Overgeneralization Fallacy

Dipublikasikan: 2 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 2 Desember 2025

Raymond Kelvin Nando Overgeneralization Fallacy adalah kesalahan berpikir yang terjadi ketika seseorang menarik kesimpulan luas dari bukti yang terbatas, tidak representatif, atau bersifat anekdot. Fallacy ini sering digunakan untuk menciptakan stereotip, asumsi sosial yang keliru, kesimpulan emosional, dan klaim sweeping yang tidak didukung data. Misalnya, jika seseorang pernah ditipu oleh satu orang dalam profesi tertentu, lalu menyimpulkan “semua orang dalam profesi itu tidak jujur,” maka ia sedang melakukan overgeneralization. Fallacy ini berbahaya karena memperkuat bias, propaganda, dan prasangka dalam masyarakat.

Pengertian Overgeneralization Fallacy

Overgeneralization Fallacy, dikenal juga sebagai sweeping generalization atau exaggerated generalization, adalah informal logical fallacy yang terjadi ketika seseorang menggunakan sampel yang terlalu kecil atau kasus tunggal untuk membuat klaim universal. Kesalahan ini terjadi karena seseorang menganggap satu atau beberapa contoh dapat mewakili keseluruhan kelompok, padahal datanya tidak memadai.

Ciri utama overgeneralization meliputi:

  1. Kesimpulan terlalu luas berdasarkan sedikit bukti.
  2. Penggunaan kata-kata absolut, seperti “semua…”, “tidak ada…”, “selalu…”, “tidak pernah…”.
  3. Mengandalkan pengalaman pribadi sebagai bukti yang cukup.
  4. Penyederhanaan berlebihan terhadap realitas sosial yang kompleks.

Overgeneralization berkaitan dengan bias kognitif seperti availability heuristic, confirmation bias, dan representativeness heuristic, yang membuat orang percaya bahwa contoh kecil dapat mewakili keseluruhan fenomena.

Fallacy ini sering muncul dalam:

  • percakapan sehari-hari,
  • politik dan propaganda,
  • media sosial,
  • pemberitaan sensasional,
  • konflik antar kelompok,
  • pendidikan dan psikolinguistik,
  • diskusi moral.

Contoh Overgeneralization Fallacy

  1. Pengalaman pribadi:
    “Aku pernah kecewa dengan pelayanan restoran Jepang. Berarti semua restoran Jepang tidak ramah.”
  2. Stereotip sosial:
    “Anak muda zaman sekarang malas semuanya.”
    → Berdasarkan observasi kecil, padahal variasinya sangat luas.
  3. Situasi akademik:
    “Dia salah menjawab soal matematika. Dia pasti buruk di semua mata pelajaran.”
  4. Media sosial:
    “Ada satu influencer dari kota itu yang berperilaku kasar. Kota itu memang isinya orang tidak sopan.”
  5. Hubungan interpersonal:
    “Dia terlambat sekali. Pasti dia selalu tidak bisa diandalkan.”
  6. Politik:
    “Politisi dari partai tersebut pernah korupsi. Berarti semua anggota partai itu korup.”
  7. Budaya pop dan fandom:
    “Fans grup itu toxic semua.”
    → Berdasarkan interaksi dengan segelintir orang.
Orang lain juga membaca :  False Analogy Fallacy

Overgeneralization hampir selalu tampak meyakinkan karena memanfaatkan respon emosional dan pola berpikir cepat (System 1 thinking).

Cara Mengatasi Overgeneralization Fallacy

Beberapa teknik efektif untuk menghindari dan mendeteksi fallacy ini:

  1. Periksa ukuran sampel:
    Tanyakan: “Apakah contoh ini cukup representatif untuk kesimpulan sebesar itu?”
  2. Hindari kata absolut:
    Gantilah “selalu,” “semua,” atau “tidak pernah” dengan istilah yang lebih moderat seperti “sering,” “sebagian,” atau “terkadang.”
  3. Cari data tambahan:
    Gunakan bukti empiris, survei, atau penelitian, bukan pengalaman anekdot.
  4. Gunakan prinsip variasi:
    Ingat bahwa kelompok sosial atau fenomena selalu memiliki perbedaan internal.
  5. Sadari bias kognitif:
    Terutama confirmation bias yang membuat kita cenderung mencari bukti yang mendukung kesimpulan luas.
  6. Latih berpikir probabilistik:
    Gunakan frasa seperti “kemungkinan,” “cenderung,” atau “dalam beberapa kasus.”
  7. Evaluasi konteks:
    Satu contoh tidak bisa mewakili keseluruhan tanpa mempertimbangkan faktor situasional.
  8. Ajukan pertanyaan reflektif:
    Misalnya: “Apakah saya menyimpulkan terlalu jauh dari contoh kecil?”

Referensi

  • Damer, T. E. (2012). Attacking Faulty Reasoning (7th ed.). Cengage Learning.
  • Walton, D. (2008). Informal Logic: A Pragmatic Approach. Cambridge University Press.
  • Tindale, C. W. (2007). Fallacies and Argument Appraisal. Cambridge University Press.
  • Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow. Farrar, Straus and Giroux.
  • Nickerson, R. S. (1998). Confirmation bias: A ubiquitous phenomenon. Review of General Psychology, 2(2), 175–220.

Citation

Previous Article

One-Sidedness Fallacy

Next Article

Zine Liar - Perempuan dan Dominasi Senioritas, Komedi Arogansi, dan Luka

Citation copied!