Neglect of Probability Fallacy

Dipublikasikan: 2 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 2 Desember 2025

Raymond Kelvin Nando Neglect of Probability Fallacy adalah jenis kesalahan berpikir yang terjadi ketika seseorang mengabaikan besarnya kemungkinan atau probabilitas dari suatu peristiwa saat membuat keputusan atau penilaian. Alih-alih mempertimbangkan risiko nyata berdasarkan peluang matematis atau statistik, orang cenderung fokus pada ketakutan, intuisi, emosi, atau gambaran mental yang bias. Fallacy ini umum ditemukan dalam konteks ekonomi, kesehatan, manajemen risiko, kebijakan publik, hingga perilaku sehari-hari—misalnya seseorang lebih takut naik pesawat daripada mengendarai motor, padahal statistik menunjukkan risiko kecelakaan motor jauh lebih tinggi. Fenomena ini dapat menghasilkan keputusan yang tidak proporsional, salah sasaran, atau bahkan berbahaya karena tidak selaras dengan probabilitas faktual.

Pengertian Neglect of Probability Fallacy

Neglect of Probability Fallacy, atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai “Kesalahan Mengabaikan Probabilitas,” adalah kesalahan logika yang muncul ketika individu gagal mempertimbangkan tingkat kemungkinan suatu peristiwa, sehingga keputusan atau kesimpulan diambil tanpa mengacu pada data statistik atau probabilitas yang relevan.

Fallacy ini muncul karena manusia secara kognitif cenderung memakai heuristic, seperti availability heuristic atau affect heuristic, yang membuat orang menilai sesuatu berdasarkan kemudahan mengingat contoh emosional atau seberapa kuat dampak emosionalnya, bukan pada probabilitas aktual.

Ciri-cirinya:

  1. Mengabaikan angka probabilitas ketika mempertimbangkan risiko atau hasil suatu tindakan.
  2. Membesar-besarkan risiko rendah atau meremehkan risiko tinggi.
  3. Menggunakan intuisi emosional alih-alih analisis probabilistik.
  4. Sering muncul dalam situasi yang membutuhkan penilaian rasional mengenai risiko.

Fallacy ini muncul dalam:

  • Keuangan & Investasi: Salah menilai risiko kerugian berdasarkan rumor atau ketakutan.
  • Kesehatan & Medik: Menganggap efek samping langka sebagai ancaman utama.
  • Psikologi & Perilaku: Ketakutan irasional terhadap peristiwa yang sangat kecil kemungkinannya.
  • Pengambilan keputusan pemerintah: Salah memprioritaskan anggaran karena salah membaca skala risiko.
Orang lain juga membaca :  Reification Fallacy

Contoh Neglect of Probability Fallacy

Beberapa ilustrasi nyata dari kesalahan ini:

  1. Kesehatan Publik:
    Seseorang menolak vaksin karena takut efek samping yang hanya terjadi pada 0,0001% kasus, sementara kemungkinan terkena penyakit tanpa vaksin jauh lebih besar.
  2. Transportasi:
    Banyak orang takut terbang karena berita kecelakaan pesawat yang dramatis, padahal probabilitas kecelakaan pesawat sangat rendah dibanding kecelakaan mobil yang jauh lebih umum.
  3. Keuangan:
    Investor panik menjual saham karena rumor keruntuhan ekonomi, tanpa mempertimbangkan bahwa probabilitas keruntuhan total sangat rendah.
  4. Keselamatan Sehari-hari:
    Orang menghindari berenang di laut karena takut hiu, tetapi tidak khawatir mengemudi meskipun statistik menunjukkan risiko kecelakaan mobil jauh lebih tinggi.
  5. Kebijakan Publik:
    Pemerintah mengalokasikan anggaran besar untuk mengatasi risiko peristiwa langka tetapi mengabaikan risiko umum dengan probabilitas tinggi, seperti kecelakaan lalu lintas atau penyakit degeneratif.

Cara Mengatasi Neglect of Probability Fallacy

Untuk menghindari kesalahan ini, beberapa langkah berikut dapat diterapkan:

  1. Perhatikan angka probabilitas yang objektif:
    Gunakan statistik resmi, data ilmiah, atau perkiraan probabilistik yang kredibel.
  2. Gunakan analisis risiko:
    Evaluasi risiko berdasarkan peluang dan tingkat dampaknya secara bersamaan.
  3. Waspadai pengaruh emosional:
    Identifikasi apakah ketakutan atau imajinasi dramatis mengalahkan penalaran rasional.
  4. Gunakan perbandingan numerik:
    Misalnya membandingkan probabilitas 1:100 dengan 1:1.000.000 untuk menyadari perbedaan skala risiko.
  5. Latih literasi statistik:
    Kemampuan membaca grafik, angka probabilitas, dan tingkat risiko membantu mengambil keputusan lebih baik.
  6. Pisahkan kemungkinan dari konsekuensi:
    Peristiwa berkonsekuensi besar tidak selalu memiliki peluang besar terjadi. Perhatikan keduanya, bukan hanya salah satunya.

Referensi

  • Kahneman, D. (2011). Thinking, fast and slow. Farrar, Straus and Giroux.
  • Tversky, A., & Kahneman, D. (1974). Judgment under uncertainty: Heuristics and biases. Science, 185(4157), 1124–1131.
  • Gigerenzer, G. (2002). Calculated risks: How to know when numbers deceive you. Simon & Schuster.
  • Slovic, P. (2000). The perception of risk. Earthscan Publications.
  • Sunstein, C. R. (2005). Laws of fear: Beyond the precautionary principle. Cambridge University Press.
  • Mlodinow, L. (2008). The drunkard’s walk: How randomness rules our lives. Pantheon Books.
  • Huff, D. (1954). How to lie with statistics. W. W. Norton & Company.
Orang lain juga membaca :  Appeal to Emotion

Citation

Previous Article

Moving the Goalposts Fallacy

Next Article

Nirvana Fallacy

Citation copied!