Sunk Cost Fallacy

Dipublikasikan: 3 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 3 Desember 2025

Raymond Kelvin Nando Sunk Cost Fallacy adalah kesalahan penalaran ketika seseorang terus melanjutkan suatu tindakan, proyek, atau keputusan hanya karena sudah menginvestasikan waktu, uang, tenaga, atau emosi di masa lalu—meskipun tindakan tersebut tidak lagi rasional atau menguntungkan. Alih-alih menilai pilihan berdasarkan manfaat masa depan, orang terjebak pada investasi yang sudah tidak bisa dikembalikan (sunk cost), sehingga keputusan menjadi tidak objektif.

Pengertian Sunk Cost Fallacy

Sunk Cost Fallacy adalah informal fallacy dan bias kognitif di mana seseorang mempertahankan komitmen pada sesuatu karena tidak ingin “merasa rugi” atas apa yang telah dikeluarkan sebelumnya.
Padahal, secara ekonomi dan logika, biaya masa lalu tidak boleh mempengaruhi keputusan masa depan; yang relevan hanyalah keuntungan dan kerugian ke depan (future costs and benefits).

Fallacy ini sering muncul dalam:

  • Proyek bisnis yang gagal.
  • Hubungan interpersonal yang toksik.
  • Kebijakan pemerintah yang tidak efektif.
  • Hobi atau pembelian mahal.
  • Pendidikan atau karier yang sebenarnya tidak sesuai.

Ciri-ciri umum:

  • Kesulitan menerima kerugian.
  • Takut terlihat salah atau gagal.
  • Fokus pada “sudah terlanjur” alih-alih potensi masa depan.
  • Emosi mengalahkan rasionalitas.
  • Keyakinan bahwa berhenti = membuang investasi sebelumnya.

Contoh Sunk Cost Fallacy

  1. Dalam bisnis:
    Perusahaan terus mendanai proyek yang jelas-jelas tidak menghasilkan profit, hanya karena sudah menghabiskan miliaran sebelumnya.
  2. Dalam hubungan pribadi:
    “Aku sudah bersama dia selama 7 tahun. Masa iya aku putus sekarang?”
    → Lama waktu investasinya tidak relevan jika hubungan itu tidak sehat.
  3. Dalam pendidikan:
    Seseorang bertahan di jurusan yang tidak disukai karena merasa “sayang sudah semester 5,” meskipun prospek masa depannya buruk.
  4. Dalam hiburan:
    Melanjutkan film/buku yang membosankan karena sudah menonton setengahnya.
  5. Dalam kebijakan pemerintah:
    Pemerintah mempertahankan proyek infrastruktur yang cacat demi terlihat konsisten dan menghindari kritik publik.
Orang lain juga membaca :  Suppressed Evidence Fallacy

Cara Mengatasi Sunk Cost Fallacy

  1. Fokus pada masa depan, bukan masa lalu:
    Tanyakan: “Jika saya belum menginvestasikan apa pun, apakah saya tetap memilih ini?”
  2. Evaluasi manfaat dan biaya ke depan:
    Hanya faktor masa depan yang relevan untuk keputusan rasional.
  3. Terima kerugian yang sudah terjadi:
    Kerugian masa lalu tidak dapat diubah, sehingga tidak boleh mempengaruhi keputusan sekarang.
  4. Pisahkan emosi dari keputusan:
    Perhatikan apakah keputusan hanya untuk menghindari rasa bersalah atau malu.
  5. Gunakan prinsip opportunity cost:
    Bandingkan pilihan yang ada dan apa yang hilang jika tetap melanjutkan pilihan yang buruk.
  6. Ambil keputusan berbasis data, bukan ego:
    Keberanian untuk berhenti sering lebih rasional daripada terus memaksa.
  7. Buat evaluasi berkala:
    Tetapkan titik evaluasi objektif pada proyek panjang agar tidak terjebak “terlanjur jauh.”

Referensi

  • Arkes, H. R., & Blumer, C. (1985). The Psychology of Sunk Cost. Organizational Behavior and Human Decision Processes.
  • Thaler, R. (2015). Misbehaving: The Making of Behavioral Economics. W. W. Norton & Company.
  • Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow. Farrar, Straus and Giroux.
  • Tversky, A. & Kahneman, D. (1981). The Framing of Decisions and the Psychology of Choice. Science.
  • Hal R. Arkes (1996). The Consequences of the Sunk Cost Fallacy.

Citation

Previous Article

Suppressed Evidence Fallacy

Next Article

Texas Sharpshooter Fallacy

Citation copied!