan manusiawi, yang bersatu tanpa tercampur atau terganggu, sehingga menjamin kesempurnaan inkarnasi.
Apollinarisme muncul pada abad ke-4 di wilayah Antiokhia. Apollinaris sendiri berusaha mempertahankan keilahian Kristus dalam menghadapi ajaran Arianisme yang menekankan subordinasi Kristus terhadap Allah Bapa. Ajaran ini sempat memperoleh pengikut dan dukungan awal karena menawarkan penekanan kuat pada keilahian Yesus.
Namun, kontroversi muncul karena banyak teolog, termasuk Uskup Gregorius dari Nazianzus, menilai ajaran ini meniadakan kemanusiaan Kristus. Pada Konsili Konstantinopel pertama (381 M), Apollinarisme dinyatakan sesat (heresy), dan ajarannya secara resmi ditolak. Meskipun demikian, pengaruh Apollinarisme tetap terlihat dalam beberapa kelompok Kristen Timur selama beberapa abad, serta menjadi pemicu diskusi lebih lanjut mengenai keseimbangan antara kodrat ilahi dan manusia dalam Kristus.
Apollinarisme adalah ajaran Kristen awal yang menyatakan Yesus memiliki tubuh manusia tetapi tidak memiliki akal atau jiwa manusia; akal-Nya digantikan sepenuhnya oleh Logos (Firman Allah). Ajaran ini kemudian dianggap sesat oleh gereja.
Apollinaris adalah seorang teolog Kristen abad ke-4, uskup Laodikia, yang mengajarkan Apollinarisme—yaitu bahwa Yesus memiliki tubuh manusia tetapi akal atau jiwa-Nya digantikan oleh Logos. Ajarannya kemudian dianggap sesat oleh Gereja.
Apollinarisme adalah ajaran sesat Kristen awal yang menyatakan Yesus memiliki tubuh manusia tetapi akal atau jiwa-Nya digantikan oleh Logos (Firman Allah), sehingga menolak kemanusiaan-Nya secara penuh. Gereja menolaknya karena bertentangan dengan doktrin inkarnasi.
Apollinarisme menyatakan Yesus memiliki tubuh manusia tetapi akal atau jiwa digantikan oleh Logos, menekankan ilahi dan mengurangi kemanusiaan-Nya. Eutikianisme menyatakan Yesus memiliki satu kodrat tunggal (ilahi) setelah inkarnasi, menyatukan manusia dan ilahi secara ekstrem, menolak kodrat manusia yang nyata.