One-Sidedness Fallacy

Dipublikasikan: 2 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 2 Desember 2025

Raymond Kelvin Nando One-Sidedness Fallacy adalah kesalahan berpikir yang terjadi ketika seseorang hanya mempertimbangkan satu sisi dari argumen, isu, atau bukti, sembari mengabaikan sisi lain yang relevan. Fallacy ini sering muncul dalam debat publik, politik, hukum, penelitian ilmiah, hingga jurnalisme, di mana penyampaian informasi dibuat seolah-olah satu sudut pandang sepenuhnya benar hanya karena sisi lain tidak diungkapkan. Kesalahan ini tidak selalu disengaja; dapat muncul dari bias konfirmasi, keterbatasan pengetahuan, atau selektivitas emosional. Namun, ketika digunakan secara retoris, fallacy ini dapat menjadi alat manipulatif untuk menggiring opini atau menekan kompleksitas isu.

Pengertian One-Sidedness Fallacy

One-Sidedness Fallacy, atau fallacy of incomplete evidence, adalah informal fallacy yang terjadi ketika argumen hanya menyajikan bukti, contoh, atau alasan yang mendukung kesimpulan tertentu, sambil mengabaikan bukti penting yang berpotensi melemahkan atau menentang kesimpulan tersebut.

Fallacy ini berkaitan erat dengan:

  • Cherry-picking evidence (pemilihan bukti secara selektif),
  • Bias konfirmasi,
  • Suppressed evidence (penghilangan bukti),
  • Oversimplification (penyederhanaan berlebihan).

Pada dasarnya, seseorang bukan hanya membangun argumen yang bias, tetapi juga menghilangkan bagian realitas yang tidak nyaman bagi narasi mereka.

Fallacy ini sering muncul ketika:

  • Informasi disampaikan secara parsial untuk mendukung agenda.
  • Analisis ilmiah hanya memakai data yang “cocok.”
  • Media menyoroti sisi sensasional tanpa konteks.
  • Individu menilai orang atau situasi berdasarkan satu aspek saja.

Contoh One-Sidedness Fallacy

  1. Politik:
    “Kandidat ini selalu gagal membuat kebijakan yang tepat.”
    → Argumen tersebut mengabaikan kebijakan lain yang mungkin berhasil atau berdampak positif.
  2. Kesehatan dan nutrisi:
    “Gula itu buruk karena menyebabkan obesitas.”
    → Mengabaikan fakta bahwa konsumsi berlebihan, pola makan keseluruhan, dan aktivitas fisik juga berperan.
  3. Media dan jurnalisme:
    Sebuah berita hanya menampilkan video kekacauan dalam demonstrasi, tetapi mengabaikan konteks bahwa 95% aksi berlangsung damai.
  4. Hubungan interpersonal:
    “Dia orang jahat. Lihat saja dia meninggalkan grup.”
    → Tanpa mempertimbangkan penyebab, misalnya stres, konflik personal sehat, atau alasan profesional.
  5. Penelitian ilmiah:
    Sebuah laporan tentang efektivitas obat hanya memuat hasil positif dan menyingkirkan data efek samping yang signifikan.
Orang lain juga membaca :  Ignoratio Elenchi

Dalam semua contoh ini, argumen tampak kuat hanya karena bagian realitas yang tidak menguntungkan dihilangkan.

Cara Mengatasi One-Sidedness Fallacy

Untuk menghindari terjebak atau menggunakan fallacy ini, langkah berikut dapat diterapkan:

  1. Cari bukti dari kedua sisi:
    Tanyakan: “Apa bukti yang berlawanan?” atau “Apa yang tidak dikatakan di sini?”
  2. Uji argumen dengan prinsip falsifikasi:
    Argumen yang kuat harus mampu menghadapi data yang tidak mendukung.
  3. Hindari generalisasi dari satu sumber:
    Gunakan berbagai sudut pandang, terutama ketika membahas isu publik atau sosial.
  4. Kenali bias diri:
    Bias konfirmasi membuat kita cenderung melihat bukti yang mendukung keyakinan, bukan yang melemahkannya.
  5. Gunakan standar analisis komprehensif:
    Dalam penelitian, pastikan seluruh data—baik yang mendukung maupun yang bertentangan—dibahas secara seimbang.
  6. Perhatikan retorika selektif:
    Jika argumen terlalu “sempurna,” sering kali itu tanda bahwa bagian penting sedang dihilangkan.

Referensi

  • Damer, T. E. (2012). Attacking Faulty Reasoning (7th ed.). Cengage Learning.
  • Walton, D. (2008). Informal Logic: A Pragmatic Approach. Cambridge University Press.
  • Tindale, C. W. (2007). Fallacies and Argument Appraisal. Cambridge University Press.
  • Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow. Farrar, Straus and Giroux.
  • Nickerson, R. S. (1998). Confirmation bias: A ubiquitous phenomenon. Review of General Psychology, 2(2), 175–220.

Citation

Previous Article

No True Scotsman Fallacy

Next Article

Overgeneralization Fallacy

Citation copied!