Reification Fallacy

Dipublikasikan: 3 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 3 Desember 2025

Raymond Kelvin Nando Reification Fallacy adalah kekeliruan berpikir ketika seseorang memperlakukan konsep abstrak seolah-olah ia adalah entitas konkret, fisik, atau memiliki kehendak dan kemampuan bertindak. Kesalahan ini muncul ketika ide, kategori, atau konstruksi mental dipersonifikasi dan dianggap sebagai benda nyata yang memiliki agen, niat, atau kekuatan causal. Reification sering muncul dalam bahasa sehari-hari, metafisika, ilmu sosial, ideologi, dan retorika politik, karena manusia cenderung mengonkritkan hal-hal abstrak untuk memudahkan pemahaman.

Pengertian Reification Fallacy

Reification Fallacy (atau hypostatization fallacy) adalah informal fallacy yang terjadi ketika seseorang menganggap sesuatu yang abstrak sebagai sesuatu yang nyata secara material, atau memperlakukan konsep sebagai objek fisik atau pelaku yang memiliki niat.
Kesalahan ini muncul karena kecenderungan kognitif untuk memvisualisasikan atau memberi agen pada konsep abstrak sehingga terasa lebih mudah dicerna.

Ciri-ciri Reification Fallacy:

  • Memperlakukan konsep non-fisik seperti “masyarakat”, “alam”, atau “sistem” sebagai pelaku yang dapat membuat keputusan.
  • Menganggap variabel konseptual (misal: “kecerdasan”) sebagai benda dengan wujud konkret.
  • Mengatribusikan kehendak, niat, atau kekuatan sebab-akibat pada abstraksi.
  • Mengambil metafora secara literal.
  • Sering digunakan untuk retorika yang memanipulasi emosi atau menggampangkan fenomena kompleks.

Secara filosofis, reifikasi dikritik karena mengaburkan realitas: apa yang seharusnya dipahami sebagai konstruksi konsep malah dianggap sebagai benda yang benar-benar ada.

Contoh Reification Fallacy

  1. Dalam pembahasan moral atau sosial:
    “Masyarakat memutuskan bahwa perilaku itu salah.”
    → “Masyarakat” tidak memiliki kehendak tunggal; keputusan dibuat oleh individu atau kelompok.
  2. Dalam politik:
    “Sejarah akan menghakimi kita.”
    → Sejarah adalah catatan kejadian, bukan agen moral yang menilai.
  3. Dalam psikologi populer:
    “Kecemasan mengambil alih saya dan memaksa saya berhenti.”
    → Kecemasan adalah kondisi mental, bukan entitas yang bertindak.
  4. Dalam sains semu:
    “Evolusi menginginkan spesies menjadi lebih kuat.”
    → Evolusi tidak memiliki niat; ia adalah proses alami tanpa tujuan.
Orang lain juga membaca :  Ignoring a Common Cause Fallacy

Cara Mengatasi Reification Fallacy

  1. Pisahkan konsep dari objek fisik:
    Periksa apakah sesuatu yang disebut sebagai pelaku sebenarnya adalah abstraksi atau kategori.
  2. Ubah struktur bahasa:
    Alih-alih “Masyarakat menindas kita,” gunakan “Kelompok tertentu dalam masyarakat menindas…”.
  3. Cari agen nyata:
    Tanyakan: siapa sebenarnya yang melakukan tindakan itu? Individu? Institusi? Mekanisme?
  4. Waspadai metafora yang dianggap literal:
    Banyak pernyataan retoris tampak masuk akal karena metafora, bukan logika.
  5. Gunakan terminologi spesifik:
    Sebutkan variabel, proses, atau individu yang benar-benar terlibat.
  6. Kenali motivasi retoris:
    Reifikasi sering digunakan untuk memperkuat argumen politik atau ideologis tanpa bukti.

Referensi

  • Tindale, C. W. (2007). Fallacies and Argument Appraisal. Cambridge University Press.
  • Raymond, S. (2019). The Power of Metaphor in Argumentation. Routledge.
  • Searle, J. R. (1995). The Construction of Social Reality. Free Press.
  • Dennett, D. (1987). The Intentional Stance. MIT Press.
  • Copi, I. M., Cohen, C., & McMahon, K. (2016). Introduction to Logic. Routledge.

Citation

Previous Article

Regression Fallacy

Next Article

Relative Privation Fallacy

Citation copied!