Thought-Terminating Cliché Fallacy

Dipublikasikan: 3 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 3 Desember 2025

Raymond Kelvin Nando Thought-terminating cliché fallacy adalah kesalahan penalaran yang terjadi ketika sebuah frasa klise, slogan, atau ungkapan sederhana digunakan untuk menghentikan pemikiran kritis, mempertanyakan argumen, atau menghentikan perdebatan lebih dalam. Ungkapan-ungkapan ini tampak bijak atau masuk akal, tetapi sebenarnya berfungsi sebagai “pemutus alur pikir” yang menghentikan eksplorasi logis. Fallacy ini sering muncul dalam diskusi politik, agama, organisasi tertutup, motivasi berlebihan, hingga percakapan sehari-hari.

Pengertian Thought-Terminating Cliché Fallacy

Thought-Terminating Cliché Fallacy adalah bentuk informal fallacy yang menggunakan ungkapan populer atau klise untuk mengakhiri diskusi tanpa memberikan argumen substansial. Alih-alih menanggapi pertanyaan atau kritik, seseorang memberikan frasa yang tampak final sehingga lawan bicara tidak dapat melanjutkan analisis.

Ungkapan ini dapat berupa:

  • Kalimat motivasi dangkal.
  • Slogan ideologis.
  • Nasihat umum yang tampaknya bijak.
  • Pernyataan absolut yang menutup kemungkinan debat.
  • Ungkapan emosional yang mempermalukan penanya.

Ciri-ciri utama:

  • Mengalihkan perhatian dari isu inti.
  • Tidak memberikan bukti, logika, atau alasan baru.
  • Menghentikan perdebatan dengan otoritas moral atau emosional.
  • Memaksa penerimaan tanpa ruang untuk analisis kritis.
  • Dipakai sebagai mekanisme pertahanan dalam kelompok tertutup (groupthink).

Fallacy ini sering digunakan secara tidak sadar, tetapi juga dapat menjadi alat retorika untuk mengontrol narasi atau menghindari pertanggungjawaban.

Contoh Thought-Terminating Cliché Fallacy

  1. Dalam diskusi sosial-politik:
    “Pokoknya, negara sudah pasti benar. Jangan terlalu banyak mikir.”
    → Kalimat ini menutup kritik dengan otoritas moral, bukan argumen.
  2. Dalam hubungan interpersonal:
    “Sudahlah, hidup itu memang tidak adil.”
    → Mengabaikan masalah spesifik yang perlu dibahas atau diselesaikan.
  3. Dalam organisasi atau kelompok ideologis:
    “Kalau kamu meragukan ini, berarti kamu tidak setia.”
    → Menggunakan tekanan moral untuk menutup pertanyaan.
  4. Dalam motivasi berlebihan:
    “Yang gagal itu cuma orang yang menyerah.”
    → Tidak memperhitungkan konteks, strategi, atau faktor realistis lainnya.
  5. Dalam kebijakan publik:
    “Kita harus melakukan ini demi kebaikan bersama, titik.”
    → Menghindari evaluasi kritis atas kebijakan yang mungkin memiliki dampak negatif.
Orang lain juga membaca :  Faulty Generalization Fallacy

Cara Mengatasi Thought-Terminating Cliché Fallacy

  1. Tanya balik untuk klarifikasi:
    Gunakan pertanyaan seperti “Apa maksud spesifiknya?” atau “Bagaimana itu menjawab masalahnya?”
  2. Pisahkan emosi dari argumen:
    Slogan emosional tidak boleh menggantikan analisis rasional.
  3. Kembalikan diskusi ke inti persoalan:
    Ingatkan lawan bicara pada pertanyaan atau poin argumen yang belum dijawab.
  4. Minta bukti atau penjelasan logis:
    Dorong pembahasan berbasis data, bukan klise.
  5. Waspadai kalimat yang terdengar “terlalu final”:
    Banyak klise terdengar bijak tetapi sebenarnya kosong secara logika.
  6. Lawan dengan elaborasi dan detail:
    Jelaskan mengapa masalah tersebut tidak bisa diselesaikan dengan frasa sederhana.
  7. Gunakan pendekatan Socratic questioning:
    Tanyakan alasan di balik alasan, sehingga klise tidak dapat bertahan.

Referensi

  • Lifton, R. J. (1961). Thought Reform and the Psychology of Totalism. W. W. Norton & Company.
  • Cialdini, R. (2007). Influence: The Psychology of Persuasion. Harper Business.
  • Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow. Farrar, Straus and Giroux.
  • Ellul, J. (1965). Propaganda: The Formation of Men’s Attitudes. Vintage Books.
  • Baron, J. (2008). Thinking and Deciding. Cambridge University Press.

Citation

Previous Article

Texas Sharpshooter Fallacy

Next Article

Tu Quoque Fallacy

Citation copied!