Dipublikasikan: 20 September 2025
Terakhir diperbarui: 17 November 2025
Dipublikasikan: 20 September 2025
Terakhir diperbarui: 17 November 2025
Raymond Kelvin Nando — George Berkeley adalah seorang filsuf asal Irlandia yang dikenal melalui gagasannya tentang immaterialism dan prinsip esse est percipi.
Daftar Isi
George Berkeley lahir pada 12 Maret 1685 di County Kilkenny, Irlandia. Ia menempuh pendidikan di Trinity College, Dublin, dan kemudian menjadi tokoh penting dalam tradisi filsafat modern. Pemikirannya berkembang pesat sejak usia muda, dan ia menulis sejumlah karya yang sangat berpengaruh.
“Esse est percipi” adalah prinsip dasar dari immaterialism yang menegaskan bahwa keberadaan benda hanya ada sejauh benda itu dipersepsi. (A Treatise Concerning the Principles of Human Knowledge, 1710, hlm. 45)
Dalam doktrin immaterialism, Berkeley menolak gagasan bahwa materi memiliki eksistensi independen. Menurutnya, segala sesuatu yang kita sebut sebagai ‘benda’ hanyalah kumpulan ide dalam pikiran, dan tanpa persepsi, tidak ada keberadaan yang nyata.
“Keberadaan setiap hal bergantung pada ia dipersepsi oleh subjek yang sadar.” (Three Dialogues between Hylas and Philonous, 1713, hlm. 62)
Prinsip ini menegaskan inti dari filsafat Berkeley. Tidak ada realitas eksternal yang berdiri sendiri; keberadaan ditentukan oleh kesadaran yang mempersepsi. Prinsip ini membuat Berkeley berlawanan dengan kaum materialis pada zamannya.
“Semua yang saya ketahui tentang dunia ini, saya ketahui melalui persepsi.” (A Treatise Concerning the Principles of Human Knowledge, 1710, hlm. 88)
Bagi Berkeley, persepsi adalah pintu utama dalam memahami realitas. Persepsi bukan hanya media pasif, melainkan sarana yang menentukan ada atau tidaknya sesuatu. Tanpa persepsi, realitas kehilangan status ontologisnya.
“Dalam ketiadaan manusia yang mempersepsi, Tuhanlah yang menjaga keberlangsungan eksistensi dunia.” (Alciphron, 1732, hlm. 134)
Berkeley menjelaskan bahwa jika segala sesuatu bergantung pada persepsi, maka keberadaan dunia ketika tidak dipersepsi oleh manusia dijamin oleh persepsi Tuhan. Dengan demikian, pikiran ilahi menjadi penjamin keberlangsungan realitas.
“Kata-kata adalah tanda yang dirancang bukan untuk menimbulkan ide, melainkan untuk membangkitkan tindakan.” (Alciphron, 1732, hlm. 201)
Bagi Berkeley, bahasa tidak hanya sebagai sarana komunikasi ide, melainkan juga memiliki fungsi pragmatis. Kata-kata dapat mengarahkan perilaku, membentuk pola pikir, dan memberi makna baru dalam konteks sosial maupun religius.
“Pengetahuan sejati tidak lain adalah hasil dari ide-ide yang jelas dan nyata dalam pikiran.” (A Treatise Concerning the Principles of Human Knowledge, 1710, hlm. 97)
Dalam bidang epistemologi, Berkeley menekankan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman indrawi. Namun, ia menggabungkannya dengan prinsip metafisik bahwa pengetahuan tersebut dijamin konsistensinya oleh Tuhan.
“Materi adalah fiksi; hanya ide-ide dalam pikiran yang benar-benar ada.” (Three Dialogues between Hylas and Philonous, 1713, hlm. 120)
Pandangan metafisik Berkeley menolak keberadaan substansi materi. Realitas adalah kumpulan ide-ide yang ada dalam pikiran manusia maupun pikiran ilahi. Dengan demikian, metafisika Berkeley berakar pada spiritualisme murni.
“Prinsip moral yang benar adalah yang mengarahkan manusia menuju kebaikan universal di bawah pengawasan Tuhan.” (Alciphron, 1732, hlm. 289)
Dalam bidang etika, Berkeley melihat bahwa moralitas berkaitan erat dengan agama. Etika baginya adalah refleksi dari kehendak Tuhan, dan tujuan akhir dari tindakan manusia adalah mencapai kebaikan bersama sesuai dengan hukum ilahi.
“Berkeley membawa empirisme pada titik ekstrim dengan menolak keberadaan materi.” (Sejarah Filsafat Modern, hlm. 211)
Berkeley dianggap sebagai penerus Locke, tetapi ia menolak ide substansi material. Dengan demikian, ia memberikan fondasi bagi kritik empirisme yang lebih lanjut oleh David Hume.
“Jika materi benar-benar ada, tunjukkan bukti keberadaannya di luar persepsi.” (Three Dialogues between Hylas and Philonous, 1713, hlm. 56)
Berkeley mengkritik kaum materialis dengan cara menunjukkan bahwa konsep materi independen tidak pernah dapat diverifikasi. Semua pengalaman manusia adalah pengalaman perseptual, bukan realitas objektif yang mandiri.
“Konsep realitas virtual modern memiliki kesamaan mengejutkan dengan immaterialism Berkeley.” (Filsafat dan Teknologi, hlm. 75)
Banyak pemikir kontemporer melihat gagasan Berkeley relevan dengan dunia digital. Realitas virtual misalnya, seolah-olah membenarkan pandangan bahwa eksistensi adalah konstruksi perseptual.
George Berkeley adalah seorang filsuf Irlandia yang dikenal sebagai tokoh utama dalam tradisi empirisme modern, terutama melalui doktrin immaterialism dan prinsip esse est percipi.
Immaterialism adalah doktrin Berkeley yang menyatakan bahwa materi tidak memiliki eksistensi independen; semua keberadaan adalah persepsi (esse est percipi).
Prinsip esse est percipi berarti “ada adalah dipersepsi”, menekankan bahwa keberadaan benda tergantung pada kesadaran yang mempersepsinya.