Oversimplification Fallacy

Dipublikasikan: 3 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 3 Desember 2025

Raymond Kelvin Nando Oversimplification Fallacy adalah kesalahan berpikir yang terjadi ketika seseorang menjelaskan suatu fenomena kompleks dengan penjelasan yang terlalu sederhana, mengabaikan faktor-faktor penting yang turut memengaruhi keadaan sebenarnya. Fallacy ini sering muncul dalam isu sosial, politik, ekonomi, sains, hingga pembahasan moral, karena banyak orang cenderung memilih jawaban sederhana untuk masalah yang rumit. Meskipun penjelasan sederhana kadang membantu, namun jika penyederhanaan menghilangkan elemen penting atau menyesatkan, maka itu menjadi oversimplification. Misalnya, mengklaim bahwa “kemiskinan terjadi karena orang malas” menghapus seluruh faktor struktural, ekonomi, dan historis yang relevan.

Pengertian Oversimplification Fallacy

Oversimplification Fallacy, atau reductive fallacy, merupakan informal logical fallacy di mana seseorang memberikan penjelasan yang terlalu dangkal, satu dimensi, atau linier untuk fenomena kompleks. Fallacy ini terjadi ketika:

  1. Faktor relevan diabaikan,
  2. Perbedaan konteks disamaratakan,
  3. Sebab-akibat disederhanakan,
  4. Kompleksitas ditolak demi narasi yang lebih mudah dipahami.

Walaupun penyederhanaan diperlukan untuk komunikasi, oversimplification menjadi fallacy ketika kesederhanaannya menghasilkan kesimpulan yang salah atau menyesatkan.

Fallacy ini sering ditemui dalam:

  • debat politik,
  • opini publik di media sosial,
  • wacana pendidikan,
  • analisis ekonomi,
  • retorika aktivisme,
  • pembingkaian media,
  • penjelasan moral dan psikologis.

Penyederhanaan berlebihan biasanya muncul karena keinginan untuk:

  • mempermudah narasi,
  • memenangkan argumen,
  • memicu respons emosional,
  • menghindari penjelasan teknis,
  • membenarkan pandangan ideologis tertentu.

Contoh Oversimplification Fallacy

  1. Isu sosial:
    “Kejahatan meningkat karena pendidikan buruk.”
    → Mengabaikan faktor ekonomi, kebijakan, lingkungan sosial, hingga akses lapangan kerja.
  2. Politik:
    “Negara itu miskin karena pemerintahnya korup.”
    → Meskipun korupsi relevan, penyebab kemiskinan mencakup sejarah kolonial, kondisi geografis, pasar global, dan lainnya.
  3. Sains:
    “Obesitas hanya terjadi karena makan terlalu banyak.”
    → Menyederhanakan faktor genetika, psikologi, hormon, lingkungan makanan, stress, dan ekonomi.
  4. Pendidikan:
    “Anak ini nilai matematikanya buruk karena dia malas.”
    → Mengabaikan gaya belajar, akses pendidikan, kesehatan mental, kualitas guru, dan variabel lain.
  5. Ekonomi:
    “Pengangguran terjadi karena orang tidak mau bekerja.”
    → Menghapus realitas pasar tenaga kerja, mismatch keterampilan, kebijakan negara, dan kondisi industri.
  6. Hubungan personal:
    “Dia tidak membalas pesan karena dia tidak peduli.”
    → Bisa saja karena sibuk, sakit, terbebani, atau alasan teknis.
Orang lain juga membaca :  Black-or-White Fallacy

Fallacy ini bekerja dengan mengurangi kerumitan dunia nyata menjadi satu penyebab tunggal yang tampak menarik, tetapi tidak akurat.

Cara Mengatasi Oversimplification Fallacy

Untuk menghindari penyederhanaan yang menyesatkan, gunakan langkah-langkah berikut:

  1. Identifikasi kompleksitas masalah:
    Tanyakan: “Faktor apa saja yang memungkinkan berperan di sini?”
  2. Gunakan analisis multi-faktor:
    Masalah sosial, ekonomi, dan biologis hampir selalu memiliki banyak penyebab.
  3. Waspadai penjelasan satu-satunya:
    Klaim yang menyalahkan satu faktor untuk fenomena besar biasanya tidak akurat.
  4. Periksa apakah detail penting hilang:
    Jika penjelasan terlalu mudah untuk masalah rumit, kemungkinan besar fallacy.
  5. Cari konteks lebih luas:
    Lihat data, latar belakang sejarah, dan kondisi yang menyelimuti fenomena.
  6. Gabungkan perspektif berbeda:
    Diskusi ahli dari berbagai bidang (ekonomi, psikologi, sosiologi, dsb.) dapat membantu melengkapi gambaran.
  7. Gunakan bahasa probabilistik:
    “Salah satu faktor,” “cenderung,” “sering kali,” lebih akurat daripada “hanya karena.”

Referensi

  • Damer, T. E. (2012). Attacking Faulty Reasoning (7th ed.). Cengage Learning.
  • Walton, D. (2008). Informal Logic: A Pragmatic Approach. Cambridge University Press.
  • Tindale, C. W. (2007). Fallacies and Argument Appraisal. Cambridge University Press.
  • Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow. Farrar, Straus and Giroux.
  • Tetlock, P. E. (2005). Expert Political Judgment: How Good Is It? How Can We Know? Princeton University Press.

Citation

Previous Article

Ibnu Qudamah – Al-Mughni (Jilid 1-16) Terjemahan [PDF]

Next Article

Post Hoc Fallacy

Citation copied!