Nirvana Fallacy

Dipublikasikan: 2 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 2 Desember 2025

Raymond Kelvin Nando Nirvana Fallacy adalah kesalahan logika yang terjadi ketika seseorang menolak suatu solusi realistis hanya karena solusi tersebut tidak sempurna, kemudian membandingkannya dengan solusi ideal yang mustahil atau tidak dapat dicapai. Fallacy ini sering muncul dalam debat kebijakan publik, ekonomi, lingkungan hidup, teknologi, kesehatan, hingga diskusi moral, karena manusia cenderung mengidealkan “kesempurnaan” sebagai standar penilaian. Misalnya, seseorang mungkin menolak kebijakan pengurangan emisi karena kebijakan tersebut “tidak bisa menghilangkan emisi sepenuhnya,” meskipun kebijakan tersebut secara nyata mengurangi risiko. Kesalahan ini berbahaya karena dapat menggagalkan solusi praktis, menghambat inovasi, dan menyebabkan pengambilan keputusan yang tidak rasional hanya karena kesempurnaan dianggap satu-satunya standar penerimaan.

Pengertian Nirvana Fallacy

Nirvana Fallacy, atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai “Kesalahan Logika Nirwana,” adalah kesalahan berpikir yang muncul ketika seseorang membandingkan solusi praktis dan realistis dengan solusi ideal yang sempurna, lalu menolak solusi realistis tersebut karena dianggap kurang baik daripada versi ideal. Padahal, solusi ideal biasanya tidak dapat dicapai, tidak praktis, atau bahkan hanya bersifat imajiner.

Fallacy ini termasuk dalam kategori informal fallacy dan memiliki akar kuat dalam psikologi manusia yang cenderung mengharapkan hasil sempurna. Ciri khasnya meliputi:

  1. Menilai solusi realistis sebagai tidak cukup baik karena tidak sempurna.
  2. Membandingkan hal yang mungkin dicapai dengan hal yang mustahil.
  3. Mengabaikan manfaat signifikan dari solusi praktis yang tidak ideal.
  4. Menggunakan kesempurnaan sebagai standar mutlak dalam pengambilan keputusan.

Fallacy ini sering muncul dalam:

  • Kebijakan Publik: Menolak kebijakan baik hanya karena tidak memberikan hasil sempurna.
  • Lingkungan Hidup: Mengkritik langkah bertahap karena tidak menyelesaikan masalah secara total.
  • Teknologi & Inovasi: Menolak teknologi bermanfaat hanya karena memiliki kekurangan kecil.
  • Diskusi Moral & Etika: Mengidealkan moralitas sempurna sehingga tindakan baik dianggap tidak cukup.
  • Ekonomi & Manajemen: Mengharapkan solusi tanpa biaya, tanpa risiko, dan tanpa kompromi.
Orang lain juga membaca :  Argument from Incredulity

Secara psikologis, fallacy ini berkaitan dengan perfectionist bias, yaitu kecenderungan menilai sesuatu berdasarkan ideal sempurna yang tidak realistis.

Contoh Nirvana Fallacy

Berikut beberapa ilustrasi nyata mengenai kesalahan ini:

  1. Lingkungan Hidup:
    Menolak energi terbarukan karena “tidak bisa memenuhi seluruh kebutuhan energi secara total sekarang juga,” padahal teknologi tersebut mampu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil secara signifikan.
  2. Kesehatan & Pengobatan:
    “Jangan pakai vaksin ini karena tidak memberikan perlindungan 100%.”
    Padahal vaksin dengan efektivitas 70–95% sangat mengurangi tingkat infeksi dan kematian.
  3. Kebijakan Publik:
    Menolak program bantuan sosial karena “tidak bisa menghilangkan kemiskinan sepenuhnya,” meskipun program tersebut terbukti mengurangi kemiskinan secara substansial.
  4. Teknologi Transportasi:
    Menolak mobil listrik karena “masih menghasilkan emisi dalam proses produksi baterai,” padahal emisinya jauh lebih kecil dibanding mobil berbahan bakar fosil sepanjang masa penggunaan.
  5. Keselamatan Kerja:
    Menolak sistem keamanan baru karena “tidak bisa mencegah semua kecelakaan,” meskipun dapat mengurangi risiko kecelakaan lebih dari 80%.
  6. Debat Etika:
    Mengatakan bahwa “kesetaraan gender tidak berhasil karena masih ada diskriminasi,” padahal kebijakan tersebut terbukti memperbaiki struktur sosial secara signifikan dibanding generasi sebelumnya.

Cara Mengatasi Nirvana Fallacy

Berikut langkah-langkah praktis untuk mencegah atau mengatasi Nirvana Fallacy:

  1. Gunakan Prinsip “Better Than Before”:
    Nilai apakah solusi memberi perbaikan signifikan, bukan apakah solusi itu sempurna.
  2. Bedakan antara Ideal dan Realistis:
    Solusi ideal dapat menjadi arah, tetapi keputusan harus berdasarkan apa yang dapat dicapai sekarang.
  3. Evaluasi Biaya-Manfaat secara Objektif:
    Tanyakan: “Apakah manfaatnya cukup besar meskipun tidak sempurna?”
  4. Kenali Bias Perfeksionisme:
    Sadari kecenderungan menganggap bahwa jika tidak sempurna maka tidak layak.
  5. Gunakan Data sebagai Dasar Keputusan:
    Analisis empiris dapat menunjukkan bahwa solusi tidak sempurna tetap jauh lebih baik dibanding tidak ada solusi.
  6. Fokus pada Perbaikan Bertahap:
    Reformasi sering berhasil melalui langkah bertahap, bukan perubahan sempurna sekaligus.
Orang lain juga membaca :  Hasty Generalization Fallacy

Referensi

  • Bendor, J., & Hammond, T. H. (1992). Rethinking Allison’s models. American Political Science Review, 86(2), 301–322.
  • Sunstein, C. R. (2004). The cost-benefit revolution. MIT Press.
  • Gigerenzer, G. (2002). Bounded rationality: The adaptive toolbox. MIT Press.
  • Kahneman, D. (2011). Thinking, fast and slow. Farrar, Straus and Giroux.
  • Hardin, R. (2009). How do you know? The economics of ordinary knowledge. Princeton University Press.
  • Thaler, R. H., & Sunstein, C. R. (2008). Nudge: Improving decisions about health, wealth, and happiness. Yale University Press.
  • Walton, D. (2008). Informal logic: A pragmatic approach (2nd ed.). Cambridge University Press.

Citation

Previous Article

Neglect of Probability Fallacy

Next Article

No True Scotsman Fallacy

Citation copied!